I Survived Catching Fire, A Review

Pertama: Bridge to Therabithia, Perks Of Being A Wallflower, Catching Fire adalah bukti kalau anda ingat plot, mengerti dan—yang pasti—membaca bukunya sebelum membuat film maka film itu akan jadi keren. K. E. R. E. N. Hai para sutradara yang mau bikin film based on the book harusnya ingat hal ini. Dan seperti yang dikatakan Artika waktu dia lihat langit runtuh di catching fire, “AMAZING!”

Kedua: mengingatkan saja I have a huge fangirl crush in this series especially Catching Fire, this book is my favorite book of the series so I’m gonna let my fangirl heart out this time. When I love something I have the urge to talk about it all the time and this is the time. Sorry not sorry.

Ketiga: Saya tahu film ini bagus dan sangat pas dengan buku adalah ketika saya nggak perlu baca subtitle buat tahu dialog selanjutnya (saya bahkan cuma baca subtitle sekilas-sekilas, takut kalau baca semuanya saya bakal ketinggalan satu scene di film ini)

Keempat: oke, oke, kita mulai aja reviewnya.

Setelah memenangkan Hunger Games Katniss Everdeen dan Peeta Mellark harus melalui Victory Tour berkunjung ke distrik-distrik lain merayakan kemenangan mereka. Katniss yang masih merasa canggung di dekat Peeta terpaksa harus menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengannya. Presiden Snow yang melihat bakat pemberontakan Katniss segera tahu bawa dia dan Peeta hanya berpura-pura, Snow ingin Katniss meyakinkannya bahwa tidak akan ada lagi pemberontakan.

Namun setelah pemberontakan yang terjadi di distrik 11 Snow bersama Plutarch akhirnya memutuskan diadakannya Quartell Quell, peraturan Quartel Quell yang biasa adalah bukan sepasang yang akan maju ke Quartel Quell melainkan dua pasang untuk setiap distrik. Katniss dan Peeta yang akan menjadi mentor untuk anak-anak yang akan maju ke Quartel Quell dihadapkan pada kenyataan bahwa tahun ini Quartel Quell akan diikuti oleh para pemenang Hunger Games sebelumnya yang masih hidup. Yang artinya dia akan kembali ke arena.

Marah, kecewa dan terlalu lelah dengan permainan Capitol Katniss dan Haymitch berjanji untuk melindungi Peeta apapun yang terjadi di arena, menjaga Peeta tetap hidup, karena Katniss telah berhutang banyak pada Peeta. Apakah Katniss dan Peeta berhasil melewati Quartel Quell?

Ada beberapa hal yang bikin saya ergh sama film ini sih. Pertama, kenapa ada banyak Galeniss (Gale and Katniss, red) kiss? Ini Lionsgate mau bikin Twilight ala dystopian atau apa sih? Sudahlah Lionsgate jangan terlalu maksa Suzanne Collins, toh fans bukunya juga udah tahu buku ini itu tentang Revolusi dan keberanian (dan tentu saja cinta antara dua manusia), lagian kalau Katniss ada dia pasti bilang, “ugh I’m the symbol of rebellion, Snow wants me and Peeta die. I don’t have time for this love triangle shit.

Kedua, mana scene si Katniss lagi bikin buku tanaman obat yang dibantu Peeta terus dia jelasin satu paragraf soal bulu matanya Peeta. Mana?! Itu scene favorit saya di buku—selain beach scene and nightmare scene tentunya. Terus rooftop scene, kenapa scene paling potensial buat membangun Everlark di mata non-reader fans disia-siakan? Kenapa?! Dan Everlark (Everdeen dan Mellark) di sini masih nggak jelas, saya yakin semua yang belum baca THG pada bingung ini Katniss sukanya sama Peeta apa Gale sih, galau banget. Kenapa? Kenapa nggak ada yang bisa lihat kalau Katniss cuma suka Peeta, titik.

Ketiga, nggak ada ketiga sih sisanya semua yang ada di film ini peerffeect. Detail-detail kecil yang dimasukin Francis Lawrence di film ini, bahkan sassy Peeta yang bikin saya, “yay! Finally we get sassy Peeta.” Dan saya langsung berkata dalam hati, thank God for Francis Lawrence, oh God why for Gary Ross, like, do you read the books Gary? Just watch Francis and his beautiful soul there.

