Penulis Killer vs Pembaca Somplak

Oke, ini cuma tulisan iseng soalnya sebel sama salah satu penulis di grup kepenulisan yang saya ikuti. Dia dapat―gak bisa disebut pengkritik juga―pembaca rewel dan share pengalamannya ‘ngobrol’ bareng pembaca tersebut. Di situ si pembaca salah satu buku penulis ini bilang kalau tulisannya terlalu banyak hal-hal berbau Korea yang terasa janggal dan banyak kejadian nggak masuk akal.

Si penulis ini justru sibuk balik menghadang pembaca dengan bilang―ini perumpamaan aja ya―, “emang situ oke, bacaan situ juga buku yang logika fiksinya gak masuk akal. Mana ada cowok pake gips bisa ngangkat ceweknya, naik tangga pulak. Bacaannya baru gitu aja pake bilang buku gua kagak masuk akal.” Hhmmm … ini cuman analogiku sama pikirannya, karena jelas dia pakai bahasa yang lebih halus buat mengungkapkan di grup tersebut.

Dan waktu pembaca itu bilang bukunya terlalu mahal si penulis balik bilang, “Haloooww … ini sudah menuruti ekspektasi pasar, mau lebih mahal lagi? buku yang gak masuk logika fiksi yang jauh lebih mahal aja situ beli masa beli buku gua kagak sanggup.” Makiinn … ahem, okelah. Dan dia bilang kalau dialognya dijadiin buku bakal dikasih judul, penulis killer vs pembaca somplak.

Menurutku―pribadi―sebagai pembaca sebel juga digituin. Aku sendiri kagum sama Tante Meyer penulis buku twilight itu karena meskipun banyak dimaki-maki, dihajar mati-matian, dijelek-jelekin bahkan sampai ke kehidupan pribadinya masuk juga―padahal buku yang ditulis sama kehidupan pribadinya gak berhubungan―dia tetep senyum dan sabar.

Pembaca punya ekspektasi dan pendapat masing-masing. Nggak ada pembaca yang somplak, cuman mungkin itu bukan bacaan tipenya aja. Kalau gitu cuma pembaca yang kira-kira bisa memenuhi ekspektasinya aja yang boleh membaca dan berpendapat. Berpendapat itu sah-sah aja, dilindungi malah kebebasannya―kecuali kalau orde baru―kita yang harusnya lebih ahli memilah pendapat yang bisa dijadikan pembelajaran nantinya. Emang kenapa sih buku yang logika fiksinya gak jalan bisa bestseller? Itu yang harusnya jadi pertanyaan si penulis.

Ah satu lagi, kalau buku sudah dilemparkan ke publik ya sudah jadi hak publik untuk berpendapat apapun, itu resikonya nerbitin buku. Lha, malah ngomongin orang. Udah. Udah. Cukup.

Terakhir, saya mau minta maaf buat penulis, ini cuman curahan hati seorang pembaca. Curahan hati 😀

Iklan

4 thoughts on “Penulis Killer vs Pembaca Somplak

  1. hahahaa…. setelah baca tulisanmu yang ini, saya dapat pelajaran atas hal yang sedang saya alami. pendapatmu tentang buku twilight berasa menusuk buatku, rasa-rasanya saya harus, kudu, mesti banyak belajar ttg menerima pendapat orang lain, dan tidak menjadikan diri kita terpuruk atas pemikiran2 yang tidak nyata itu. hahaa… (*opo ae) 😀

    1. huum, awalnya waktu baca twilight langsung gak suka, sebel bin apa aja deh. tapi pas liat si tante stephanie sabar banget jadi ngasih kesempatan kedua deh buat twilight. keren deh tante! 😀

    1. lama gak buka blog tau-tau ada komentarnya mbak amaya, baru tau kalo mbak amaya punya blog 😀

      postingan hanya mengungkapkan pendapat pribadi mbak 😀 *kok bisa tau sih?* <— sok lugu :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s