Roode Brug (200 Karya Favorit LMCR 2011)

Roode Brug, nama Jembatan Merah Surabaya Tempo Dulu

Kemarin kakek meninggal. Ibu menangis di kamar dalam pelukan Ayah. Begitu juga kakak-kakak Ibu. Sekilas kulihat raga kakek tersembunyi dari balik kain batik di ruang tamu. Sedang apa kakek sekarang? Mungkin masih duduk-duduk di tempatnya semula, menunggu malaikat mengantarnya ke atas.

Di teras. Kursi tempat kakek menghabiskan sisa hidupnya kosong. Sudah hampir kududuki kursi itu tapi kuurungkan niatku, siapa tahu diam-diam kakek duduk di sana.

Di kursi yang setelah dimandikan, dibersihkan beraknya dan dibedaki oleh Ibu lalu digotong Ayah ke sini. Pagi, siang, sore dihabiskan kakek untuk melihat lalu lalang kendaraan, kadang anak-anak yang bermain di depan rumah, orang-orang sopan yang tersenyum padanya. Juga untuk melihat kalender lama bergambar jembatan merah Surabaya di ujung tembok teras. Layaknya bayi yang setelah dimandikan lalu didudukkan untuk menunggu giliran menyusu pada Ibunya.

Kualihkan pandanganku pada kalender lama ini, gambar jembatan merah masa lalu, saat Belanda masih menguasai. Kuteliti tiap lekukan di dalamnya. Bangunan jembatan. Orang-orang bercaping. Perahu mungil. Dan penjajah.

Om menepuk pundakku perlahan kemudian berkata, “Ngapain di sini?”

Masih menatap kalender lama ini aku berkata, “Om, apa yang harus kuingat tentang kakek?” kubalikkan badanku menatap Om, “Maksudku, kakek pasti punya cerita. Yang bisa Rangga ceritakan ke anak-anakku nanti. Atau buat temen-temen di sekolah besoklah.”

“Kamu mau mengingat kakek bagaimana memangnya?”

“Nggak tau. Emangnya kakek nggak pernah cerita ke Om? Waktu dia masih muda misalnya. Masih seumuran Rangga. Siapa pacar pertama kakek? Atau, apa kakek ikut perang juga waktu jaman Belanda dulu?” Ini masih dalam masa berkabung tapi penuh semangat kujabarkan semua daftar pertanyaanku. Ah, terserah saja. Dari dulu aku memang ingin tahu bagaimana hidup orang tua yang kerjanya hanya duduk di kursi itu.

“Berapa umurmu sekarang, Ngga?”

“Umurku? Enam belas.”

***

Soerabaja, Willenstraat, 10 november 1931

Saya melihat siluetnya menari lincah di dapur. Mengiris bawang, beralih mengambil sayuran, kembali mengiris bawang. Semua gerakannya…sangat dirinya.

Usia saya baru 16 tahun tapi saya sudah mengagumi dirinya setengah mati. Saya masih sibuk mengamati rok panjang nakalnya menari mengikuti langkah genitnya ketika pintu dapur didobrak seseorang. Saya alihkan pandangan saya.

Dengan kesetanan Hartoyik merangsek masuk. Saya menangkap ketakjuban dalam mata Hartoyik pada Nyai1) Saroh untuk sepersekian detik sebelum berubah menjadi serigala.  Hartoyik mengambil cepat pisau dapur yang ada di depannya.

Hartoyik menarik keras tangan wanita itu hingga wanita itu terjerembab dalam dekapannya. Sesaat saya ingin berlari untuk menyelamatkan Nyai Saroh. Tapi Nyai Saroh memberi isyarat untuk bersembunyi. Saya takluk. Berlari dan bersembunyi di balik lemari yang berisikan boneka-boneka porselen kesayangan Nyai Saroh.

Nyai Saroh berontak, meronta dan mencoba untuk mengelak tapi tetap tak bisa. Semakin ia berontak semakin Hartoyik mendekapnya erat.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Teriak wanita itu pada Hartoyik keras. Tapi Hartoyik bergeming, “Suamiku sebentar lagi pulang. Kamu bisa dibunuh kalau seperti ini!”