Oke, dum dum dum dum sekarang waktunya saya berfangirl ria. Maafkan saya review ini bakalan sangat panjang.

Effie Trinket, dia keren banget di film ini. character development dari Effie kelihatan jelas, dia yang semula senang sekali setiap ada Hunger Games harus sangat sedih karena para pemenangnya, yang dia sayangi, harus kembali bertarung di arena. Kalimat Effie yang terakhir untuk Peeta dan Katniss benar-benar ngena di saya. Dan that iconic mahogany thing, I was like bananas! when I saw that.

Johanna Mason, the badass tribute. Saya nggak nyangka Jenna Mallone bisa meranin tokoh yang paling sassy dan tokoh ketiga yang saya suka dari series ini, dia kuat banget karakternya. Adegan di elevator itu misalnya, waktu dia minta Peeta buat bantu unzip (aduh, saya lupa bahasa Indonesianya selerekan apa yak? -_-, what a time to forget a word eh?). Terus interview-nya dia bersama Caesar. Waktu dia bilang mau bakar halamannya Snow. Waktu dia udah nggak tahan sama Wiress dan omongan tick tock yang diulang-ulang itu. Itu. Johanna. Yang. Ada. Di. Buku.

Finnick Odair. Oh saya harus mulai dari mana sama karakter satu ini? Waktu dia goda Katniss di sugar cube scene, itu Finnick banget. Waktu dia diwawancara Caesar dan semula saya ngerasa itu ungkapan perpisahan buat Annie tapi kemudian dia mengakhiri dengan kalimat, “I’m gonna miss your lips.” Itu Finnick banget. Waktu dia sassy ke Katniss yang nggak percaya sama dia. Waktu dia sedih karena Mags, ekspresinya waktu Mags ke kabut T_T, itu Finnick. Sam Caflin is the best, like, all of THG cast are the best.

Peeta frickin Mellark. Di film yang pertama karakterisasi si Peeta jelek banget, saya sampai sebel sama Gary Ross. Peeta di sana cuma jadi pengikutnya Katniss yang sangat tergila-gila sama Katniss sementara Katniss the badass yang nyelametin Peeta, dia kayak anak culun yang nggak tahu apa-apa. Di film ini, thank God for FLaw, Peeta udah lumayan kuat karakternya, si sassy Peeta, sarkastiknya, Peeta yang pandai bikin rencana, Peeta yang ngomong nobody needs me tanpa rasa mengasihani diri. Bisa kita beri Josh tepuk tangan dulu karena sudah menghidupkan Peeta? Josh, I see no Jess here, just Peeta and Peeta is Josh and you look so foooiinneee as Peeta, that hair, that face, that face!

Oke, saya mau list adegan Everlark yang saya favoritkan:

Beach scene. Saya pengin puk-puk Peeta waktu dia ngomong, nobody needs me. Rasanya pengin bilang aku butuh kamu kok, aku butuh kamu buat muncul lagi di Mockingjay! Dan Josh, aktingmu aktingmu! Apa-apaan aktingmu!

Elevator scene. Peeta di sini bener-bener kayak anak kecil waktu Johanna memperlihatkan itu. Dia noleh ke Katniss terus kayak bilang, eh Katniss ini bener? Kamu kayak gini juga? Wow! Ini keren banget, aku gentleman banget nih, ah aku keren. Aku cowok sekarang, Katniss, aku cowok!! And he frickin checking out Johanna :3

I am Katniss, Katniss is me. 

Baby bomb, atau waktu Peeta bilang kalau mereka sudah menikah dan Katnis sudah *cough* hamil *cough*. Ekspresi Peeta habis bilang kayak gitu, “ah kena lagi deh Capitol” and that little smirk. Dan ekspresi Haymitch kayak orang tua yang bangga sama anaknya, “that’s my boy!”

