Starr-crossed Lovers

“Kamu balikan lagi sama Nick?” kata Josh segera setelah menutup pintu apartemen. Rambutnya masih merah, itu berarti dia masih belum selesai dengan film barunya. Dia masih memakai jeans hitam yang sama seperti ketika kita terakhir bertemu sebulan lalu—apa dia pernah ganti baju sebulan terakhir?

Yang berbeda dari dirinya dari sebulan lalu hanyalah kini dia tidak tersenyum padaku, wajahnya mengeras dan dia sedang menunjukkan majalah gossip murahan dengan cover aku dan Nick berjalan-jalan di central park tiga hari lalu. Paparazzi sialan.

“Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?” candaku. Aku membentuk lingkaran dengan telunjuk dan jempolku, ini permainan kami, kalau salah satu dari kami membentuk ini yang lainnya harus berusaha menghancurkan lingkaran ini atau kena pukul. Biasanya aku akan berlarian keliling apartemen untuk menghentikan Josh menghancurkan lingkaran ini, lalu setelah dia mengaku kalah—Josh selalu mengalah padaku—aku akan memukul lengannya dengan keras.

Hari ini Josh tidak tertarik, bahkan ketika aku memukulnya dia tidak bereaksi apapun.

No! Nggak ada acara bentuk-bentuk lingkaran, meow-meow, woof atau apalah itu.” Dia sedikit berteriak. Makin menunjukkan majalah itu ke wajahku lalu melemparkannya ke meja yang ada di depanku.

“Kalau guk-guk gimana?”

“Jennifer!” katanya.

“Oke-oke. Nick minta ketemu aku tiga hari lalu jadi kita ketemu lalu paparazzi sialan itu memotretku.”

“Jadi kalian bener balikan?” tanyanya.

Well, nggak bisa dibilang gitu juga.”

“Ya Tuhan, kamu minta aku terbang ke New York dari Madrid hanya agar aku tahu kamu udah balikan dengan Nick?” dia menghembuskan nafas kesal.

“Josh.” aku mendekat padanya, berusaha memeluknya tapi dia menghindariku ke sofa cokelat, tempatnya selalu mendengarkan ocehanku mengenai paparazzi atau Nick semalaman. “Itu cuma majalah gossip murahan, Josh. Lagian kita mau ada acara comic con di sini.”

“Lusa. Acaranya lusa Jennifer, aku meninggalkan tempat syuting karena kamu minta aku nemenin kamu di sini. Madrid letaknya nggak satu blok dari sini.”

“Kata Andre syutingmu di Madrid udah selesai jadi aku pikir nggak apa-apa kalo mau ketemu terapis ganteng gratis hari ini.” Andre sendiri adalah teman Josh yang sekarang jadi asistennya.

Josh menekan keningnya. “Aku nggak ngerti sama kamu.”

“Aku juga. Kenapa kamu bisa pas sama warna rambut pirang, merah, hitam, lain kali coba deh warnain sama pink siapa tau kamu kelihatan lebih ganteng.”

“Jenn, semua yang ada di Hawaii, malam-malam itu, lalu Georgia, dan semua tempat yang aku bahkan nggak inget lagi dimana aja, apa artinya semua itu buat kamu?”

Gosh Josh, kenapa jadi serius gini sih?” Aku tidak suka ketika Josh memanggilku Jenn, karena itu artinya serius. Entah sejak kapan dia mulai memanggilku Jennifer tidak seperti orang lain yang meskipun tak kukenal langsung menyapaku dengan Jenn, aku suka itu, rasanya menyenangkan ada yang memanggilk Jennifer secara casual—orang tuaku bahkan hanya memanggilku Jennifer saat mereka marah sama aku.

“Kamu serius nggak sih sama aku?” Josh menatapku.

I’m not sure.” Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

“Nggak yakin, oke.” Dia berjalan menuju pintu apartemen, tangannya telah ada di kenop pintu ketika dia menambahkan, “ini alasan aku nggak pernah suka New York, it gives nothing but nerves … dan kamu.”

“Hey Josh.” Liz, asistenku menyapanya ketika mereka bertemu di depan pintu. Oh, hari ini semakin baik saja.