Hartoyik mencengkeram erat kedua tangan wanita itu ke belakang dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain melingkar di leher wanita itu dan Hartoyik menempelkan pisau dapurnya ke leher mulus Nyai Saroh. Tanpa bicara. Hanya menatap Nyai Saroh. Mata mereka saling bersetubuh. Dan itu membuat saya takut.

Sudah lama saya tidak berjumpa dengan mata itu. Bukan. Tepatnya, sudah lama mata itu bersembunyi di balik selimut teduhnya. Sulit sekali saya cari, tapi tetap ketemu. Kini, tanpa dicari mata itu muncul. Dan saya merinding. Saya harap Jenderal cepat pulang.

“Apa mauku?” dingin dalam nadanya terdengar pilu di telinga saya, “Aku akan memerkosa lalu membunuhmu di depan Jenderal kesayanganmu itu.” Lanjutnya.

Saya lihat Nyai Saroh bergumam perlahan. Lalu tersenyum. Lalu tertawa, “Benarkah? Lakukan kalau begitu.” Apa itu yang saya dengar dari mulut Nyai Saroh? Entah. Saya harap itu salah. Tapi rupanya harapan saya yang salah, “Lakukan. Bunuh aku!”

“Penghianat brengsek! Harusnya kamu ingat apa yang kamu lakukan dulu!! Penghianat!” Hartoyik merangsek, menjulurkan lidahnya lalu bagai ular bergerak lincah di leher Nyai Saroh yang bahkan dalam mimpipun tak berani saya lakukan. Dia terlalu banyak melihat lukisan Jenderal yang berserakan di perpustakaan.

Nyai Saroh mengibaskan kepalanya. Meludahi Hartoyik dengan kasar, “Bunuh baru perkosa aku setelahnya!” Ucapnya berani. Membuat saya yakin Nyai Saroh sudah gila.

“Tapi bukan begitu yang kalian lakukan pada Ibuku!!” Hartoyik melolong. Mencoba mencium bibir ranum Nyai Saroh namun gagal. Makin menjadi Hartoyik menjilatkan pisau itu pada leher Nyai Saroh, membuat darah turun dengan tergesa.

Ya, bukan begitu. Saya ingat jelas kejadiannya.

***

Kebalen, Banyuwangi, 7 April 1921

Nyai Saroh masih menangis dalam pelukan Jenderal saat itu. Ralat. Hanya Saroh. Sementara saya berdiri di sebelahnya. Jenderal mengelus rambut Saroh, tersenyum padanya. Mata hijau Jenderal beradaptasi dengan baik di sini, hutan rimbun dengan jalan setapak kecil dari kerikil. Dan itu membuat saya hanyut, hampir dibuat tidak sadar kalau dia orang jahat.

Hanya ada lima rumah di sini. Masing-masing dipisahkan jarak cukup jauh. Lima rumah yang kesemuanya mengingatkan saya akan rumah saya. Bekas rumah saya.

Terisak, Saroh menatap mata Jenderal.  Saroh ingin bicara, mulutnya sudah kembang-kempis tapi sepuluh bawahan Jenderal keluar salah satu rumah. Menyeret sepasang Ibu-anak. Memamerkan senapan laras panjang pada kening Ibu-anak itu.

Kalau saja saat itu saya sudah cukup besar, sudah kutembaki sepuluh Belanda itu beserta Jenderal jahat di sebelah saya tentunya. Saya meringkuk di balik punggung Saroh saat itu, tak berani melihat. Ini bukan kisah asing bagi saya.

Mereka meneriaki si Ibu, menjambak rambutnya. Sementara si anak menggapai-gapai Ibunya. Salah satu prajurit memukul tengkuk anak itu. Dia pingsan. Tepat seperti dugaan saya. Begitu juga selanjutnya.

Tidak ada angin yang datang. Saya merasa panas sekali di sini. Pohon-pohon mengintip kejadian itu dengan mata malu, bahkan saya melihat semut berhenti berbaris untuk menyaksikannya. Mereka. Sepuluh prajurit itu menelanjangi si Ibu, bergantian memerkosanya.

Saroh memeluk erat Jenderal, kemudian Jenderal menggendongnya. Menangis. Di sebelahnya ada saya. Terdiam layaknya patung memandangi kejadian itu. Tak berkedip.