See you at midnight scene. Ini, Scene yang nggak mau saya lihat karena ini terakhir kali kita akan lihat the old sweet Peeta. Tatapan yang diberikan Peeta waktu mereka kudu berpisah, lalu Katniss yang langsung berlari ke Peeta, ah my heart can not handle Mockingjay.

CPR scene. Gimana saya bisa lupa scene ini? Finnick kasih CPR ke Peeta, dua karakter favorit saya. Saya suka gimana Katniss tetap ada di sisi Peeta (di buku Katniss didorong Finnick sampai nabrak pohon supaya nggak ganggu Finnick dan Peeta, oh whoo kalimatnya harusnya nggak gini :p) dan gimana Katniss yang gemetar langsung meluk Peeta lalu wajah bingung Finnick ke mereka.

District 11 scene. Waktu Peeta ngerasa dihianati, here comes sassy Peeta. Saya suka dia neriakin Katniss dan Haymitch kayak, hey aku hidup loh di sini, punya keluarga juga. Inget? Inget?!!

Fog scene. Mags *cries* karakter sampingan favorit saya, Mags … anda bisa nggak punya dialog satupun di film tapi tetap kelihatan fenomenal, begitulah Mags, nggak bicara sekalipun tapi diingat hingga akhir film.  (eh, ini bukan Everlark ya? Biarin deh)

Hovercraft scene. Saya suka waktu Katniss sudah diselamatkan dan Plutarch menjelaskan semua yang terjadi Katniss nggak peduli yang dia mau cuma satu, “where is Peeta?” meskipun Plutarch ngomong revolusi kek apa kek cintaku dimana? Dimana cintaku? Dan marahnya Katniss waktu tau Haymicth lupa dengan janjinya. This Everlark feel, sigh.

Lalu berlanjut pada scene-scene favorit saya selain Everlark (udah dibilang review ini kumpulan fangirling saya jadi bakal panjang)

Hallucination scene. Waktu Katnis mau manah kalkun tapi dia keinget manah orang di hunger games dahulu. Itu. Keren. Sumpah. Sebentar-sebentar, ralat! Scene favorit saya itu waktu Katniss manah arena hunger games pake kabel Beete waktu petir menyambar dan BOOM! Arena meledak, langit runtuh, hovercraft muncul. Itu keren, mengutip kata-kata Artika (teman waktu nonton di sebelah saya), “Amazing, uh mah zing.

Peeta-Katniss first met. Peeta bener-bener dingin dan Katniss jadi salting sendiri, dan waktu mereka di kamera lalu Peeta langsung bilang, “good acting.” Dengan ekspresi dinginnya.

District 11 scene. Di sini saya bisa lihat gimana Peeta di buku yang dideskripsikan jago pidato, bener-bener berkharisma. Dan suaranya Josh, dari Jess yang unyu dan belum pecah jadi Peeta yang udah pecah dan jago menaklukan hati orang, *nyanyi* while my heart gently weep. Dan waktu Katniss tiba-tiba bilang soal Rue terus ada kakek-kakek yang ngasih salut dari distrik 12 lalu si kakek ditembak dan semuanya kacau. Itu keren dan ngagetin.

Gale torture scene. Percaya deh, kalau di sana nggak ada Haymitch dan Peeta lalu Haymitch bilang, “anda bakal bunuh tiga pemenang.” Scene ini nggak akan keren. Lalu waktu ibunya Katniss gemetar dan Prim yang gantiin that’s the girl, character development yoo!

Quartel Quell scene. Wajahnya Peeta waktu tahu dia bakal kembali ke hunger games, sini-sini sayang biar saya peluk … lalu wajahnya Katniss dan perjanjian Katniss dan Haymitch, saya suka. Suka.

Reaping scene. Waktu Effie ngangkat kertas yang bertuliskan Katniss Everdeen hati saya mencelos *halah apaan sih* apalagi ekspresi kaget Katniss sewaktu Haymitch yang terpilih (yang berarti Peeta akan mengajukan diri lalu Peeta akan kembali ke arena) kemudian berlanjut ke ekspresi Effie waktu sadar pemenang kesayangannya akan kembali ke arena, saya kayak Effie, nahan nangis.

