Aku Akan Memaafkanmu, Besok

 

Di otakku sudah kusiapkan satu laci, atau lemari kalau perlu hanya untuk menyimpan alasan-alasan kenapa aku harus membenci dia. Tiap malam kuperiksa lemari itu, jangan sampai ada satu filepun yang terlupa, dan akan kutambahi satu atau dua file lagi.

Seperti hari ini, kuliah gelombang dan optik sedang berlangsung. Dosen juga asik menerangkan. Tapi dia, tanpa berdosa berbicara dengan sahabat-sahabatku, mereka tertawa, saling memukul pundak, lalu sibuk menggambar hal-hal konyol. Sementara aku duduk di pojok belakang, memukul-mukulkan bulpoinku ke meja dengan kasar.

Tak peduli meskipun cowok sebelah memandang aneh padaku.

Aku tak harus menyebutkan namanya ‘kan? Karena aku tak sudi. Ingin kusebut saja dia bajingan, bangsat atau apa saja. Tapi rasanya itu terlalu kasar. Lagipula aku wanita. Ralat. Gadis yang satu tahun lagi akan menjadi wanita.

Dia, satu tahun yang lalu sudah membuat aku menangis satu bulan. Aku menangis satu bulan dan air mataku tak habis-habis hanya untuknya dan laki-laki itu. Dia penggoda. Menggoda―mantan―laki-lakiku sampai aku putus dengannya.

Dia diantar jemput laki-laki sialan itu ke kampus. Duduk bersebelahan saat kuliah. Makan bersama di kantin. Dan parahnya, dia, laki-laki itu, dan sahabat-sahabatku pergi keluar kota bersama. Tanpa aku! Dia memang sialan.

Lebih sialannya lagi dia tak merasa kalau selama satu tahun lebih ini aku marah, benci, dendam padanya. Dengan entengnya dia menyapaku, mengajakku bergabung di acara kejutan untuk sahabatku yang ulang tahun. Ingin kukatakan padanya. Dia sahabatku! Bukan sahabatmu, kamu yang merebutnya dariku.

Ah, percuma. Dia tak akan peduli.

Kalau saja dia tidak punya IP di atas 3,5. Kalau saja dia bukan model yang sering seliweran di mana-mana. Kalau saja dia tidak kaya. Aku yakin, 1000% dia tidak akan punya teman.

Perlahan aku mundur dari sahabat-sahabatku. Hanya bisa menelan ludah saat mereka mengerjakan tugas bersama, lagi-lagi, tanpa aku. Mencari teman baru untuk kuajak sama-sama membencinya.

Ternyata banyak yang tak suka dengannya. Katanya, “Dia itu penggoda. Sukanya goda dosen-dosen. Sok kenal.”

Ya, aku setuju. Dia memang sering dekat dengan dosen. Bahkan waktu praktikum hanya dia saja yang diajari cara merangkai oleh dosen, yang lainnya hanya bisa bingung sendiri dan memilih tidur di kelas.

“Dia sok kecantikan. Mentang-mentang model.”

Benar! Aku makin menyukai suasana kelas ini. Toh dia jadi model hanya karena pacarnya yang sekarang fotografer. Dia tidak cantik-cantik amat. Hanya saja…

“Egois dia! Mentang-mentang pinter, nggak pernah mau ngajarin kita. Semuanya dikerjain sendiri, tau-tau ngumpulin paling dulu. Nggak peduli sama teman sendiri.”

Wah, wah. Kelas ini menakjubkan. Dia memang pintar, kerutan di otaknya jelas lebih banyak dariku. Tapi tetap saja, dia tidak pernah membagi apapun.

Meski banyak yang mendukungku tetap saja, sahabatku sudah diambil oleh dia. Mereka dihasut untuk tidak lagi dekat-dekat denganku.

Sampai suatu malam ketika tak sengaja aku melihat sinetron yang tokohnya anak SMA. Aku melihat adegan dimana si tokoh utama menyuruh pacarnya memilih, dia atau sahabatnya. Hm, rasanya bagus untuk dicoba.

