Day 3 Song Literature: Cahaya Bulan (Ost. Gie, Eross)

Aku orang malam yang membicarakan terang, aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang.

Budi tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti. Kenapa mereka harus merangkak? Kenapa mereka harus dimaki, minum dari botol yang sama padahal jumlah mereka seratus orang lebih dan kenapa kepala teman-temannya diinjak ketika mereka sudah lelah merangkak? Budi tidak mengerti sama sekali.

Sejujurnya Budi suka tempat ini. Bintang terlihat terang di sini, banyak sekali sampai Budi tidak bisa menghitungnya. Belum lagi udaranya yang sejuk, dia selalu suka alam. Alam tidak pernah menghianati kita meskipun kita berkali-kali menghianati alam.

Sekarang Budi tidak tahu lagi akan menyukai tempat ini atau tidak. Dia tidak bisa melihat bintang, menghirup segarnya embun di pagi hari atau sekedar merasakan segarnya air sungai. Budi sangat lelah, dia sudah cukup lelah naik tangga ke lantai tiga di sini dia harus melakukan semua yang prajurit TNI lakukan.

Dalam lelahnya Budi pernah berpikir jangan-jangan dia salah masuk sekolah, jangan-jangan ini sekolah TNI atau semacamnya yang mengharuskan kegiatan fisik tapi Budi tidak sempat memikirkan jawabannya; karena dia sudah terlalu lelah.

Di tenda Budi selalu mendengarkan teman-temannya berbisik karena di sini berteriak terlalu kencang hanya diperbolehkan untuk mereka yang lebih tua. Budi tidak lebih tua, teman-temannya juga karena itu mereka harus berbisik terutama jika mengomel mengenai kelelahan dan tidak relevannya kegiatan ini. Budi sangat lelah sampai dia lelah mendengarkan bisikan mereka. Dalam pikirannya Budi menyesali menjadi mahasiswa, namun sekarang ijazah mahasiswa sama dengan ijazah SMA cita-citanya yang terlanjur tinggi tidak akan tercapai dengan ijazah SMA yang setara dengan ijazah SMP.

Budi selalu suka bulan, malam ini bulan purnama. Awan mengayomi bulan bagai janin dalam lindungan ibu. Kepalanya menengadah menatap bulan di atas, di sebelahnya kini beberapa temannya telah diteriaki, beberapa dipaksa maju ke depan, beberapa lainnya—Budi tidak ingin menjelaskan, karena itulah alasan utama Budi menengadah.

Kepada bulan Budi berbisik di dalam hati—di sini dia terbiasa berbisik bahkan di dalam hatinya—apakah kita harus begini untuk mengatasnamakan kekompakan? Bahkan ketika TK guru-guru Budi menyuruhnya dengan halus sambil tersenyum ketika mereka harus bernyanyi bersama, mereka melakukannya dengan gembira. Budi tahu tidak relevan membicarakan masa kanak-kanak dengan kehidupan nyata tapi ingat Budi semua orang tua ingin kembali pada masa kanak-kanak mereka, jadi kenapa? Kenapa Budi tidak boleh menginginkan hal-hal seperti itu di sini. Manja? Hanya orang munafik yang mengatakan mereka bukan orang manja. Semua orang manja. Ah persetan, batin Budi, manja adalah watak asli manusia yang tidak pernah hilang.

Budi benar-benar lelah. Hey bulan, apa kamu tidak lelah selalu memantulkan cahaya matahari? Bagaimana rasanya tidak punya cahaya sendiri?

Lalu Budi lelah bertanya pada bulan, lelah bertanya pada dirinya sendiri, lelah bertanya pada sekitarnya. Budi akan mencari jawaban atau setidaknya Budi menginginkan jawaban.

Budi menurunkan kepalanya, menatap orang-orang yang membuatnya terbiasa berbisik. Malam ini, Budi tidak mau berbisik lagi. Dia menatap teman-temannya yang sedang menunduk, ada beberapa yang dia lihat menangis.

Budi, yang sudah lelah bertanya, maju ke depan. Orang-orang yang membuatnya berbisik berteriak nyaring padanya, mengumpatinya karena maju ke depan. Sudah Budi bilang dia lelah berbisik karena itu maju ke depan.

Kini, dengan suara paling lantangnya selama tiga hari—oh tidak bahkan selama belasan tahun hidupnya—Budi berteriak, “tenang kawan-kawan, aku akan melindungi kalian! Jangan berbisik lagi!!”

Orang-orang yang membuatnya berbisik mengerumuni Budi. Teman-temannya yang terbiasa berbisik mereka disuruh untuk berbalik, dengan berteriak. Kemudian … Budi rasa semua orang tahu yang terjadi kemudian.

Cerita ini terinspirasi dari berita ini dan juga dari lagu Ost. Gie cahaya bulan yang bisa dilihat di youtube ini lagunya enak ngomong-ngomong. Bikin adem.

Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya tapi saya sendiri tidak setuju dengan OSPEK dengan kekerasan. Entahlah menurut saya masih ada banyak cara untuk menjadikan seseorang itu kompak dan dekat. Dan dari pengalaman saya yang masih sedikit di dalam kehidupan, semua sahabat-sahabat saya tidak saya dapat dengan paksaan dan saling berteriak untuk mengenal satu sama lain. Mungkin saya salah tapi saya lebih menyukai cara pramuka membentuk kekompakan. Tapi, maaf kalau saya salah, Nabi Muhammad ketika dihadapkan makanan yang tidak disukainya hanya pergi tanpa berkomentar tidak membentak karena menyajikan masakan yang salah pada beliau.

Oh ya, ini sudah hari ketiga Songlit saya yay! besok rencananya mau lagu Jepang atau Korea hihihi … postingan lain bisa dilihat disini dan disini 

Iklan

One thought on “Day 3 Song Literature: Cahaya Bulan (Ost. Gie, Eross)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s