Aduh saya suka semua scene di selanjutnya. Saya gak bisa jelasin terutama scene di arena. Semuanya. Semua-muanya saya suka. Oh my god I’m so bad at this, so sorry I think I’m just gonna lurking in the corner remembering all the scenes in this glorious movie.

And also, I’m thankful for Josh and Jennifer Lawrence for being Peeta and Katniss so beautifully. I never thought my favorite books got this amazing cast on and off screen. I love the dynamic between Josh and Jenn, how Josh is so Peeta off screen and how Jenn always rebellious against fashion police just like rebellious Katniss. Ah, I love their friendship, I just hope this beautiful dynamic will become canon just like Peeta and Katniss (I meant they’ll dating in real life, just so let you all know my feeling toward them) just look at how they know each other very well in this gifset: (all this gifset is from a-world-of-our-very-own.tumblr.com)

     

     

     

     

     

Just date already you two.

Sekarang saya mau gulung-gulung di sudut kamar karena bentar lagi saya bakal sampai di Mockingjay, dimana itu buku paling saya benci karena udah bikin saya mewek. Gimana saya bisa tahan lihat Peeta di Mockingjay coba? Terutama Josh—yang saya tahu dia pasti bisa berakting bagus jadi nggak terlalu khawatir—tapi akting Josh yang sangat bagus ntar malah bikin saya mewek gimana? Jess (Josh di Bridge To Therabithia) aja bikin saya mewek sebelum dia sendiri mewek. Gimana Josh? Gimana? Kenapa sih kamu pake main di sini segala dan bikin saya baca THG dan bikin saya suka sama Peeta dan kenapa kamu musti jadi Peeta coba? Kenapa sih saya sampe suka kamu di Bridge To Therabithia dan bikin saya liat film-film kamu dan bikin saya baca THG dan bikin saya sebel sama kamu? Kenapa?!

Jujur saja, sebenernya saya baca THG waktu tahu Josh main di sana, karena fangirl crush saya padanya sejak dia di Bridge To Therabithia (yang mana juga diangkat dari buku dan itu film bagus banget). Saya nggak berharap banyak dari THG, waktu itu saya cuma diburu rasa pengin tahu karena Josh harus bikin rambutnya pirang buat film ini dan di Goodreads ratingnya tinggi banget.

Jadilah saya keliling-keliling Surabaya cari buku itu, coba tebak? Nggak nemu. Karena di Indonesia THG nggak seberapa populer. Akhirnya saya dapet THG dan CF di cuci gudang salah satu toko buku, diskon 40% whohhhoo. Waktu itu Mockingjay belum diterjemahin ke B.Indo dan saya masih gembira-gembira aja waktu selesai baca CF karena, oke Peeta ngilang tapi Katniss pasti bawa Peeta lagi. Dan ternyata Mockingjay … you throw my heart on the corner of the room and never give it back to me, rude so rude.

Selepas saya baca saya malah lupa sama Josh dan jadi fans berat buku ini. lalu saya berharap film THG nggak akan sebooming bukunya supaya saya bisa tetap jaga fangirl crush saya both THG and Josh tbh. Karena kayak kata John Green, buat buku yang sangat anda sukai anda punya perasaan aneh yang kalau nggak seluruh dunia harus baca buku ini atau nggak ada yang baca buku ini kecuali anda dan hanya spesial untuk anda.

Ini agak spoilery yah, jangan dibaca kalau nggak mau spoiler soal Mockingjay.

Di Mockingjay waktu Peeta bilang, “I’m so tired Katniss.” Saya harus nutup buku dulu, ngatur nafas dan ngatur perasaan sebelum lanjut membaca, itu kalimat sederhana yang ngena. I’m so tired Katniss. Peeta sudah capek sama semua pemberontakan ini, Snow, cara Katniss melihatnya, halusinasi-halusinasi ini, capek nggak tahu mana yang nyata mana yang bukan, capek karena harus melihat Katniss menatapnya dengan waspada padahal dia bahkan nggak tahu ada apa dengannya, terutama dia capek dengan dirinya. Dia capek dengan dirinya yang nggak bisa menjadi apa-apa untuk Katniss. Aaahhh … buku ini emang nyebelin kok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s