Anak kecil itu berlari mendekati Jenderal. Sambil menangis ia memohom. Jenderal malah tertawa, kumis emasnya tertarik tiap ia membuka mulut. Jenderal menendang anak itu hingga terjungkal. Lalu tertawa. Lagi.

Saroh mengintip dari balik gendongan Jenderal. Mata mereka bersatu, mengamati satu sama lain cukup lama. Dua anak yang sesenggukan karena menangis saling menatap. Dan saya tahu kalau anak itu tahu bahwa baik Saroh juga saya bukan orang Belanda. Bahwa kami orang pribumi. Dia menatap Saroh aneh, menginginkan penjelasan.

Tapi alih-alih penjelasan yang ia dapat. Saat itu Saroh memalingkan mukanya. Menekuk kepalanya untuk tenggelam di dada Jenderal.

Kisah berakhir dengan hal yang saya anggap klise: Ibu itu ditembak kepalanya di depan anaknya, rumah perkampungan dibakar habis, dan kami pergi. Meninggalkan anak itu menangis sendirian.

Ya. Dia Hartoyik. Dan ya, dia akan membalas dendam atas semua ini. Saya tahu, karena sayapun akan melakukan hal yang sama.

***

“Ingat? Kalian membiarkan Ibuku diperkosa lalu dibunuh…kalian!” tak berputus asa kembali Hartoyik mencoba mengecup bibir Nyi Saroh, “Dan kalian tidak melakukan apa-apa?! Harusnya kalian membantuku saat itu!” Hartoyik mengatur nafasnya yang mulai tak teratur. Darah Nyai Saroh mengalir di tangannya.

“Kami masih anak-anak dulu Hartoyik! Umurku baru Sembilan tahun, dan umurnya baru enam tahun. Apa yang kamu harapkan dari kami saat itu?” Nyai Saroh menekan. Saya tarik ucapan saya barusan, Nyai Saroh tidak gila, “Tapi, kebetulan sekali kamu ingin membunuhku. Dan aku ingin mati. Jadi, silahkan.” Salah. Nyai Saroh sudah gila.

“Kalian bisa membelaku! Bukannya sembunyi di gendongan Jenderal keparat itu!!”

“Ya, Jenderal keparat! Jenderal keparat…Jenderal keparat itu!” Nyai Saroh bergumam perlahan. Menundukkan kepalanya. Menangis. Saya sangat marah pada Hartoyik yang membuat Nyai Saroh menangis saat itu.

Saya melihat sekitar, mencari-cari sesuatu yang bisa dipukulkan ke Hartoyik. Perlahan saya buka lemari boneka Nyai, saya ambil boneka yang paling besar. Saya berlari, namun sial bagi saya, boneka itu terlempar dan pecah beberapa centi dari kepalanya. Hartoyik bergerak mencengkeram saya, memukul tengkuk saya.

***

Yang Hartoyik tidak tahu adalah: Sepuluh tahun lalu, sehari sebelumnya. Rumah kami dibakar Belanda, Ibu dan Ayahku masih di dalam rumah. Hangus terbakar. Sementara Ibu dan Ayah Nyai Saroh ditembak di kepala di depan matanya.

Yang Hartoyik tidak tahu adalah: Jenderal Wilamir Van Der Woods menggendong Nyai Saroh dan membawanya pulang. Beserta saya. Mungkin karena Jenderal kasihan pada saya.

Yang Hartoyik tidak tahu adalah: Jenderal melucuti baju Nyai Saroh setelahnya, berkata bahwa akan membelikan baju baru untuk Nyai. Lalu perlahan tangan nakalnya menjelajah tubuh Nyai…Jelas Hartoyik tidak tahu itu.

Yang Hartoyik tidak tahu adalah…entah.

Saya merasa pusing sekarang…

***

Roode Brug, 17 Agustus 1930

Seperti sore sebelumnya Nyai Saroh selalu meminta ditemani untuk berjalan di Roode Brug2). Tempatnya bertemu dengan gundik-gundik3) lain. Roode Brug yang katanya sangat indah, melihat pelabuhan kalimas dari atas jembatan kayu ini menenangkan, begitu ucapnya. Tongkang-tongkang dengan tertib menuju tepi. Riuh suasana tiap ada tongkang baru yang menepi. Para orang Arab dan Cina berbondong-bondong ke tongkang. Mengambil barang-barang yang baru saja dikirim dari Belanda atau mana saja.

