Merindukan Repetitif Membosankan

Selama ini, ketika kita sedang libur sekolah atau libur panjang (sampai tiga bulan) selepas UN, libur kuliah, kita tidak pernah berpikir liburan itu membosankan. Kita bersenang-senang, tidur-tiduran di rumah, menonton tivi sampai malam, bermalas-malasan, tidak ada yang kita pikirkan dan kita bahkan bisa tidur dengan nyenyak di malam hari.

Dua bulan, ah tidak, hampir tiga bulan terakhir ini saya diserang insomnia. Saya orang yang suka tidur, sangat malah, jadi saya mulai merasa aneh kenapa saya bisa terkena insomnia?

Sekarang saya tahu, selama libur UN, libur kuliah dan libur sekolah kita menikmatinya karena kita tahu pada akhirnya akan ada hari dimana kita tenggelam dalam repetitif membosankan setiap hari. Dan hey, mumpung liburan mending saya malas-malasan saja sebelum kembali sibuk dengan tugas, PR, guru, dosen, praktikum, presentasi dan hal-hal lainnya (yah, pacaran juga bisa disebut).

Sementara sekarang saya dalam posisi jobseeker atau istilah kasarnya pengangguran. Tidak ada hari repetitif yang saya tunggu, tidak ada hari libur malas-malasan yang saya hitung makin menipis hari demi hari. Yang ada hanya ketidakjelasan sampai kapan saya harus tetap dalam posisi yang sama, berulang-ulang, kemudian—tanpa saya sadari—sesuatu itu menjadi repetitif. Tidak ada yang bisa dipikirkan, sekadar, besok pakaian apa yang saya pakai (meskipun saya nggak pernah mikir masalah pakaian) dan siapa yang sudah mengerjakan tugas terlebih dahulu.

Entahlah, saya hanya, capek tidak mengerjakan apapun. Bahkan repetitif menyebalkan ini membuat saya malas untuk melakukan hal yang biasanya saya kerjakan di sela-sela kuliah; membaca. Dahulu, saya memilih membaca daripada mendengarkan ocehan dosen sekarang saya hanya terlentang di tempat tidur tanpa ada minat dengan membaca.

Badan saya capek tanpa sebab, saya tidak bernafsu untuk berbicara atau memulai pembicaraan dengan orang lain, akhir-akhir inipun saya mulai kesulitan untuk mengingat kata yang ingin saya ucapkan (mungkin ini pengaruh komunikasi, dalam masa panjang repetitif penuh deadline membosankan saya selalu berkomunikasi hal penting sampai tidak penting, sekarang saya hanya berkomunikasi satu arah—buku, internet ataupun pada diri saya sendiri).

Oh, dan jangan lupakan tatapan tanpa suara orang-orang sekitar kita. Yang jika mereka mulai bertanya satu kalimat menjengkelkan seolah hanya untuk basa-basi itu membuat saya harus menampakkan senyum. Tidak ada yang tahu bagaimana tekanan luar biasa yang dapat dihasilkan satu tatapan saja, bukan, saya rasa tidak ada yang memikirkan itu.

Saya … saya benci mengatakan ini, semoga secepatnya saya kembali terjebak dalam repetitif penuh deadline. Saya harap Tuhan mendengar do’a saya.

Iklan

2 thoughts on “Merindukan Repetitif Membosankan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s