BACK TO THE PAST [Enya Rima Rahman]

Judul: Lukisan

Sambil menyesap vanilla latte aku melamatkan apa yang menarik dari lukisan ini. Pelukisnya pelit warna, hanya ada satu pintu hitam tertutup di lukisan ini, selebihnya putih. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang di galeri lukisan ini.

Kuangkat telunjukku, dengan sangat hati-hati kusentuh tekstur lukisan ini. Mataku terhenti pada tulisan di kanan bawah lukisan, Duman, 07-04-1946. Tulisannya tidak begitu jelas maka aku dekatkan tubuhku, tanpa sadar cangkir kopi yang kubawa menempel di lukisan itu.

“Sial!” teriakku ketika kopiku mulai tercecer di lukisan itu. kini warna lukisan itu bukan lagi hitam dan putih, bertambah satu warna cokelat. Panik aku menggosok-gosok lukisan lama ini dengan bajuku, hasilnya justru membuat lukisan ini makin parah.

Tunggu! Ada yang aneh dengan lukisan ini, tadi pintu itu tertutup, aku yakin sekali. Sekarang pintu di lukisan ini terbuka. Dan dari pintu itu keluar sosok lelaki. Lelaki itu bergerak! Atau tidak. Aku tidak yakin, kukedipkan mataku berkali-kali kalau-kalau aku berhalusinasi.

Yang kudapati justru tangan lelaki itu mengulur ke arahku dan menarikku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Segalanya menjadi gelap sampai seseorang meneriakiku dengan keras, “perbaiki lukisanku! Sekarang!”

Kutolehkan kepalaku dan seketika aku berada di sebuah rumah berbilik bambu yang beratap rendah. Lelaki yang meneriakiku tadi berwajah lusuh dengan baju orang masa lalu. Dia menatapku penuh amarah, “Kubilang perbaiki lukisanku!” teriaknya lagi sambil menunjuk lukisan yang tadi kutumpahkan kopi. Masih ada jejak kopi sangat jelas di sana.

“Kamu … aku dimana? Dan kamu … darimana kamu muncul?”

“Dari dalam lukisan, tidak ingat? Tadi kamu merusak lukisanku makanya aku menarikmu supaya kamu memerbaiki lukisanku. Lukisan ini penting!” dia bercerita.

“A … apa?” tanyaku penuh keheranan.

Dia baru akan membuka mulutnya ketika aku mendengar suara tembakan hingga membuat telingaku sakit. Dia menarikku keluar rumah cepat sambil membawa lukisannya dan memaksaku membawa cat hitam di dalam mangkok. Berlari melewati hutan entah berapa lama hingga kakiku terasa lepas. Aku memaksanya berhenti. Dia mengamati sekeliling, ketika dirasa situasi sudah aman dia meletakkan lukisan itu di rerumputan.

“Perbaiki sekarang,” paksanya, menyodorkan kuas dan cat hitam ke depanku.

“Aku nggak bisa ngelukis! Lagian kamu pelukisnya, ‘kan? Masa nggak bisa merbaiki?”

Dia menggosok rambutnya frustasi, “aku tidak bisa! Karena itu aku menarikmu. Tadinya lukisan ini akan kugunakan untuk menyelamatkan penduduk desa yang akan dibakar Belanda. Mereka … semua akan kumasukkan ke dalam lukisan. Sekarang semuanya hancur karenamu!”

“Sini!” karena rasa sebalku aku menyaut mangkok cat hitam itu. kutumpahkan semuanya ke dalam kanvas. Bukan lagi hitam, putih dan cokelat warnanya. Hanya hitam. Aku tersenyum.

Dia hampir-hampir memukulku karena tingkahku, semuanya tidak terjadi ketika terdengar suara orang berteriak-teriak. Kutolehkan kepalaku dan mendapati desa sudah terbakar. Dia berlari menuju desa, panik dia menggendong seorang anak yang menangis. Dia merangsek masuk ke dalam rumah. Dalam kepanikan aku memeluk lututku. Anak kecil tadi terus menangis. Sementara lelaki itu sibuk melukis sesuatu, di saat seperti ini? Aku melihat sekeliling, di sudut rumah mataku menangkap lukisan gedung yang sangat familiar.

“Hey … hey … sini!” aku menarik tangannya, juga tangan anak kecil itu. kusentuh lukisan itu berulang kali, berharap bisa masuk ke dalamnya. Ketika aku mulai putus asa dan panas membakar tubuhku aku merasakan angin segar kembali. Aku membuka mataku perlahan.

Aku kembali berada di galeri lukisan. Mataku berputar melihat sekeliling. Di depanku, tempat seharusnya lukisan pintu itu berada kini kosong. Seorang pemandu galeri melewatiku. Aku mencegahnya, bertanya penuh kepolosan, “lukisan pintu yang ada di sini … mana, pak?”

Orang itu menatapku aneh, “nggak ada lukisan pintu di galeri ini, Mbak.”

Aku memiringkan kepalaku. Melihat lukisan-lukisan di galeri ini. Ada yang berbeda. Ada lukisan yang penuh warna hitam di sana, dan lukisan sebuah rumah berdinding bambu di sana. Tulisan di sudut kanan kedua lukisan itu sama, Duman, 07-04-1946. Sementara itu, dari sudut mataku aku menangkap anak kecil dan seorang lelaki berpakaian kolonial berlarian di lorong galeri.

Iklan

8 thoughts on “BACK TO THE PAST [Enya Rima Rahman]

  1. membaca kata ‘lukisan pintu’, entah mengapa ingatanku melayang ke sebuah filmnya Joko Anwar yg berjudul “Pintu Terlarang”, sebuah film yg gelap …
    dan tulisan diatas ini nyaris sama gelapnya. adakah kelanjutannya?

    1. ini buat diikutin giveaway novel outlander dari gagasmedia pak, lumayan kalo menang dapet 2 novel. sayangnyo syaratnya maksimal cuman 2 halaman, jadi endingnyo keburu-buru dah … 😦
      eh pilem pintu terlarang yang maen fachri albar pan? *fangirling* padahal gak pernah nonton pintu terlarang. #preettss

    1. ini aja kalah mi … gak dapet giveaway outlandernya aku gimana mau nerbitin oTL

      lha wong ilmi punya blog duluan dari aku kok, ya kerenan ilmi pasti *sek guaptek sampek gak tau caranya nge-tag buat ngerjain PR-nya septi hash -_-*

      1. mensucikan hati dulu dengan deterjen tak lupa dikasih pelembut biar hatinya wangi wkwkwk ….

        banyak baca aja mi, ntar idenya juga dapet sendiri. kata si dee, kalau mau menulis harus mau lebih banyak membaca dulu hagz … hagz … XD *sok bijaksana*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s