Piclit Challenge #2: Dilarang Memotret Di Depan Cermin

Sejak seminggu lalu di Jebongan tersiar kabar dua orang mahasiswa yang sedang KKN di sana hilang karena memotret di depan cermin. Serjo, satu-satunya saksi yang melihat kejadian itu dirubungi warga kampung.

“Bener si cewek bahenol itu hilang?”

“I-iya, pak.” Serjo tergeragap.

“Terus cowoknya yang jerawatan itu?”

“Hilang juga, pak.”

“Abis poto di depan cermin ini?”

“Iya, pak.” Serjo berbalik, tidak berani melihat cermin itu. Terutama sejak seminggu lalu.

Dia baru saja pulang sekolah, mencari jangkrik yang berkeliaran di sekitar sawah untuk dibuat adu jangkrik bersama teman-temannya di rumah nanti. Mata Serjo yang masih sibuk mencari jangkrik tiba-tiba tertumbuk pada mahasiswa yang sedang KKN di desanya, dia menyebutnya Bapak dan Ibu dari Jawa.

Mereka saling merangkul, lalu tangannya membentuk angka dua, diangkat ke atas kepala mereka. Dalam hitungan detik cahaya-cahaya yang datang dari ponsel mahal yang tak akan pernah terbeli oleh Serjo menyerbu cermin, memantul ke mereka, tapi mereka malah tertawa.

Di depan cermin yang diletakkan di dinding kamar mandi umum hasil subsidi pemerintah mereka terus bergaya aneh-aneh. Serjo menatap mereka dengan kagum, membiarkan jangkrik tangkapannya meloncat dari tangannya. Lalu Serjo mengikuti gaya mereka, meletakkan tangannya di dagu, memajukan bibirnya, mengempotkan pipinya, asyik sekali.

Apapun yang mereka lakukan, Serjo suka hal itu, dia akan memamerkan gaya terbarunya di depan teman-temannya. Karena keasyikan Serjo terjatuh di kubangan lumpur, bunyi berkecipak dirinya dengan lumpur membuat Serjo dan dua mahasiswa itu terkaget.

Serjo mendengar suara teriakan, lolongan lalu lenguhan dan terakhir suara langkah kaki berlari cepat. Ketika Serjo berdiri untuk membersihkan tubuhnya dua mahasiswa itu sudah menghilang. Ditelan cermin, dikutuk cermin, ditangkap cermin.

Serjo berlari ke depan cermin itu, tidak ada bekas mereka sama sekali. Kaki Serjo terantuk sesuatu, topeng wajah lelaki dan perempuan, si lelaki sedang membuka mulutnya sementara si perempuan menempelkan ibu jarinya di bibir.

“Mbah Eman!!” Serjo berteriak memanggil nama mbah-nya. Mahasiswa itu berubah menjadi topeng, dikutuk cermin! Serjo berlari, menyeret kakinya yang lemas ke rumah mbak Eman.

Seminggu setelah peristiwa itu penduduk desa sepakat menurunkan cermin dari kamar mandi umum, membawanya ke tengah sawah lalu mbah Eman selaku tetua di sana merapalkan mantra diiringi bau kemenyan menyelimuti mereka.

“Bener to, udah dibilang ndak usah pake kamar mandi umum-kamar mandi umum segala.” Ujar Mbah Eman. Lalu kembali merapal mantra. Dengan keris yang sudah diludahi, dicelup air, diludahi lagi mbah Eman menusuk cermin itu. Cermin pecah berkeping-keping.

Warga Jebongan tersenyum lega, kutukan telah hilang.

***

“Aku nggak mau balik ke sana lagi!”

“Tapi Ta, gimana nilai KKN kita kalau nggak diterusin?”

“Biarin! Aku mau pulang, di sana sumpek! orangnya bodo semua! Lagian aku … ah! Oleh-olehku ketinggalan!”

“Oleh-oleh apa?”

“Topeng cewek-cowok itu! Sial.”

P.S. aduh ini cerita acak-kadut :p sorry. mau Ciao ngerjain kapsel dulu 😛 Fiqih, Septia, Tutus, Atut, Ilmi

Iklan

8 thoughts on “Piclit Challenge #2: Dilarang Memotret Di Depan Cermin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s