#1 Songlit Challenge: It’s Always Been You

First Songlit Challenge brought to you by Ilmi with:

Cinta Datang Terlambat by Maudy Ayunda

Yo! Akhirnya tantangan lain selain Piclit (yang mana saya belum menyelesaikan *garuk-garuk tembok*) datang juga. Terharu ternyata Piclit yang nggak jelas ditungguin *sobek tisu* (quote dari Fiqih).

Daaan … inilah Songlit saya dari Maudy Ayunda. Ayo Septia, Fiqih, Atut, Tutus dan Ilmi kita mulai seneng-senengnya (dan deadline-nya jadi tiga hari ya?)

****

Semua orang tahu aku tidak berbakat dalam mengingat sesuatu. Aku lupa dimana kacamataku, dimana bukuku, dimana kunci motorku dan beberapa kali aku lupa dengan janji kita. Saat itu aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini—karena kamu.

Kamu seperti jam Swiss yang diproduksi ulang dan bertebaran di pasar malam Indonesia, tidak pernah terlambat mengingatkanku. Kamu seperti gajah, tidak pernah lupa. Kadang aku berpikir jangan-jangan kamu mengingat cat hijau toska tempatmu pertama mengenal dunia, kamu ingat bagaimana kedua orang tuamu menangisimu yang masuk ke dalam dunia dengan selamat dan kamu ingat tangisan pertamamu. Ketika aku mengatakan itu padamu kamu hanya tertawa.

Tertawa.

Aku takut aku melupakan tawamu seperti aku melupakan hal-hal kecil lainnya. Aku takut melupakan wajahmu, melupakan caramu mengingatku. Aku takut melupakan langkahmu yang besar-besar namun sengaja kamu perlambat agar aku dapat menyamainya, lalu kita bergandengan tangan; seperti sebelumnya.

Sama seperti aku takut mempersempit jarak diantara kita, seperti aku takut mengikat jarak kita agar selalu sama. Aku pernah bercerita tentang orang yang sangat takut mati di dalam lemari pendingin lalu di pagi harinya orang-orang menemukannya mati, bukan oleh hawa dingin karena lemari pendinginnya mati tapi oleh ketakutannya sendiri. Aku rasa aku salah satunya.

Aku tidak berbakat dalam mengingat namun beberapa saat terakhir aku pandai mengingatmu. Menelusuri jejakmu diantara remah kenangan di penjuru hidupku.

Amplop biru kecilmu yang berbau kamu, purba matahari, masih belum kubuka karena ketakutanku. Kini amplop ini masih belum kubuka karena takut akan menyerbuku dengan kamu, mengikatku di tembok dan memaksaku merapalkan namamu berkali-kali sementara penyesalan menyusup perlahan-lahan dalam diriku.

It’s always been you

Tiga ratus tiga puluh hari setelah pikiranku mulai kabur akanmu. Tiga ratus tiga puluh hari setelah aku berhasil meminimalisir ingatan gajahku akanmu. Tiga ratus tiga puluh hari setelah aku menemukan jam Swiss palsu merek Indonesia lain, kutemukan amplop itu terbuka. Satu kalimat itu menghancurkan tiga ratus tiga puluh hari aku mencoba lupa meletakkan dirimu dari pikiranku.

Kini aku berharap aku dapat lupa dimana aku meletakkan pikiranku agar aku tak terus memikirkanmu.

Serius deeh kenapa setiap saya insert URL youtube nggak pernah muncul jadi kotak video sih? kenapa? kenapa?

Betewe, ayo siapa orang kedua yang mau nantang Songlit?

Iklan

11 thoughts on “#1 Songlit Challenge: It’s Always Been You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s