Postulat Einstein (Juara 1 Lomba Cerpen Kawanku 2010)

Oktober 2009

Guru fisika berkumis tebal ini sungguh menyebalkan. Berkali-kali menjelaskan mengenai postulat Einstein yang tak kumengerti, “Kebenaran itu relatif. Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah.” Begitu ucapnya berulang kali.

Kalau begitu, aku tidak benar-benar salah ? begitu juga denganmu.

***

November 2009

Kita sama-sama diam tak bersuara. Meski aku duduk di ujung depan dan kamu di ujung belakang. Kita sama-sama tahu, meski tanpa surat bermaterai, bahwa mengeluarkan suara akan menghancurkan hidup kita. Cita-cita, keluarga, dan citra di mata umum dipertaruhkan. Kita sama-sama rugi.

Tapi setelah kuhitung-hitung. Kerugianmu hanya 0.5%. Kerugian karena kehilangan sperma jahanam itu untuk secara gratis kau berikan padaku. Dan 99,5% sisanya adalah kerugianku. 99,5% kali 270 hari ditambah berjuta kali kebohonganku. Hanya untukmu ! sayang.

***

Desember 2010

Bukankah 5 bulan lagi kita UN ? kamu ingat ? tapi alih-alih belajar kimia untuk UN aku justru mengingatmu. Mengingat perjalanan cinta kita, tak semulus dan sesempurna sinetron memang. Tapi ini—cinta kita.

Pertama aku mencintaimu. Entah sejak kapan, semuanya muncul begitu saja.

Kita satu kelas, dipisahkan jarak bangku-bangku kelas jahanam itu. Tapi aku tahu, kau sering diam-diam melirikku. Karena akupun melakukan hal yang sama. Kamu tahu sayang, gadis remaja sepertiku suka dengan cowok misterius sepertimu. Membuat rasa ingin tahu kami makin membuncah. Dan kutebak kau juga suka gadis sepertiku.

Lalu kita saling bertukar pandang, saling melempar senyum, berceloteh seperti burung beo, bercanda tak keruan waktu kau menemaniku menunggu jemputan, hingga kita tak dapat dipisahkan.

Tentu. Tentu saja, tak ada yang tahu. Tidak orang tua kita tidak juga teman-teman kita. Karena kita sudah punya pilihan masing-masing. Tapi, kebenaran itu relatif bukan ? dan kita benar sayang. Lagipula, cinta tak pernah salah.

Biarlah Rangga dan Siska tetap mencintai kita. Meski diam-diam cinta itu menyakitkan.

***

Sayangku, ini aku yang mencintaimu. Mencintai baik kekurangan maupun kelebihanmu. Mencintaimu terasa lebih lama daripada hidupku yang baru belasan tahun. Layaknya postulat Einstein, waktu relatif terhadap setiap pengamat. Kamu relatif baik terhadapku, akupun relatif baik terhadapmu. Aku suka sekali postulat ini. Segalanya terasa abu-abu.

Begitu juga saat kuputuskan untuk mengijinkanmu, kau wisuda aku.

Sayang, aku lupa. 5 bulan lagi juga akan ada penghuni baru di dunia ini, yang mirip sepertimu.

***

Januari 2010

Aku memikirkan cita-citaku. Guru, dokter, polisi.

Guru ? bagaimana bisa menjadi guru untuk muridku jika aku tak bisa mengajari diriku sendiri ? salah. Aku bukan contoh yang baik untuk murid-muridku.

Dokter ? bagaimana bisa menjadi dokter kalau tiap malam kupukuli daging hidup dalam perutku ini ? bukan pilihan tepat. Melanggar etika kedokteran.

Polisi ? apa aku layak menjadi polisi yang sudah melanggar hukum Negara ini ? tidak. Pilihan terakhir hanyalah ibu rumah tangga. Itu tak mungkin. Seorang Ibu harus sayang pada anaknya bukan ? sama sekali bukan aku.

***

Tiap malam aku berdo’a pada Tuhan. Sebobrok apapun aku, aku tetap hamba-Nya. Aku berdo’a semoga Tuhan menghilangkan sesuatu di perutku ini. Atau paling tidak buat rohnya tak sanggup berjanji pada-Mu untuk menjadi manusia dan menjadi anakku. Hingga Kau angkat rohnya dari perut buncitku. Itu tidak terjadi !

***

Februari 2010

Aku tak menyangka berbohong akan semudah ini. Santet. Satu kata itulah yang meluluhkan seisi ruang guru. Menyebar cepat ke seluruh sekolah hingga mereka mengasihaniku.

Lusi, siswa berprestasi yang terkena santet orang tak bertanggung jawab hingga perutnya membesar. Ada silet di tubuhku. Itu yang aku katakan pada mereka. Menggelikan. Ya, aku telah disantet. Olehmu, sayang.

Siswa macam apa aku ini yang berbohong pada guruku sendiri ? bukan. Guru macam apa mereka yang bisa dibohongi anak ingusan macam aku ? aku hanya tersenyum getir. Pembenaran atas diriku sendiri. Sekali lagi kupakai postulat Einstein, kebenaran itu relatif.

Untukku saat ini : aku benar.

Aku benar saat aku berkeliling lapangan mengomando pasukan paskibra untuk latihan mengikuti lomba. Aku benar saat aku berjalan beriringan dengan Rangga layaknya Romeo dan Juliet. Aku benar saat seharian berkeliling Mall dengan teman-temanku hanya untuk sebuah kesenangan. Aku salah ! saat kurasakan perut ini membesar. Aku salah !

