#2 Pelangi Di Malam Hari

Seorang pemuda berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. langkahnya terseret kelihatan sangat berat. Matanya seperti malam, gelap tanpa cahaya. Pakaiannya yang serba hitam lebih memancarkan rasa kesepian pemuda itu daripada kegagahannya.

Pemuda itu memasuki salah satu bangsal rumah sakit. Disana berderet empat tempat tidur. Hanya dua yang terisi. Satunya diisi oleh seorang wanita tua yang dikelilingi oleh keluarganya, tubuhnya sangat kurus dan disekujur tubuhnya sudah tertusuk berbagai macam peralatan rumah sakit yang orang awam seperti dirinya tidak tahu.

Dan yang satunya lagi ditempati oleh anak laki-laki yang masih sangat muda. Kulitnya bersih tidak menunjukkan tanda-tanda anak ini mempunyai penyakit. Tapi nasibnya sama seperti perempuan tua tadi. Dipenuhi peralatan rumah sakit. Mulai dari jarum infus, ventilator sebagai alat bantu pernafasan, hingga alat pendeteksi detak jantung atau entah apa namanya.

Indra, pemuda bermata sayu tadi duduk di sebelah anak laki-laki yang masih menutup matanya. Pemuda itu duduk. Hanya duduk. Dan untuk lima belas menit selanjutnya keadaan tetap sama.

Indra hanya duduk sambil melihat anak laki-laki yang terkapar lemah di sebelahnya dengan pandangan kosong tanpa arti. Seolah pikirannya melayang ke alam lain.

Ada seseorang memperhatikannya! Sejak pertama Indra menginjakkan kaki di bangsal ini. Seorang perempuan yang tersembunyi dari balik kerumunan keluarga yang mengelilingi wanita tua tadi memperhatikan Indra.

Bukan. Bukan perempuan, tapi seorang gadis. Gadis muda yang sangat cantik. Dan Indra merasa tidak nyaman dengan pandangan gadis itu.

Indra memilih untuk segera pergi dari bangsal itu. Karena sudah tidak tahan dengan pandangan gadis itu. Sorot matanya seolah menuliskan pertanyaan yang ditujukan tajam kepada Indra:

Hanya diam saja?

Tapi sebelum Indra beranjak dari kursinya gadis itu sudah ada di depan Indra. Terlambat untuk pergi.

”Hai, Arsa…” sapa gadis itu untuk laki-laki yang sedang terbaring di sebelah Indra. Dia membaca itu dari papan nama pasien.

”Jadi ini kakak kamu? Dia lumayan ganteng.” gadis itu tersenyum kepada Indra. Senyumnya indah seperti tirai kehidupan yang terbuka

Indra bergeming. Gadis aneh. Indra menamatkan gadis ini untuk beberapa saat sebelum memilih untuk membalikkan badan.

”Dia menunggu kata-kata dari … anda.” kata-kata gadis itu membuat Indra menghentikan langkahnya, ”Apa yang membuat anda nggak bisa mengeluarkan satu suarapun untuknya?”

Indra tetap bergeming. Dia kembali melangkahkan kakinya.

Melihat itu gadis cantik ini segera menghadang Indra, ”Paling nggak bicara sama Arsa satu kata saja. Oh ya, kenalin saya ….”

”Ara.” panggil seseorang. Gadis itu mengintip dari balik tubuh besar Indra yang ada di depannya. Seorang wanita menyuruhnya untuk segera kembali.

”Harusnya sebagai kakak anda ….”

”Nggak ada kata-kata yang harus dan bisa kuucapkan untuknya. Baik sebagai kakak atau sebagai orang asing seperti anda.” Ucapan pelan Indra itu membuat Ara tertegun. Dan Indra segera pergi dari hadapan Ara.

Indra memang sering melihat gadis itu mondar-mandir di bangsal ini. Karena wanita tua yang sedang terkapar tak sadarkan diri itu Ibunya. Tapi apa hak dia untuk ikut campur urusannya?

Baiklah, dia memang sering menemani Arsa sekaligus menemani Ibunya. Tapi tetap dia tidak punya hak sedikitpun.

***

Setelah hari itu Indra lebih sering mendengar suara-suara nasehat Ara di telinganya. Indra sudah tidak tahan lagi. Alasan utama dia datang kesini untuk menjenguk adiknya bukan untuk bertemu dan mendengar nasihat-nasihat yang tidak masuk akal dari gadis yang sama sekali tidak ia kenal.

