Salah Kamar: 4 Orang Sok Tahu

Ini tentang empat orang sok tahu yang berencana untuk menjenguk ayah teman mereka yang sakit. Empat orang yang punya niat sangat baik dengan membelikan teman mereka nasi untuk dimakan bersama-sama, jumlahnya lima nasi termasuk mereka.

Nah, ini dia. Dengan semangat mereka berempat memasuki rumah sakit. Masuk ke dalam lift yang dipenuhi cermin di segala sisi, memencet lantai delapan. Tinggi sekali bukan? delapan!

Keluar dari lift, marmer yang kelihatan sangat mahal menyambut mereka. Bau khas rumah sakit yang terkadang membuat pusing menyerang. Suster-suster berpakaian hijau―warna yang sangat cerah dibandingkan warna rumah sakit―dan pintu yang sama. Salah satu dari mereka, sebut saja Enya, menghitung nomor pintu itu.

801, 802, 803 (Kelas 3), 805 (Kelas 2), 808.

Mereka berbelok ke kanan, meja suster dengan suara tiitt … sangat panjang terdengar. Suster-suster hilir mudik, salah satu suster berpakaian steril memegang kotak entah apa dan masuk di salah satu kamar, 813.

Kamar itu sendiri, sama. Duplikat dengan kamar lainnya. Yang membedakan adalah pintu terbuka lebar, orang-orang menyandarkan punggung di tembok dengan putus asa, orang-orang menangis, suster lalu lalang, dan empat orang sok tahu.

April, salah satu dari mereka berkata bahwa inilah kamar teman mereka. Kamar 813 yang sedang sibuk. Mereka kebingungan, saling menatap bingung dan takut. Dari dalam mata mereka timbul pertanyaan, ada apa?

Wanita paruh baya berbicara panik pada lelaki muda, suaranya bergetar, “Budhe sik nok ngisor! Tak telep …,” wanita itu langsung berlari menghilang di belokan tanpa alas kaki.

Lelaki muda itu awalnya bengong lalu dia menyusul wanita itu.

Empat orang sok tahu sangat ketakutan. Mereka kira, kira, mereka berada di situasi yang persis seperti sinetron. Ketika tokoh utamanya berniat menjenguk namun justru mendapati yang ingin dijenguk sudah pergi, atau akan pergi.

Artika, yang menyandarkan diri di tembok sambil memijat lehernya berkata dalam hati, aku mau cepet pulang. Aku gak mau di sini, aku mau pulang!

Maye sibuk mengamati sekeliling dengan tenang dan mata ingin tahunya.

April mengambil ponsel, bersiap meng-sms teman mereka, “Biar aku sms Desy ini bukan kamarnya, aku sendiri lupa.”

Dan Enya, si bodoh yang sangat sok tahu, yang sok ingin menenangkan situasi berkata: “Jangan ganggu Desy dulu deh Pril, jangan SMS. Masuk ke kamarnya aja langsung.” Enya sudah berdiri di depan pintu kamar, melihat siapa tahu ada temannya di sana. Hanya ada lelaki duduk tepekur menutupi wajahnya yang menangis.

Lelaki paruh baya menelepon sambil menggaruk keras wajahnya, “iya, barusan. Ibu sudah nggak ada …,” ucap lelaki itu sambil terisak-isak. Pelan dan menyayat hati.

Tunggu! TUNGGU!! Ibu? Ibu!!

Maye yang sedari tadi mengamati sekeliling berbisik, “Heh yang mati lo ibu-ibu.”

Dan Enya tiba-tiba mendapat sengatan listrik yang membuatnya berkata, “bukannya kamar Ayahnya Desi nomor 808?”

April terdiam, kelihatan berpikir sangat lama. Kemudian menjawab ragu, “I … iya mungkin Nya.” Tidak perlu dijelaskan bahwa di sini April sudah menjenguk Desy empat kali, di kamar yang sama, cukup lama.

Mereka berjalan mencari kamar 808. Dan Desy muncul di sana. Mereka semua bernafas lega. Lalu tertawa. Sudah sampai di sana? Belum!

Harus untuk dijelaskan bahwa di kamar itu ada nenek dan sepupu Desy sementara mereka hanya membawa lima makanan, satu untuk Desy lainnya untuk mereka makan di sini.

Harus untuk dijelaskan bahwa mereka menumpang sholat di sana. Berbisik-bisik tentang hal tak penting. Menghitung kecanggungan dan berpikir hal apa yang ingin dikatakan namun selalu berakhir pada keheningan. Tidak, mereka tidak mengajak Ayah teman mereka mengobrol, tidak juga nenek dan sepupunya.

Harus untuk dijelaskan bahwa mereka akhirnya membuka makanan, makan dengan penuh keceriaan sementara si nenek menatap lucu dan lugu. Sepupu teman kita memilih untuk menemani Ayahnya. Tidak ada acara saling menawarkan makanan untuk si nenek ataupun sepupu.

Dan harus untuk dijelaskan bahwa Ayah Desy berbisik pada si sepupu yang dia katakan pada Desy bahwa Ayahnya eneg dan pusing pada bau penyetan yang sedang mereka makan dengan riang. Mereka makan dengan cepat dan langsung membuang bungkusannya.

Saling beradu ucapan maaf, Om pada Ayah Desy setelahnya. Lucu sekali.

Juga harus dikatakan bahwa Artika berbisik, “nanti kalau pulang jangan salaman, tadi Ayahnya Desy sudah wudhu gara-gara kita salaman waktu pertama ke sini wudhunya jadi batal.”

Dan mereka tidak bersalaman ketika pulang. Padahal. Ayah Desy sudah mengulurkan tangannya, namun tak ada yang menyambut. Semuanya menangkupkan tangan di dada sambil berkata, “maaf ya Om merepotkan.”

Bukankah itu beberapa jam di rumah sakit yang sangat penuh warna?

 

Iklan

2 thoughts on “Salah Kamar: 4 Orang Sok Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s