Day 6 Song Literature Challenge: Waiting (IU Cover)

Saya baru sadar lima hari terakhir saya pake lagu cowok semua. Dan sekarang saya mau pake lagu cewek, iya, ini lagu Korea. Dan iya, ini lagu waiting cover IU yang cantik itu di Dream High. Iya, di cerita ini liriknya saya bikin bahasa Inggris karena saya nggak paham bahasa korea. So, Enjoy. 😀

While I was waiting  for you,

Di taman ini hanya ada kucing yang bermalasan di depanku. Menjilati kakinya yang gatal. Menggeliat sebentar lalu berjalan pergi. Kini benar-benar tinggal aku di sini.

Kurogoh saku celanaku untuk mengambil ponsel. Layar di ponselku mati. Tidak ada telepon ataupun pesan masuk.

Bahkan angin tidak datang ke taman ini. Hanya aku. Aku dan daun pohon mangga yang tak sengaja jatuh di sebelahku. Kutengadahkan kepalaku ke atas sembari menggenggam erat ponselku.

Aku masih menunggu di sini. Dan aku berharap.

I’ve been thinking that you’re so painful after you left me,

“Aku udah nggak bisa…” katamu berpuluh menit yang lalu. Di kursi ini. Di sebelahku.

“Kenapa?”

“Terlalu banyak alasannya…aku bahkan nggak tau lagi harus mulai dari mana.” Jelasmu. Mata besarmu yang selalu kukagumi itu menatap lurus padaku. Ada yang aneh dari mata itu.

“Kalau begitu mulai dari alasan paling besar. Mulai satu-satu.”

“Tanpa kujelaskan kamu juga tau kenapa alasannya!” nadamu meninggi kala itu. Angin menerbangkan rambutmu, membuatnya menutupi sebagian wajahmu. Dengan gusar kau hempaskan rambutmu ke belakang. Rambut yang selalu kusukai. Wanginya. Dan kelembutannya.

“Nggak! Aku nggak tau! Makanya jelaskan padaku sekarang! Aku sama sekali nggak tau!” aku masih bersikeras. Kamu tahu aku keras kepala. Dan biasanya kau akan diam begitu kutinggikan nadaku.

Tapi  kala itu. Berpuluh menit yang lalu. Kau tak diam.

“Itu salah satunya! Aku capek.” Kamu berdiri, menatapku dengan tatapan asing yang tak pernah kukenal. Lalu kamu pergi.

so you’re crying on the way back to me.

Kulihat punggungmu menjauh dari bangku ini, punggung mungil yang indah. Yang ingin selalu kupeluk tiap kurasakan kerapuhannya. Kakimu berjalan makin cepat. Cepat. Dan cepat menjauhiku.

Tidak inginkah kamu kembali? Atau setidaknya menoleh padaku?

Can’t I see you again?

Bisakah? Hanya ingin mengetahui satu hal.

Kutekan salah satu tombol di ponselku. Meneleponmu. Menempelkan ponsel di telinga sambil berharap suaramu yang kudengar di detik selanjutnya.

Hanya nada sialan itu. Nada sialan yang terus berulang-ulang.

Kolam ikan di sebelahku memantulkan wajahmu. Di sana ada senyummu yang selalu mengembang lebih lebar dari orang kebanyakan. Lesung pipimu. Kantung matamu yang kurasa sangat memesona. Dan di sana, kulihat matamu.

Can’t I see you again? I can’t see me In your eyes

Tidak ada yang bisa kulihat sekarang. Aku seperti peramal yang kehilangan batu kristalnya.

Bisakah? Sekali lagi saja. Tidak bisakah?

***

Comfortable waves and remains of the smile make me cry.

Dan kamu tahu aku benci menangis. Tapi seperti yang kukatakan dulu, berpuluh bulan lalu di taman itu pada diriku sendiri. Aku adalah peramal yang kehilangan batu kristalnya.

Peramal yang setengah mati ingin batu kristalnya kembali hingga kucuri batu Kristal orang lain. Tapi, tiap peramal hanya punya satu batu Kristal, ‘kan? Dan aku sudah menghilangkan milikku.

Kalau saja kamu mau menoleh padaku kala itu.

You’d come back to me

Aku tahu itu. Aku yakin itu.

Ketika kulihat punggungmu berjalan melewatiku. Lalu punggung yang selalu rapuh itu mengenali tuan tempatnya dipeluk.

Dia mendekat.

Kau mendekat.

Kita saling tatap untuk beberapa saat. Meneliti perubahan masing-masing.

“Kamu tidak berubah.” Itu katamu. Tersenyum.

Ah, kurasa sudah kutemukan batu kristalku.

“Kamu juga.”

Don’t hesitate to come to my arms if your heart called me
Seperti dulu. Saat kamu pertama mengenalku. Dengan senyum terlebarmu kau menyapaku.

“Kita…satu fakultas.” Ucapmu dengan suara merdumu. Yang hampir membuatku tak bisa menjawab.

“Iya, satu fakultas.”

“Jadi rasanya kita bisa jadi teman.” Kau ulurkan tanganmu, “Soalnya kalau OSPEK gini nggak ada temannya nggak enak. Nggak bisa nggosipin kakak-kakak panitia yang nyebelin itu.” Kau tertawa. Dengan tawa lepasmu yang membahana.

Dan aku menerima uluran tanganmu.

I’ll hug you like I did before

Seperti dulu. Ya, seperti dulu.

Saat punggungmu masih terlalu rapuh dan aku yang akan menguatkannya.

Don’t hesitate to come to my arms if your heart called me. I’ll hug you like I did before

Kita masih saling tersenyum canggung. Hingga kubuka mulutku.

“Jadi, gimana kabarmu?”

“Baik. Kamu sendiri?”

Aku hanya mengangguk. Bohong.

“Gimana kuliah? Kita satu fakultas kenapa aku jarang lihat kamu sekarang?”

Kuhelakkan nafasku cukup berat, “Aku kuliah kok. Fakultas ini, ‘kan besar jadi biasa kalau jarang ketemu.”

Kamu tersenyum seperti senyummu yang dulu. Senyum sebelum kau membuatku menunggu punggungmu berbalik di taman itu.

“Oh ya,” ucapmu sambil melihat jam tanganmu, tak mendengarkan apa yang kuucapkan, “Aku ada kuliah nih, pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi.” Kau lambaikan tanganmu padaku. Berlari meninggalkanku.

Kulihat punggungmu menjauh dan menghilang di lorong fakultas yang panjang ini.

When I look at you, I hope. On a clear day you will come back to me just like when you left me.

Yay! akhirnya selesai juga tantangan untuk diri saya sendiri.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s