”Selamat pagi kakak Indra.” Suara itu kembali terdengar.

Dia lagi. Tunggu dulu—apa maksudnya dengan ’kakak Indra’? darimana dia tahu nama Indra ?

Indra sudah belajar untuk tidak mempedulikan gadis gila ini. Indra hanya duduk sambil memandangi adiknya, Arsa. Seperti kebiasaannya.

Ara menatapnya cukup lama. Seperti anak kecil yang sedang menunggu dongeng dari Ayah mereka. Sampai akhirnya dia berkata, ”apa anda nggak bosan setiap hari cuma diam?”

”Apa anda nggak bosan setiap hari menasehati saya dengan kata-kata itu?” Indra menatap tajam Ara. Melihat serangan itu Ara langsung tertunduk.

Setelah serangan sudah mereda Ara kembali mengagresi rasa sabar Indra, ”Kalau anda hanya diam Arsa nggak akan tahu setiap hari kakaknya menjenguknya.”

Indra kembali menyerangnya dengan tatapan jauh lebih tajam dari sebelumnya. Tapi kali ini Ara sudah kebal dia meneruskan kata-katanya, ”Dia butuh seseorang yang mendukungnya. Arsa sedang berjuang dan dia butuh anda, kakaknya.”

Indra sudah tidak sanggup lagi. Dia berdiri cepat dari kursi kemudian mengarahkan mata tajamnya pada Ara.

”Saya bukan bermaksud untuk ikut campur urusan keluarga anda. Saya hanya memikirkan perasaan Arsa sekarang.” kata Ara membaca pikiran Indra.

Indra tidak menjawab. Dari tadi Indra sudah memegangi dadanya mencoba untuk bersabar melawan gadis di depannya.

Ara mulai mengambil tindakan. Dia menarik tangan Indra. Indra menolak, tapi kalah juga. Kemudian Ara meletakkan tangan Indra di atas tangan Arsa yang tertusuk jarum infus.

Apa maksud gadis gila ini dengan berbuat seperti ini?

”Dengan begini Arsa bisa tahu kalau ada kakak yang selalu mendukungnya.” sekali lagi Ara membaca pikiran Indra.

Indra tersadar dan segera melepaskan tangannya. wajahnya yang tadi lembut berubah menjadi gusar dan penuh amarah. Indra menatap tajam Ara untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi dari bangsal.

Indra baru sadar kalau di kamar itu hanya ada adiknya. Wanita tua yang menjadi Ibu dari Ara, gadis gila itu, sudah tidak ada.

Lantas kenapa gadis gila itu masih ke bangsal tempat adiknya dirawat kalau Ibunya sudah dipindahkan ke bangsal lain?

***

Indra baru saja akan membuka pintu bangsal saat ia melihat Ara sedang asyik berbicara sendiri. Sebenarnya bukan berbicara sendiri. Ara berbicara dengan Arsa.

Gadis gila itu lagi. Apa dia masih belum puas terus-menerus menganggu jadwal Indra yang akhir-akhir ini kacau karena dia?

Dan malam ini malam tahun baru, Indra tidak ingin malam tahun barunya diganggu oleh gadis gila ini. Mendengar dengungan suara kembang api lebih menyenangkan bagi Indra daripada harus bersama gadis ini, faktanya: Indra sangat membenci kembang api.

Hari ini Indra memantapkan niatnya. Niat untuk mengusir Ara agar dia tidak lagi datang ke kamar ini lagi. Indra sudah bosan mendengar kata-kata yang sama yang dilontarkan Ara setiap hari kepadanya.

Dengan tekad bulat Indra memasuki bangsal. Saat itulah dia baru sadar kalau Ara sedang sibuk mendengarkan musik lewat ipodnya. Ara memasang satu headset ke telinganya dan satu lagi ke telinga Arsa.

Dari balik suara langkahnya Indra masih bisa mendengar sayup-sayup suara musik yang keluar dari earphone Ara. Sepertinya musik keras beraliran rock. Suaranya sangat keras.

Ara yang mengetahui Indra berjalan ke arahnya dengan langkah mengerikan dan tatapan tajam terlonjak dan langsung berdiri. earphone yang terpasang di telinganya terjatuh.

