The Perks of Being a Wallflower: A Must Watch Movie

We accept the love we think we deserve

Saya jarang bahkan hanya dua film yang masuk dalam daftar mampu mengadaptasi buku dengan baik, benar dan sempurna saya yaitu: Lord Of The Ring dan Harry Potter. Dan yang bisa melampaui buku dengan sangat sempurna adalah Lord Of The Ring.

Hari ini, daftar itu bertambah. Yay!

The Perks of Being a Wallflower

Bersetting di tahun 90-an, Charlie, pemuda yang baru masuk SMA ini setiap hari mengirim surat untuk seseorang, entah siapa. Dengan orang itu Charlie menceritakan semua yang dialaminya di SMA. Setiap hari.

Charlie pendiam, dia merasa dan tidak ingin semua orang memerhatikannya. Di kantin Charlie adalah anak yang duduk di meja sendirian sambil membaca buku, tidak ada yang tahu, tidak ada yang kenal. Sampai muncul Patrick, senior sekolah yang nakal dan cenderung hyperactive. Charlie memaksa diri untuk berkenalan dengan Patrick, dan Patrick, karena Charlie adalah satu-satunya orang yang tidak memanggilnya nothing melainkan namanya membuka diri dengan Charlie.

Di sanalah kehidupan baru Charlie dikelilingi para senior dimulai. Charlie bertemu Sam, adik tiri Patrick yang menurutnya sangat cantik. Charlie jatuh cinta pada Sam tapi Sam menyukai orang yang menurut Charlie tidak pantas untuk Sam sampai munculnya quote favorit saya sepanjang masa:

We accept the love we think we deserve

Di film ini ada banyak pelajaran yang bisa diambil, mulai dari pertemanan, gay, bullying, pedophile, narkoba, bunuh diri, seks bebas, kehidupan malam, dan yang lebih penting membuat kita berpikir untuk lebih memperhatikan sekeliling.

Di sekitar kita mungkin banyak Charlie, Charlie lain yang sama pendiamnya. Yang semua orang menyangka dia freak, yang selalu berada di bawah society bahkan mencoba selalu berada di sana. Si pendiam adalah orang yang menakutkan, begitu selalu yang ada di kepala saya. Mereka orang yang tidak bisa kita tebak bagaimana kehidupannya, orang pendiam yang terlalu takut dunia tahu masalah mereka dan takut dunia berbalik menyalahkan mereka karena masalah yang mereka hadapi.

Jadi pengin puk puk Charlie―apalagi kalau Charlie-nya Logan Lerman―dan bilang, “It’s okay … it’s okay ….”

Oke sekarang perbandingan buku dan filmnya.

Filmnya luar biasa menakjubkan, cantik, dan aktingnya keren. Apalagi ada Logan Lerman, Emma Watson dan Nina Dobrev di sana.

Waktu baca bukunya saya membayangkan Charlie sebagai anak polos yang belum tahu apa-apa, dengan banyak bintik-bintik di pipinya, saya nggak pernah membayangkan Logan Lerman. Tapi well, seperti kata seseorang, kalau dalam film nggak ada yang ganteng film itu pasti nggak laku. Itu dimaafkan, lagian ini LOGAN LERMAN sebagai Charlie.

Ada beberapa kekurangan sebenarnya:

Di novel sangat kental sekali terasa Charlie menulis surat untuk teman anonymous-nya. Tapi di film rasanya kurang kental, jadi semacam tempelan aja. Well, tapi emang susah kalau nggak dimasukin secara bagian akhir di novel, kata-kata Charlie itu yang paling jleb dan bikin kita senyum terus mewek terus senyum lagi.

Nggak ada puisi yang dibacakan Charlie di malam natal. Padahal itu puisi paling menyedihkan sekaligus keren, meskipun panjang, yang pernah saya baca. Tapi, dimaafkan. Kalau dibacapun bakal menghabiskan banyak menit di film.

Nggak dibangun hubungan antara Charlie-kakak laki-laki-ayah-ibu. Di novel aku paling suka bagian itu, kayaknya di film lebih ditekankan pertemanan Charlie.

Kata-kata di novel banyak yang bagus sayang nggak semua masuk di film. Tapi banyak quotes quotes yang saya suka juga masuk di film. Dimaafkan.

Dan narasi Logan Lerman di awal-awal saya ngerasa agak awkward tapi lama-lama jadi biasa juga.

Yang paling disuka di film:

Adegan flashback Charlie dan aunt Hellen. Itu keren. Dan bikin saya terus bertanya-tanya.

Pertemuan Charlie dengan guru bahasa Inggris pertama kali. Sukaaa cara Charlie lebih milih nulis jawaban, yang sebenarnya benar, daripada ngacung sementara seisi kelas nggak ada yang tahu jawabannya. Suka cara gurunya yang langsung tahu Charlie nggak punya teman dan mengajukan diri jadi temannya, meskipun ditolak.

Acting Logan Lerman waktu dia mulai seeing things lagi. Waktu Logan bilang, “jangan nangis, jangan nangis.” Pada diri sendiri sementara dia terus nangis kejer. Bikin mewek dan pengin masuk ke laptop terus puk-puk Charlie.

Cara semua orang bereaksi waktu tahu yang terjadi sama Charlie. Cara Charlie bereaksi waktu Patrick cerita soal urban legend yang adalah kisahnya sendiri yang dilanjutkan dengan adegan ahem.

Dan banyak lagi lainnya.

Hwaaahhh …. Lega sudah cerita panjang lebar.

Selamat membaca dan melihat The Perks of Being a Wallflower.

Harus dibaca dan harus dilihat 😀

And in that moment I swear we were infinite

 

Iklan

7 thoughts on “The Perks of Being a Wallflower: A Must Watch Movie

    1. filmnya belum dan kayaknya nggak akan ditayangkan di Indonesia 😦 soalnya di amerika aja cuman ditayangin bentar.
      novelnya juga belum diterjemahin (penerbit Indonesia lagi sibuk nerjemahin novel vampir :P) padahal udah ada dari taon 99 tuh novel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s