Pernah sekali Nyai Saroh berkata, “Kamu tahu, hanya Roode Brug satu-satunya jembatan yang menyatukan Eropa dan Asia. Menyenangkan sekali berada di sini, seperti di daerah abu-abu.”

Air sungai kalimas sore yang tertimpa matahari memantulkan wajah saya. Saya masih begitu muda, baru saya sadari itu. Dan sudah menjadi budak Nyai dan suaminya yang seorang Walikota. Kasihan sekali hidup saya. Saya alihkan pandangan ke arah Willenstraat4), ada beberapa orang Belanda berjalan menyusuri jalanan itu. Sebagian dengan mobil baru mereka yang suaranya sangat seksi untuk saya, sebagian dengan kereta kuda. Pakaian mereka mewah, tertawa ha…ha…ha…, masuk ke residen5) satu ke residen lain. Saya melihat Eropa kecil di sana.

Saya melihat Nyai Saroh memaku pandangannya pada sesuatu, di Heeresentraat6). Terlalu banyak orang di sisi sungai yang lain ini. Entah siapa yang Nyai lihat, satu hal yang pasti. Ada perbedaan mencolok antara sisi kiri dan sisi kanan saya. Di sisi ini, ada orang yang berkulit hitam seperti saya, coklat, putih, bermata sipit, dan bermata besar seperti Nyai. Semuanya berkumpul. Berdesakan. Saya melihat dunia yang sempit di sana.

Nyai Saroh mencengkeramkan tangannya pada pagar jembatan. Matanya terlihat sedang mencari sesuatu. Nyai berlari menyusuri jembatan ini, menuju ke Heeresentraat. Nyai! Ingin rasanya  saya paku kakimu. Sudahkah Nyai tahu itu daerah bahaya? Banyak perampok, apalagi kau seorang Nyai.

Segera saya menyusulnya. Mengekor setiap langkah Nyai yang besar. Hingga Nyai berhenti pada salah satu tongkang. Melihat pemuda yang sibuk mengangkat barang-barang muatan untuk ditaruh di salah satu gedung di depan.

Nyai mengatur nafasnya, membenarkan rambutnya yang berantakan, merapikan bajunya. Lalu dia berjalan ke depan pemuda itu, memotong jalannya dan berkata, “Jadilah pelayanku.”

Saya tidak tahu sebelumnya. Berbulan-bulan setelahnya barulah saya tahu alasan Nyai berlari sesemangat itu. Dia. Hartoyik.

***

Lima belas menit? Entah sudah berapa lama saya pingsan. Saya langsung terduduk begitu melihat Nyai Saroh menangis kencang, duduk memeluk kedua kakinya, menangisi seseorang.

Terkejut, saya berdiri. Melihat tangan saya sudah basah oleh darah. Dua bawahan Jenderal yang masih memakai seragam menarik sesosok tubuh yang saya kenal. Jenderal sudah pulang? Dan tubuh itu? Saya melihat tubuh yang sedang diseret itu, matanya melotot mengerikan. Seolah terlalu terkejut dengan kematiannya. Beralih saya melihat Jenderal yang ada di depan pintu dapur.

Jenderal tersenyum. Dia memegang pistol yang mulutnya masih berasap.

“Kamu bajingan!” Nyai Saroh memekik.

Saya hanya bisa mengangguk menyetujui, Jenderal memang bajingan. Tapi anggukan saya hilang saat Nyai Saroh meninju muka saya dan berkata, “Sudah kubilang sembunyi di sana! Kenapa kamu malah memukulnya?! Lihat yang kamu lakukan? Dia mati!!” Nyai meninju muka saya sekali lagi.

Saya melongo tak mengerti, Jenderal yang menembaknya! Bukan saya! Ingin saya katakan kalimat itu. Saya urungkan ucapan saya ketika Nyai berlari secepat kilat. Meninggalkan ruangan ini.