”Anu … aku … mmm … cuma …,” mati. Inilah ajalmu Ara.

Indra menarik keras headset dari telinga Ara. Tatapannya belum berubah masih tajam menusuk. Dan Ara seakan sudah terkena seribu tusukan karena mata itu.

Ara hanya bisa tersenyum kaku mencoba menutupi rasa gugupnya, ”Itu hanya lagu … metallica.” kemudian Ara tertunduk karena sudah kalah dengan serangan Indra.

”Tadinya mau mainkan lagu selamat tahun baru tapi nggak nemu lagu selamat tahun baru jadi pakai lagu Metallica.” cerocos Ara. ”Maaf …” kata Ara tertahan. Masih tertunduk.

”Jangan pernah datang ke sini lagi!” Bentak Indra sangat keras. Indra menatap Ara untuk terakhir kalinya kemudian melangkah keluar.

”Sampai kapan anda akan membuatnya menunggu?”

Pertanyaan itu menghentikan langkah Indra, ”Maaf ..?” katanya setelah memutar badan.

”Sampai kapan anda akan membuat Arsa menunggu?”

”Apa saya harus menjawab pertanyaan nggak masuk akal anda?” Indra balik menekan Ara.

”Harus.” kata Ara tegas, ”Dan jangan panggil saya dengan sebutan ’anda’! saya  masih SMA.”

Indra baru sadar kalau gadis yang selama ini sudah dia anggap berumur di atas dua puluh tahun masih mengenakan baju seragam putih abu-abu. Selama ini Indra tidak sadar bahwa Ara masih SMA sama dengan Arsa karena pikirannya tentang Ara hanyalah gadis aneh yang patut dimusnahkan.

”Nona … apakah nona ada urusan dengan saya dan Arsa, adik saya?” Indra meralat kata-katanya. Sudah sangat marah dengan nona di depannya ini.

”Ada! Dan urusan ini sangat penting.”

Dia! Apa tidak bisa berhenti mengganggu Indra.

Indra mengatur nafas, mencoba untuk bersabar, ”Apa alasan … nona setiap hari datang ke kamar adik saya?” tanya Indra tertahan dengan senyum palsunya.

”Menurut anda?” Ara tersenyum lebar.

Apa? Dia benar-benar ingin membuat kesabaran Indra terkuras.

”Jangan balik bertanya kepada saya!” Semprot Indra keras.

”Baiklah. Anda ingin jawaban bohong atau jujur …?”

Sabar Indra …. sabar. Jawab saja setiap pertanyaannya dengan tenang setelah itu usir dia mentah-mentah.

”Bisa jawab dengan jawaban jujur?”

”Pertama aku akan jawab jawaban yang bohong.” kata Ara tanpa rasa berdosa.

Apa sebenarnya mau gadis aneh ini?!

”Karena aku cinta dengan Arsa. Sejak tiga bulan dan tiga puluh satu hari yang lalu waktu aku melihatnya di kamar ini dengan anda. Dia sangat tampan dan aku suka kepolosannya. Lagipula menjadi perawat adalah cita-citaku sejak kecil.” Ara kembali tersenyum manis.

”Kalau jawaban jujur?” sebenarnya Indra sudah malas menanyakan ini.

Ara menatap Arsa yang lemah tak berdaya, ”Karena aku kasihan padanya. Dia punya kakak yang selalu menjenguknya tapi nggak pernah peduli padanya. Kasihan sekali. Dia sudah diambang kematian tapi nggak ada orang yang peduli.”

Indra menatap Arsa yang sedang tidur. Lihat dirimu….semua orang mengasihani kau….menyedihkan, apa aku juga harus ikut seperti mereka ?

”Arsa tidak butuh rasa kasihan anda. Yang dia butuhkan hanya dukungan anda.” Ara berkata dengan lembut tapi sanggup menusuk diri Indra yang paling dalam.

Kali ini amarah Indra sudah tidak dapat dibendung lagi. Dia menarik keras tangan Ara keluar bangsal. Ara mencoba melawan tapi tidak berhasil. Indra mendorong tubuh Ara hingga keluar pintu.

Ara menghempaskan tangan Indra yang menariknya, ”Apa salahnya anda berbicara dengannya? Apakah pikiran anda sudah mati hingga anda nggak bisa memikirkan kenapa aku yang hanya-orang-asing merasa kasihan padanya?”