“Hey Liz, kerja yang bagus sama majalah-majalah itu.” Katanya tanpa menatap Liz. Dia melangkah cepat dan dalam sekejab hilang dari pandanganku.

“Kenapa si Josh? Nggak kamu bagi Dorito lagi?” di Hawaii dulu Josh sempat marah padaku karena aku menghabiskan Dorito sendiri, tapi hey, itu cemilan favoritku dan dia tahu itu. Lagian dia hanya marah lima menit.

Aku menunjuk majalah dengan fotoku dan Nick bergandengan tangan di central park.

“Oh wow,” kata Liz, “jadi kamu belum ngasih tau Josh?”

“Harus ngasih tau gimana? ‘Hey Josh waktu di Hawaii itu aku mabuk. Aku kesepian, Nick mutusin aku dan ada kamu si sweet-hick-from-Kentucky jadi mungkin kita bisa lupain malam di Hawaii itu dan kembali jadi teman baik sementara aku cium-ciuman sama Nick lagi.’ Gitu?” kataku frustasi.

“Aku lupa ngasih tau mereka buat nggak muat artikel soal kamu sama Nick.”

Liz adalah sosok yang mengatur semuanya. Sementara aku dia suruh menahan untuk nggak menunjukkan jari tengah ke paparazzi Liz yang akan mengatur foto-foto mana yang boleh dimuat ke majalah. Ketika mereka menunjukkan artikel mengenai rumor kedekatanku dengan Bradley Cooper atau Sam Claflin misalnya, aku memilih Bradley dan itu yang mereka muat. Hal yang sama terjadi dengan rumorku dan Josh, semuanya tertangani dengan baik oleh Liz dan Andre. Namun mereka lupa satu orang; Nick.

“Jenn.” Kata Liz.

“Iya-iya, aku telepon Josh sekarang.” Aku mencari iPhoneku, besok ada acara comic con lalu serangkaian tur untuk film block buster kami, akan jadi masalah jika aku dan Josh terlihat nggak baik-baik aja.

Ketika Josh telah mengangkat teleponnya aku berkata, “selamat siang, pak. Saya dari LAPD, bisa bicara dengan Tuan Josh?”

“Oh anda salah sambung, ini Dave Hopson yang bicara.” Katanya.

“Oke kalau begitu Tuan Dave Hopson sepertinya saya harus bicara dengan anda. Begini, katakan pada Tuan Josh—yang saya yakin sekarang sedang sibuk menggigiti sedotan—bahwa Jennifer ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya.”

“Kata Josh dia nggak mau bicara dengan Jennifer.”

“Ayo dong Dave Hopson ini Jennifer yang bicara, artis pemenang Oscar, nggak ada yang nolak permintaan maaf pemenang Oscar.”

“Ya, Josh baru saja melakukannya Nona Jennifer.”

“Memang Josh ngapain sampai nyerahin telponnya ke Dave Hopson?”

“Sibuk.”

“Oke, Josh udah cukup main-mainnya. Aku serius minta maaf.”

“Udah dibilang ini Dave Hopson, Jennifer. Josh lagi sibuk mengencani penggemarnya sekarang.”

Aku menghela nafas panjang. “Di Hawaii, Georgia dan tempat manapun juga bersama denganmu, itu hari-hari terbaik yang pernah kurasakan. Denganmu aku nggak usah takut salah ngomong atau apa karena tau kamu pasti membantuku. Nilai plus lainnya denganmu aku nggak perlu terpaksa minum teh tanpa gula seperti yang selalu kulakukan kalau sama Nick.”

“Kalau begitu sekarang Josh yang bicara. Ada apa Jennifer? Kamu nggak lagi tergila-gila sama aku dan nembak aku lewat telepon kan? Aku tau aku ganteng tapi, God Jennifer stop flirting with you co-star.”

“Sialan kamu Josh.” Kataku seraya tertawa.

***

 P.S. ini pertama kalinya saya bikin fan fiction. Sebelumnya saya nggak begitu suka fan fiction tapi setelah baca salah satu fan fiction di sini tiba-tiba saya pengin bikin Fan fiction tentang Josh dan Jennifer. :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s