Piclit Challenge #3: Siluet

Jika ada yang bertanya bagaimana aku bisa mendapatkan foto kontroversial yang memenangkan banyak penghargaan itu aku akan menceritakannya dengan senyum mengembang; dulu.

Kini, aku akan melihat siapa yang bertanya padaku. Untuk wartawan dan anak-anak baru di klub fotografi aku akan memberikan mereka versi yang pertama.

Di studio foto, dia adalah model yang sedang memakai bantal. Tidak sedang mengandung. Untuk menambah kesan dramatis aku mengeditnya menjadi hitam-putih. Nampak jelas sekali kerapuhan di dalam foto ini bukan?

Mereka akan mengangguk setuju lalu beralih menanyakan hal yang lain seperti bagaimana caranya mendapat pencahayaan yang baik.

Untuk para ibu-ibu muda tetanggaku atau para pemimpi yang secara tak sengaja melihat hasil jepretanku dan ingin tahu cerita di baliknya aku akan menceritakan versi yang kedua pada mereka.

Dia tetanggaku, Kayla. Ibu Kayla tepatnya. Melalui jendela kamarku yang berada di lantai dua aku selalu memperhatikannya. Kayla wanita yang cantik, rambutnya selalu dia kuncir sebagian di pagi hari. Di balik tirai jendela itu aku melihat siluetnya bergerak lincah. Menyiapkan makanan suaminya, bercengkramah dengan putra-putranya yang tampan dan sesekali aku mengintip Kayla bermesraan dengan suaminya di balik tirai jendela itu.

Saat dimana Kayla menegakkan badan untuk menghilangkan rasa pegal akibat nyawa baru di perutnya adalah saat yang luar biasa bagiku. Kayla begitu cantik, siluetnya terlihat tegas dan menguarkan aroma ibu, aroma yang tak pernah kurasakan sejak aku SMP. Aku terpesona. Lalu tanpa pikir panjang kuabadikan aroma ibu itu di dalam kameraku.

Biasanya mereka akan terkesima dengan ceritaku, memiringkan kepalanya sambil tersenyum lalu pulang dengan perasaan senang karena telah mendengar cerita yang sangat inspirasional.

Tapi Layla lain, dia menggeleng ketika aku selesai bercerita.

“Ceritanya sudah selesai.” Tegasku padanya.

Layla menggeleng lagi, “belum. Anda belum cerita kenapa anda selalu memperhatikan ibu Kayla setiap pagi?”

“Karena aku rindu ibuku.”

Layla menggeleng, “karena anda cinta dengan bu Kayla.”

Mataku melebar sesaat setelah Layla menyelesaikan kalimatnya.

“Kenapa anda tidak menceritakan bagian yang itu?”

“Karena sebagian orang lebih suka mendengar kebohongan indah daripada kejujuran sederhana.”

“Kenapa anda tidak membiarkan saya mendengar kejujuran sederhana anda?”

“Umurnya sudah tujuh bulan.” Melalui kalimat singkat itu aku tahu bahwa aku tidak mungkin bersama Kayla lagi. Jadi, di hari terakhirku bersama Kayla aku memutuskan untuk mengenangnya dalam lembaran foto, juga dalam ingatanku.

Kayla berdiri saat itu, matahari senja memantulkan tubuhnya, menyeruakkan warna oranye terindah yang pernah kulihat. Dia mengambil baju yang diletakkan di sofa kamar, melemparnya padaku, “tolong pakai bajumu, Aku tidak ingin suamiku tahu kamu ada di kamarku.”

lapor Fiqih, Atut, Ilmi, Septi dan Tutus saya sudah selesai. Dan ini

Iklan

8 thoughts on “Piclit Challenge #3: Siluet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s