A week piclit challenge: Mom, your turn

Aku merasa lelah, dipenuhi keringat dan terengah-engah. Sambil terus menggenggam pion kuda di tanganku aku mengatur nafasku. Tatapanku terpaku pada papan catur di depanku, aku tersenyum.

Tiap malam Mom, aku dan kakak selalu mengisi waktu dengan bermain catur. Mom tidak suka kami menonton tivi, meskipun aku merengek mom tidak mengijinkanku menonton tivi, gantinya aku dan kakak terperangkap dalam permainan membosankan itu.

“Ini namanya horse.” Kata Mom sambil menunjuk salah satu pion. “ikuti Mom.

“Horse.” Lalu aku dan kakak mengikuti yang dikatakan Mom.

Dan aku belajar kata baru dalam bahasa Inggris setiap hari, king, queen, black, white. Bermain catur adalah saat dimana kami juga belajar bahasa Inggris, Alih-alih berkata, ‘giliranmu, Mom.’ Aku dianjurkan untuk berkata, “mom, your turn.”

Mom yang bermain catur sambil memasak, menyapu rumah atau sekedar membersihkan mainanku yang berserakan di lantai akan terburu-buru ke meja dapur, mencari-cari celah agar Mom kalah dan aku dapat memakan pion milik Mom. Aku tak terkalahkan dalam catur, karena kakak dan Mom selalu mengalah untukku.

“Mom, your turn.” Kataku ketika Mom sedang memasakkan ayam goring kesukaanku. Mom, your turn. Betapa itu menjadi kata favoritku saat itu, mengatakan itu membuatku terasa pintar secara tiba-tiba dan aku bisa ke bulan hanya dengan mengatakan itu.

Mom, your turn. Biasanya mom akan menggosok rambut botakku lalu mengatakan kalau itu membuat mom geli tapi mom tetap melakukannya. Dan kami tertawa.

Mom, your turn. Mom akan menjawab, “hold a second” lalu aku dan kakak terkikik karena merasa itu kalimat terlucu di dunia.

Mom, your turn. Aku berbisik dalam hati, melihat pion-pion catur yang masih lengkap di depanku. Mom, your turn. Aku tak pernah lagi mengatakan itu semenjak Dad mengajakku pergi bersamanya, dad, your turn adalah kalimat yang salah, karena itu aku tak pernah mengatakan itu pada dad.

“Mom, your turn.” Kali ini aku berkata pelan, menunggu mom buru-buru datang ke meja. Dari ujung meja aku melihat merah menggumpal cukup banyak.

“Mom! Your turn!” aku berteriak. Aku tidak pernah berteriak pada mom kecuali saat kulihat mom mencium pria lain selain dad di atas meja yang masih dipenuhi pion-pion caturku. Mom mencintai dad dan harus selalu begitu.

“MOM!” kali ini aku melolong. Melirik ujung bajuku yang juga dipenuhi merah berbau amis, “MOM!!” aku memanggil dengan panik, “Mom! Your turn!”

“MOM! YOUR—,” kalimatku terhenti ketika menemukan merah berbau amis itu bersumber pada sesuatu, di lantai dapur. Mom tertelungkup di lantai dapur bersama pria yang baru saja mom cium.

Pisau dapur masih tertancap di perut mom.

P.S. aku udah nyoba nginget-nginget permainan apa yang ada di gambar itu tapi nggak bisa inget, jadi pake catur aja deh. ping Fiqih Septi Atut Ilmi dan Tutus

Iklan

12 thoughts on “A week piclit challenge: Mom, your turn

      1. kenapa kalimatnya septi kontradiktif ama emoticonnya yang senyum lebar? 😀 (maklum sep, galau jadi pengin bikin yang sadis-sadis :p)

    1. tadi mau nulis kakak sama aku-nya lawan si mom tapi keburu lupa :p kayaknya ini kelemahanku yak, terlalu keburu-buru dan suka nggak dibaca ulang (i terribly hate editing)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s