Aku mengirimkan sms pada semua temanku, isinya kuperhalus dengan bahasa yang indah : Maaf ya kalau selama ini aku terkesan menjauh, aku nggak pengin kayak gitu. Tapi kalian tahu ‘kan kalau aku benci banget sama si ‘itu’ dekat-dekat sama dia hanya membuat aku mau mukul dia aja. Trims.

Dan itu mengena ke mereka. Paginya kita bicara serius. Salah satu temanku yang terkenal alim berkata, “Kamu nggak boleh gitu Sis, sesama muslim kalo sudah nggak saling sapa lebih dari tiga hari nanti nggak akan bisa mencium baunya surga.”

Kurasa untuk satu ini aku bisa menyanggahnya. Dia bukan muslim, hanya agamanya saja yang islam. Dia tidak pernah sholat, tidak pernah mengaji, dan tidak menutup aurotnya rapat-raat seperti kamu, kawan. Jadi, sah-sah saja kalau aku tidak menyapanya. Kurasa.

Lalu temanku yang aktif sekali di organisasi berkata, “Tuhan aja Maha pemaaf Sis, masa kamu nggak mau memaafkan.”

Yang satu ini dengan lantang akan kujawab. Aku bukan Tuhan! Aku ini manusia yang diciptakan Tuhan untuk punya rasa dendam, rasa marah. Lagipula, kenapa semuanya berbicara menyerempet dengan agama? Biar kuberitahu, nilai agamaku C jadi rasanya sudah cukup.

Dan temanku yang paling pintar satu angkatan bicara, “Sis, ini udah nggak sehat. Masalahnya udah lama, satu tahun. Lagian kamu dan dia udah punya sendiri-sendiri ‘kan?”

Tidak sehat dari mana? Ok, aku akui. Dekat-dekat dengannya saja sudah membuatku ingin mencakarnya, menjambak habis rambutnya, lalu kutendang perutnya yang ramping itu. Asal kalian tahu kawan, aku sempat punya ide untuk membunuhnya.

Caranya sederhana, kucekik dia dengan rambutnya sendiri yang sering ia gunakan untuk menggoda dosen-dosen itu lalu kutelanjangi dia. Kukunci mayatnya di kamar mandi laki-laki.

***

Lemari di otakku sudah penuh hari ini. Harus kusiapkan satu lemari tambahan untuknya. Kupikir, istimewa sekali dia mendapat jatah dua lemari. Jadi kuputuskan untuk menjejalkan semuanya ke satu lemari itu.

Hari ini aku terlambat, kuliah sudah hampir setengah jalan. Ketika aku masuk, hanya ada satu kursi kosong. Di sebelahnya. Ah, sinetron sekali hal ini.

Aku terpaksa duduk di sebelahnya, berkali-kali membenarkan posisi duduk seperti orang sakit perut. Tidak konsentrasi. Berusaha untuk tidak menatap wajahnya.

Sampai dosen mekanika itu memanggilku, menyuruhku untuk mengerjakan soal bekas dari temanku yang punya IP tertinggi seangkatan. Dia saja tak bisa mengerjakan, apalagi aku.

Aku sudah menyiapkan mental untuk dimarahi habis-habisan. Sudah kuhafal bagaimana cara dosenku itu marah, “Kalo gini aja nggak bisa nggak usah masuk fisika. Sana, mundur aja.” Rasanya, aku siap.

Kemudian dia menyodorkan bindernya padaku, “Nih, Nin. Aku udah ngerjain di rumah tadi.” Katanya lantas tersenyum.

Aku menerimanya. Melihat senyum memuakkan di wajahnya itu.

Kurasa aku akan memaafkannya. Tapi tidak hari ini. Mungkin besok.

Iklan

3 thoughts on “Aku Akan Memaafkanmu, Besok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s