What Happened To Kopdar

Warning: This story includes public humiliation of a young woman on her not-knowing-to-much thing.

 

Saya, Enya Rima Rahman, mengakui bahwa saya—sebagai orang Surabaya—bersalah karena tidak tahu apa-apa mengenai jalan di Surabaya. Bahkan jalan yang nggak sampek sepuluh kilometer dari rumah saya. Ya, saya ijinkan anda memanggil saya pathetic atau kuper atau anak rumahan.

Tapi, bukan itu inti ceritanya saudara-saudara.

Intinya adalah saya diajak teman saya yaitu Ilmi, untuk datang ke kopdar WB atau warung blogger (yang sewaktu di-sms dengan polosnya saya bertanya, WB apaan ya mi?) Jadi dengan pengalaman nge-blog yang nggak aktif-aktif amat dan nggak pernah blogwalking sama sekali kecuali ke tempat teman-teman kampus dan terlalu malu untuk ketik komentar di blog orang-orang yang udah terkenal dengan memakai tagline anak galau masa kini:

Who am I? I’m nothing and you’re all just gonna ignore me. I’m nothing, hiks *insert emoticon sedih*

Saya memutuskan untuk ikut kopdar yang letaknya di Galaksi Bumi Permai.

Bukan saya namanya kalau nggak kesasar atau seenggaknya muter-muter. Saya pikir, mungkin itu bisa jadi hobby saya, kesasar dan muter-muter tiap cari jalan.

Galaksi Bumi Permai, menurut pak satpam yang ikut menyasarkan saya ke Regency 21—yang mana itu adalah alamat lain pak satpam yang terhormat—dibagi menjadi dua tahap (bukan cuma tes CPNS yang banyak tahapnya saudara, catet). Tahap satu di sebelah kiri dan tahap dua di sebelah kanan. Hint: alamat yang benar adalah di galaksi bumi permai tahap II

Dan coba tebak saya belok kemana? Tepat sekali.

Ke sebuah perumahan super besar dengan jalanan besar (sangat besar malah) dan gelap. Dingin. Mencekam. Tak ada seorangpun ditanyai.

Galaksi Bumi Permai I adalah sebuah perumahan elit yang tak pernah dihuni orangnya—karena terlalu sibuk untuk tidur di rumah—dan bersosialisasi dengan tetangga adalah hal yang tabu dan diperuntukkan untuk pembantu saja.

Saya berkeliling di sana, menelepon Ilmi dan Ilmi memberi petunjuk setelah bunderan kedua ada ada lapangan basket belok kanan. Saya cellingak-celinguk, cari-cari lapangan basket dan nggak nemu. Jadi saya belok kiri (saya orang yang bingung membedakan kanan dan kiri, sempurna sekali dengan keadaan ini).

Mulailah pencarian saya di sana, oh jalannya gelap, bagus. Tapi saya bukan orang yang percaya hantu jadi santai saja. Saya berjalan terus, hingga sampai di jalan buntu. Tanpa lampu, di sebelah lampu rumahpun gelap, tak ada orang lain. Waktu itu yang ada di kepala saya cuma:

Where the f**k is this?”

Ketika saya sadar bahwa tadi saya belok kiri bukan kanan spontan saya langsung, $#%^%#@# di kepala saya. Ini ya kalau salah belok di tempat rame gak masalah, kalau ada rampok atau apa gitu (sementara itu di depan saya ada dua orang cowok yang berjalan ke arah saya). Tidak butuh waktu lama bagi saya mengegas motor hingga keluar dari gang gelap itu, belok kanan, ah kanan! Dan cari-cari lagi nomor N5 10 itu. Yang saya temukan? Semuanya bernomor A, C dan D.

Sampai akhirnya saya bertemu pak satpam yang sedang patroli dengan sepeda, saya tanya dong ke beliau. Beliau menjawab, “oh itu tahap dua di seberang kali mbak, di sana.” Kata beliau sambil menunjuk ke kanan. Another hint: tahap dua harusnya nunjuk ke kiri, Bapak!

Dan saya keluar perumahan, cari-cari, nemu regency 21. Mungkin di sini, kata saya, lagian saya bisa mampir ke rumah temen saya atau dosen wali saya kalau kesasar (Bu prof, tolong, anak walimu ini kesasar).

Dan saya tanya ke satpam lagi, katanya saya salah. Perumahannya di sebelah mbak. Waktu itu saya mulai:

Ini Ilmi ngasih alamat fiktif atau apa sih?

Saya sudah berpikir untuk pulang saja nggak usah ikut kopdar dan menanamkan dalam hati rumahnya fiktif, Nya.

Tapi tetap saja saya teruskan, kembali ke sana, bertanya. Kata pak satpam terus aja mbak, ke kanan notok terus di pintu keluar tanya satpam lain.

Emangnya Bapak pikir ini lagi main game apa? Pake tanya satpam lain segala.

Saya lanjut terus. Nggak nemu-nemu. Nggak. Nemu. Nemu. Jalan gelap lagi, kali ini ada sekumpulan orang di depan salah satu rumah, saya pikir itu rumahnya. Ternyata nggak. Saya muter-muter lagi. Nggak nemu-nemu.

Putus asa dan mulai benci dengan tempat gelap dingin dan sepi ini saya akhirnya menelepon Ilmi. Akhirnya Ilmi berinisiatif untuk menyuruh Septia nunggu di depan gerbang.

Dan sekelebat inspirasi atau waktu itu Tuhan kasihan dengan saya yang muter-muter selama tiga puluh menit. Sayapun terlonjak, seberang kali!

Saya mengegas motor saya, HP saya jatuh karena terlalu kencang. Sempurna. Saya berhenti di tengah jalan padahal di belakang ada banyak mobil super mahal yang melaju. Peduli amat, ini HP saya, hidup mati saya, tanpa HP saya nggak bisa telpon Ilmi dan tersesat di perumahan ini lebih lama lagi.

Singkat kata, saya memang salah masuk perumahan yang ada di sebelah kiri.

Dan akhirnya, akhirnyaaa saya ikut kopdar. Saya bertemu banyak teman baru di sana. Tentunya banyak pengalaman baru.

Akhir kata saya masih menunggu Ilmi yang katanya mau memasukkan saya ke WB.

Terima kasih sudah membaca cerita saya yang memalukan ini.

 

Iklan

2 thoughts on “What Happened To Kopdar

  1. enyaaaaaaa hahahaha aku gak berenti ngakak 😆

    eh aku baru baca postingan enya, jadi baru inget enya belom masuk group :mrgreen:

    *info penting
    enya sudah aku masukin di blog 😀 maaf ya nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s