V for Vendetta, a Review

V, seorang yang selalu memakai topeng Guy Fawkes dan wig rambut bob sebahu (saya inget Dora deh), menggemparkan seluruh London dengan tindakan terorismenya. Membunuh uskup, politikus terkenal dan ahli forensik yang ternyata dahulu adalah ahli botani. Bertindak dengan selalu memakai topeng dan meracuni korbannya dengan obat-obatan V menjadi kejar-kejaran polisi, namun polisi kesulitan mencari jejaknya karena, yah, V tidak pernah meninggalkan jejak—kecuali satu; Evey.
Evey, wanita yang bekerja di stasiun tv BTN yang telah menyelamatkan V (ini sebagai balas budi karena V menyelamatkannya dari perkosaan). Dengan Evey yang sama-sama memunyai masa lalu yang kelam V merasa senasib, perlahan V mulai jatuh cinta pada Evey dan membuat pandangannya berubah.
Hingga sampai pada rencana penyerangan terakhirnya, membunuh kanselir yang tiran. V, yang telah menjadi ikon revolusi bagi warga London yang kecanduan menonton tivi mengirimkan topeng Guy Fawkes ke setiap warga London dan meminta mereka melakukan revolusi, bersamanya. Apakah V berhasil membunuh kanselir?

Oke, ada dua hal dalam film ini. Pertama, saya orang yang punya feeling akan film, sebelum melihat film saya punya feeling film ini bagus atau jelek dan biasanya saya benar. Untuk film ini, feeling saya jelek, ternyata feeling saya masih belum salah.
Kedua, dari judulnya awalnya saya pikir ini film komedi-romantis dibintangi Adam Sandler dan sekutu-sekutunya XD, maaf penggemar topeng Guy Fawkes.
Saya suka ide film yang diangkat dari buku komik ini, heroin yang sampai di akhir film-pun penonton nggak tahu wajahnya dan hey, film ini juga sukses tanpa pemeran utama berwajah ganteng (kalau topeng Guy Fawkes disebut ganten ya nggak apa-apa sih).
Sayangnya, semua terasa menggantung di film ini. Tidak ada yang terlalu fokus, terlalu banyak cabang. Saya belum sampai mewek sama masa lalu kelam V eh tanpa dinyana cerita udah berubah ke penahanan Nicole Kidman (Evey). Dan V sebagai ide, V adalah representasi semua orang saya masih belum mendapat kenapa V itu ide, karena menggerakkan revolusi? Tapi faktor lain harusnya lebih digali makin dalam supaya penonton—setidaknya saya—ikut percaya bahwa V adalah ide (saya sendiri percaya ide akan terkenang lebih lama daripada sebuah nama).

Alasan Evey harus disekap dan rambut Nicole Kidman digunduli juga bikin saya jadi, wait … what?! (menurut saya mending Evey tetep umur 17 kayak di komiknya biar nggak rancu ceritanya deh) dan hubungan percintaan merekapun terlalu cepat hingga, sekali lagi, nggantung.
Si kanselir tiran di sini juga kayak Hitler karakternya, entah saya aja atau kemiripan karakter itu cukup mengganggu. Dan settingnya juga nanggung, terlalu masa depan nggak tapi di masa kini juga nggak. Saya suka setting London di sini supaya nggak semua film monster, hero, atau apapun itu selalu bersetting di Amerika (kayak semua negara di dunia cuman Amerika aja), tapi Londonnya nanggung banget.
Dan aktingnya, ini yang paling mengganggu. Kecuali si kanselir yang menggebu-gebu persis Hitler dan V yang meskipun tanpa wajah dari suaranya ketahuan ekspresinya semua pemain film ini berakting dengan lumayan buruk. Nicole Kidman terasa flat, polisi-polisi di film ini wajahnya datar-datar aja, entahlah mereka semua kayak membaca naskah bukan berakting.
Yang saya suka dari film ini adalah, V tidak ditunjukkan wajahnya sama sekali (sekali lagi ini keren). Kedua, topeng Guy Fawkes yang sekarang terkenal sebagai topeng yang digunakan para hacker anonymous. Jujur aja yang membuat saya pengin lihat film ini ya karena topeng terkenal itu.
Saya sendiri lebih tertarik dengan sejarah di balik topeng Guy Fawkes dan bagaimana V dapat menjadi ikon anonymous. Topengnya keren ngomong-ngomong, tertawa terlalu lebar hingga jadi aneh dengan kumis dan pipi merahnya. Dan saya sendiri lebih suka cerita Guy Fawkes, ah man, Guy Fawkes ….
V, sebuah ikon seperti Martin Luther King, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, pedagang buah di Tunisia yang membuat setengah benua Afrika menginginkan reformasi, terkadang membuat saya bertanya betapa kuatnya pribadi-pribadi mereka sampai mampu menggerakkan seluruh orang untuk setuju melawan tirani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s