”Nggak ada gunanya berpikir untuk orang seperti dia! seperti berharap pelangi di malam hari.” Indra menutup pintu dengan keras meskipun dia sempat melihat Ara memandangnya dengan pandangan tak percaya.

Pelangi, hasil dispersi cahaya putih matahari hingga menjadi beraneka warna. Tanpa matahari tidak ada pelangi. Itu artinya sia-sia menunggu pelangi saat malam tiba.

”Tapi ada yang bisa mengalahkan pelangi saat malam tiba!”

Sekali lagi suara keras penuh keberanian dari balik pintu itu membuat Indra menghentikan langkahnya. Indra melepaskan tangannya dari kenop pintu kemudian berdiri diam. Seolah ingin memberi kesempatan Ara untuk beragumentasi atau untuk menghidupkan kembali harapannya, entahlah.

Ara yang sadar pintu sudah terlepas dari Indra segera membuka kembali pintu dan berkata dengan keras tanpa keraguan, ”Aurora.” kata Ara memberi argumentasinya.

”Aurora hanya bisa terlihat di malam hari. Tapi cahayanya lebih indah daripada pelangi. Aurora melebihi pelangi. Kalau pelangi itu lukisan indah setelah badai maka aurora adalah opera indah saat dingin menyelimuti malam.” Ara mengatur nafasnya masih menatap Indra tanpa keraguan.

Entah kenapa setelah mendengar perkataan Ara Indra yang tadinya kaku berubah seperti daun yang tertiup angin. Rapuh. Seluruh tubuhnya gemetar seakan tidak punya kekuatan.

Apa yang hebat dari kata-kata Ara? tidak ada.

Ara membaca ketakutan Indra yang sebenarnya dia sendiri tidak mengerti apa yang membuat Indra sangat ketakutan. Kata-katanya?

Ara memegang lembut tangan Indra kemudian menggandengnya ke tempat Arsa. Indra mengikuti langkah Ara tanpa perlawanan. Dia merasakan nyaman saat gadis kecil yang gila ini memegang tangannya.

Gadis aneh itu menyuruh Indra duduk. Indra menuruti lalu dia mulai meletakkan tangan Indra di atas tangan Arsa.

Itulah pertama kalinya Indra merasa bersalah. Bersalah karena selama ini dia tidak pernah memegang tangan lembut penuh kasih sayang ini. Karena dia tidak pernah melihat betapa orang yang sedang tidur tak berdaya ini sangat menanti tangannya.

Dan dalam waktu singkat Indra sudah bisa mengeluarkan suara untuk adiknya. Adik yang mengalami koma hepatikum karena komplikasi penyakitnya sejak dua bulan yang lalu.

Adik yang sejak koma selalu Indra anggap sudah mati. Indra mengubur dalam-dalam harapannya akan adiknya. Indra tidak berani bahkan untuk melihat dan berbicara pada Arsa. Dia menganggap semua itu sia-sia dan hanya akan membuat Arsa semakin menderita. Hanya akan membuat bintang semakin hilang dan redup saat malam tiba.

Tapi itu semua salah. Indra justru merasa lebih baik dengan berbicara pada Arsa. Di dunia ini tidak ada yang lebih peduli padanya selain Arsa. Dan sekarang waktunya Indra untuk peduli pada Arsa. Peduli pada adiknya yang sejak umur sepuluh tahun tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua lagi karena perceraian orang tua mereka.

”Anda tahu. Untuk ukuran seorang mahasiswa wajah anda kelihatan jauh lebih tua …,” Ara membuka pembicaraan setelah hening mengelilingi mereka cukup lama.

”Darimana kamu tahu namaku dan aku seorang mahasiswa?” tanya Indra yang sudah bisa berbicara pelan pada Ara. Dia mulai nyaman dengan gadis kecil ini.

”Dari suster yang bekerja di sini. Mereka suka banget dengan anda. Kata mereka anda ganteng …,” Ara tersenyum. Senyuman yang dikagumi Indra sejak pertama melihat Ara.

”Jangan panggil anda. Aku masih mahasiswa.” celoteh Indra diiringi tawa Ara. Indra hanya tersenyum tipis.

”Oh iya … dimana ibumu? Sudah pindah kamar?”