***

Sayang, kamu masih di sana ? berkumpul dengan teman-temanku tanpa rasa bersalah. Tak lagi kau menyapaku, tersenyum, ataupun menatapku. Kau menghindar ! enak sekali menjadi laki-laki. Membuang-buang barang berharganya tanpa ada harga sama sekali.

Sayang, aku tahu kamu sayang sekali denganku. Kamu hanya—takut. Tapi sayang, aku menderita di sini. Aku ingin menangis di bahumu selama mungkin, aku ingin melihat senyummu, aku ingin kau mengelus lembut perutku. Sayang, kau tak melakukan itu.

Sayang, bahkan Rangga pernah mencoba memegang perutku yang dihuni ‘silet’ tapi kucegah sebelum berhasil. Sayang, perlakuan Rangga padaku membuatku makin muak padanya. Tapi tidak padamu, aku sayang padamu.

Kau tak menarik tanganku lalu mencekikku untuk memaksaku menggugurkan kandungan ini seperti di berita kriminal. Tapi kamu tak juga menarik tanganku lalu membawaku ke rumah untuk kita menikah seperti di sinetron. Kamu hanya diam. Karena kamu tahu, aku tak akan berbicara satu patahpun tentang kamu. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada harus dibakar hidup-hidup.

***

Maret 2010

1 bulan menjelang UN. Aku frustasi. Matematika mengingatkan hari kelahiran daging bernyawa ini. Biologi mengingatkan nista perbuatanku bersamamu. Fisika mengingatkan akan massaku yang bertambah juga kumpulan atom-atom mikro yang bergejolak dalam perutku. Semuanya mengingatkanku padamu ! hanya padamu ! sayangku.

***

April 2010

Sayang, semuanya sudah berakhir. Di sini, bulan ini. Dua hari sebelum UN. Mereka mengadili kami, aku dan Rangga. Di ruang kepala sekolah dikelilingi guru-guru yang menatap jijik padaku. Melemparkan hasil USG di depan wajah kami. Laki-laki, bayinya laki-laki.

Kupikir Rangga akan menghajar atau membunuhku bila perlu. Tapi dia tidak melakukan itu, sayang. Dia diam. Lebih diam dari patung burung garuda di atas kepalaku. Aku bisa saja mengatakan ini anakmu bukan ? tapi tidak kukatakan. Mulutku kelu. Aku juga ikut diam.

Sayang, cintaku padamu ternyata salah. Salah besar. Postulat Einstein itu salah. Ada yang benar-benar salah di dunia ini. Itu saat aku mencintaimu. Cinta itu salah.

Karena cinta itu aku tak bisa meneruskan cita-citaku. Karena cinta itu kedua orang tuaku tak lagi menatapku dengan tatapan penuh bangga. Karena cinta itu aku menghancurkan cita-cita Rangga. Lebih hancur dari gelas kaca yang terlempar dari lantai 25. Kami, kami yang hancur. Bukan kamu, sayang.

***

November 2010

Jika mencintaimu adalah suatu penghinaan. Maka akan kurajut hinaan itu dan kuhiasi dengan senyuman. Supaya orang tahu, betapa berharganya cintaku.

Sayang, tahukah kau siapa yang menghapus air mataku selama ini ? mengenggam tanganku, mengelus perutku, melantunkan adzan pada bayi laki-lakiku, menjejakkan kakinya di belakang jejakku. Rangga. Dia Rangga.

Rangga tak pernah bertanya siapa Ayah bayi laki-laki ini. Rangga tak pernah berhenti tersenyum, Rangga tak pernah mengutukku, Rangga tak pernah meninggalkanku, dan Rangga, tak pernah menyalahkan cintaku padamu.

Aku masih ingat jelas bagaimana perlakuan Rangga padaku setelah kita dikeluarkan. Seharian dia menggenggam tanganku, membawaku keliling Surabaya agar aku bisa tersenyum, mengajakku menemui orang-tuaku dan mengakui semuanya. Dan dia, mempersilahkan dirinya untuk menikahiku.

Sayang, cintaku padamu tak pernah salah. Mencintaimu adalah suatu pembelajaran. Atas kehidupanku juga kehidupanmu. Pembelajaran bahwa kebenaran ataupun kesalahan tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Sudut yang buruk atau sudut yang baik.

Kamu tahu kata-kata Rangga yang mampu membuatku tetap di sini, menatap bayi laki-laki ini, bayi kita. Aku masih ingat dengan jelas suara lembutnya berbisik di telingaku, “Jika mencintaimu adalah memaklumi. Maka biarkan aku belajar memaklumi masa lalumu,

Sayang, tahukah kamu nama bayi laki-lakiku ? namanya Rama.

***

Siska menutup jurnal hijau itu dengan cepat. Ada sesuatu di tubuhnya yang membuat Siska merasa kebas, jantungnya masih berdetak cepat. Siska menutup matanya, mencoba mengingat kejadian tadi siang.

Kenapa harus dia yang menerima jurnal ini?

Iklan

8 thoughts on “Postulat Einstein (Juara 1 Lomba Cerpen Kawanku 2010)

  1. aku suka.. Benar-benar keren
    Pesannya tersampaikan tergantung bagaimana kita mengambilnya. Terus berkarya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s