Favorite Movie All Time: A Beautiful Mind

Ada beberapa film favorit saya:

  1. Saving Private Ryan (film ini awalnya sedih, pertengahan sedih, akhirnya juga sedih lengkaplah sudah)
  2. Three Kings (satu-satunya film perang terlucu sekaligus ironis yang pernah saya lihat)
  3. Forest Gump (apa perlu penjelasan sama film ini?)
  4. Bridge of Therabithia (film yang bikin saya kenal Josh Hutcherson sekaligus ikut mewek waktu Jess mewek, tiga hari setelah lihat film ini saya masih terbayang-bayang ceritanya)
  5. A Beautiful Mind (yang mana akan saya review kali ini)
  6. Perks Of Being A Wallflower (haha, film ini, haha T_T)

A Beautiful Mind adalah film yang diangkat dari kisah nyata John Nash, seorang pemenang nobel matematika yang mengidap skizofrenia.

John Nash, pemuda yang mendapat beasiswa Carniege yang terkemuka di Princetoon. Teman-teman memanggil John Nash aneh karena dia terlalu fokus pada idenya sendiri untuk naskah jurnalnya sementara yang lain sudah menerbitkan banyak jurnal. Nash juga suka melihat penjambretan, perilaku burung dan pemain sepak bola hanya untuk melihat pola matematisnya, aneh nggak tuh?

Nash yang pada akhirnya menemukan kesalahan teori Adam Smith dan mendapat gelar doctor sekaligus lab Wheeler (yang mana masuk lab ini adalah impian semua akademisi). Ketika menjadi dosen Nash bertemu dengan Alicia yang secara terang-terangan mengajak Nash untuk keluar makan (saat itu Nash sudah menjadi professor yang bahkan dijaga polisi ruangannya). Mereka jatuh cinta, menikah dan semua baik-baik saja sampai Nash bertugas di Pentagon untuk menyelidiki kode-kode Rusia yang akan menghancurkan negaranya, Amerika.

Nash menjadi sering was-was dan panik, selalu merasa diikuti dan tertutup. Hingga suatu hari Alicia mengetahui kenyataan pahit yang dialami suaminya, skizofrenia. Dimulailah hidup Nash berjuang melawan skizofrenia dan imajinasinya yang makin memburuk bersama Alicia.

Setiap saya melihat film ini saya nggak bisa nahan kecuali kagum dengan Nash, Alicia dan orang-orang sekitarnya.

Perubahan Nash yang percaya diri akan kemampuannya untuk mendapat ide baru hingga ragu ketika Hansen melampauinya lalu kembali percaya diri dan terpuruk hingga kehilangan seluruh kepercayaan dirinya akibat skizofrenia benar-benar menyentuh. Yah mungkin pemenang Oscar jaminan mutu aktingnya keren yak? Tapi saya benar-benar ikut merasakan bagaimana bingungnya Nash waktu tahu bahwa teman sekamarnya di Princetoon selama bertahun-tahun ternyata tidak pernah ada, atau bahwa semua konspirasi Rusia-Amerika ini hanya ada di pikirannya.

Saya ikut sedih sewaktu Alicia memberitahu Nash bahwa dia sakit, Alicia yang sangat mencintai Nash. Dan ketika dia memilih tinggal bersama Nash meskipun tahu bahwa Nash bisa membunuhnya sewaktu-waktu akibat skizofrenia-nya semakin parah.

Juga ikut merasakan usaha Nash bangkit dari skizofrenia-nya. Obat-obatan yang membuat otaknya berkabut dia hentikan, dia berjuang mengabaikan khayalannya hingga dikira orang gila—well, skizofrenia memang penyakit kejiwaan—dan pada akhirnya tidak menggubris mereka sedikitpun hingga khayalannya benar-benar menyerah meskipun selalu ada di sana.

Oh, saya juga suka Nash yang kikuk. Nash yang nggak suka berada di orang banyak. Nash yang benar-benar blak-blakan pada Alicia. Nash yang lupa makan berhari-hari karena memikirkan pola matematis penjambretan dan usahanya untuk memecahkan kode. Dan cinta Nash pada Alicia.

Meskipun setelah saya googling saya menemukan kenyataan bahwa tidak semua yang ada di film ini sama seperti kehidupan John Nash. Misalnya, Nash dan Alicia sempat bercerai meskipun akhirnya Nash kembali menikahi Alicia di tahun 2000-an. Dan Nash tidak berpidato pada penganugeraahn Nobelnya dan tidak mengatakan apapun mengenai Alicia yang membuatnya bertahan (padahal di film bagian ini mengharukan).

Yang saya pelajari dari film ini, seberapapun besarnya halangan, sekikuk apapun anda dan sekuat apapun dunia bersatu untuk menghalangi anda mencapai apa yang anda inginkan semuanya bisa teratasi jika kita berusaha keras. Sangat keras kalau bisa hingga dunia yakin bahwa menghalangi anda sudah tidak relevan lagi.

Dan ini adalah wajah asli John Forbes Nash Jr sewaktu muda, yang menjadi inspirasi film ini: (cukup ganteng buat tahun 1947 dan sepadanlah samaRussel Crowe)

Ini John Nash masa kini:

Iklan

2 thoughts on “Favorite Movie All Time: A Beautiful Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s