”Ibuku … ada di taman kamboja.” Jawab Ara dengan ekspresi datar.

Taman kamboja. Taman tempat terdapat banyak pohon kamboja. Tempat itu! Itu artinya ibunya sudah ….

”Maaf … buka—”

”Beliau jauh lebih beruntung daripada Arsa. Jadi nggak perlu dipikirkan.” Ara hanya tersenyum tipis. Memberi isyarat agar Indra tidak mengusik lukanya. ”Kalau dipikir-pikir lagi aku yang lebih menyedihkan. Di malam tahun baru ini aku ada di kamar rumah sakit dengan kakak-beradik ganteng, menyedihkan sekali ya?”

”Seenggaknya anda nggak terjebak macet, Surabaya dan malam tahun baru perpaduan yang kacau.” ucap Indra.

”Jangan panggil aku anda.” Ara menggoda, dia menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Indra sambil menunjukkan ekspresi lucu yang membuat Indra tak bisa menahan tawanya. ”Iya juga sih, aku nggak suka suara kembang api, suaranya itu whussh …,” Ara meletakkan kedua tangannya di telinga, ”bikin telinga berdengung.”

”Arsa suka kembang api.” Ada nada sedih yang keluar dari mulut Indra, ”dia selalu menghabiskan banyak uang untuk beli kembang api. Katanya langit malam di kota membosankan. Biasanya setiap tahun baru Arsa memaksaku untuk pergi ke tempat dengan kembang api paling banyak. Tahun lalu kita menyalakan kembang api di Semeru, meskipun diam-diam karena dilarang.” Indra terkikik mengingat kejadian itu.

Semeru, Bromo, Bali, Sulawesi, Indra ingat bagaimana mereka selalu merencanakan akan merayakan dimana lagi malam tahun baru. Malam ini tidak ada rencana perayaan tahun baru sama sekali.

”Kalo gitu ayo.” Ara mengulurkan tangannya pada Indra.

”Apa?”

”Beli kembang api. Karena Arsa nggak bisa pergi ke taman Surya atau Bungkul, tempat dengan kembang api paling banyak di Surabaya, kita bikin taman Bungkul di sini.”

”Kamu gila? Main kembang api di dalam ruangan bahaya.”

”Mas ganteng, kita nyalain dari … sana.” Ara menunjuk keluar jendela kamar.

Ada gelenyar aneh ketika Ara menyebutnya Mas ganteng. Setidaknya akhir-akhir ini jantung Indra selalu dibuat meloncat kesana-kemari setiap melihat wajah Ara atau sekadar mendengar suaranya dari luar kamar Arsa.

***

Indra menghabiskan ratusan ribu untuk membeli kembang api. Berbekal rayuan kepada para satpam dan suster untuk menyalakan kembang api di depan rumah sakit Ara menyalakan kembang api yang pertama.

”Selamat tahun baru mas Indra ganteng,” ujarnya genit. Kemudian Ara berteriak kencang, ”selamat tahun baru Arsa!!!”

Kanvas langit penuh oleh coretan bunga api malam ini, meluncur melalui horizon satu ke horizon lain. Ara dan Indra dibuat tertegun oleh guratan cat temporary untuk langit malam ini.

”Ternyata bukan cuma Aurora yang bisa jadi pelangi di malam hari.” Indra berceletuk, masih menengadahkan kepalanya menatap langit yang ramai di malam ini. Tahun sudah berganti, Arsa, kamu nggak mau bangun?

”Indra,” kata Ara, membuat Indra memalingkan mukanya pada Ara, ”kita belum berkenalan secara resmi.” Ara mengulurkan tangannya, tersenyum.

Indra membalas uluran tangan Ara, ”Indra.” kemudian dia tersenyum.

Ini pertama kalinya Ara melihat Indra tersenyum tanpa beban. Manis. Ara merasakan dadanya bertalu-talu melihat senyum itu, seseorang menyalakan kembang api di dadanya. Setelah menghela nafas panjang Ara berkata. ”Ara. Aurora.”

”Aurora?”

***

Iklan

5 thoughts on “#2 Pelangi Di Malam Hari

    1. huum, saya akui ini karena pengin nyelesein tantangan nulis kilat jadi agak berantakan. Tapi udah puas akhirnya tantangannya terlesesaikan 😀
      Ayo, tut ditunggu songlitmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s