Jenderal tak mengejarnya. Dia masih tersenyum.

***

Roode Brug, 11 November 1931

Wajah Nyai Saroh bersinar, berkilauan di tengah Roode Brug malam ini. Sangat cantik. Wajah Nyai berwarna merah, lalu jingga, dan berpendar kuning. Samar saya lihat senyum di wajahnya yang kemudian dihiasi satu tetes air mata.

Orang-orang Belanda berkerumun di Eropa kecil. Kebingungan. Masing-masing dari mereka membawa ember, ada yang berlari ke pinggir sungai untuk mengambil air dan tergesa menyiramkannya pada salah satu residen termewah yang terbakar. Menyalakan malam di Surabaya ini.

Nyai Saroh mengangkat kopernya. Berjalan pergi, di belakang para Nyai-Nyai lain mengikuti. Suami mereka sibuk mengurusi nasib Walikota yang terjebak di dalam rumahnya yang terbakar.

Sebelum turun dari Roode Brug saya menghentikan langkah saya. Di depan Nyai Saroh saya melihat beberapa pemuda kerempeng yang tersenyum malu melihat pemandangan di seberang sungai. Tidak ada yang berkata namun tangan mereka semua terkepal.

Saya masih terlalu muda, dan saya sadar itu. Maka saya berlari ke arah mereka, memperkenalkan diri. Meninggalkan Nyai Saroh yang bisa saya rasakan sedang tersenyum di belakang saya.

***

Yang Hartoyik belum sempat tahu adalah: Hari ini sudah direncanakan sejak satu bulan yang lalu. Bersama pejuang-pejuang lain yang bersembunyi di Heeresentraat.

Yang Hartoyik belum sempat tahu adalah: Malam tadi Nyai melenguh keras di kamarnya hanya untuk menidurkan suami dengan nyenyak.

Yang Hartoyik belum sempat tahu adalah: Nyai dan saya adalah penghianat yang berhianat.

Yang Hartoyik belum sempat tahu adalah: Nyai Saroh menangis di depan tulisan pertama Hartoyik. Kata yang ia tulis pertama kali sama seperti saya, “Merdeka”.

Yang Hartoyik belum sempat tahu adalah: terlalu banyak.

Dan yang saya dan Hartoyik belum sempat tahu adalah: satu tahun berlalu dan ada bayi bermata hijau yang bernama Hartoyik. Ralat. Saya tahu hal itu lima tahun setelahnya.

***

Kesenanganku mendengarkan hancur ketika bel rumah dibunyikan. Mengalihkan perhatian kami yang duduk di tepi teras. Kami menatap keluar jendela dan mendapati tiga orang bule ada di depan rumah.

Sepertinya suami-istri dan putrinya. Si suami terlihat tua dan putrinya masih sangat muda. Seumuranku? Dari rambut coklat, mata bulat hijau, dan senyumnya yang sangat hidup aku yakin dia seumuran denganku.

Om mempersilahkan mereka masuk. Dan gadis berambut coklat bermata hijau itu tersenyum padaku. Atau pada Omku? Lupakan. Dia sangat cantik.

Usiaku enam belas dan jantungku sudah hampir meledak bertemu bule bermata hijau yang jauh lebih tinggi dariku.

***

Catatan:

1)      Nyai: sebutan untuk orang Indonesia yang menjadi istri pejabat Belanda.

2)      Roode Brug: Nama Jembatan merah surabaya di masa penjajahan Belanda.

3)      Gundik-gundik: Sebutan lain untuk Nyai.

4)      Willenstraat: daerah sebelah barat kalimas, yang merupakan pusat  pemerintahan dan daerah para elit Belanda di Surabaya.

5)      Residen: gedung.

6)      Heeresentraat: daerah sebelah timur kalimas, yang merupakan pusat perdagangan di Surabaya.

Iklan

3 thoughts on “Roode Brug (200 Karya Favorit LMCR 2011)

  1. Heeresentraat, atau juga disebut sebagai Willemsplein Straat, sekarang lebih dikenal sebagai Jl. Garuda, Surabaya. cmiiw. Letaknya beberapa ratus meter dari landmark kota Surabaya yg sudah terkenal : Jembatan Merah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s