#3: A Son

Sebentar  lagi Ayah akan pergi. Bukannya aku tidak tahu bahwa Ayah harus pergi aku hanya tidak ingin mempercayainya. Seperti yang dikatakan orang-orang, kita tidak pernah bisa benar-benar percaya kecuali orang itu mulai mengabur dan hilang dari pandangan kita.

Aku sungguh membenci Ayah hari ini. Karena Ayah tidak melakukan apapun kecuali bercerita mengenai jalan yang sedang kita tapaki berpuluh tahun yang lalu. Ketika Ayah masih kecil, ketika aku merengek bermain lebih lama di jalanan ini, ketika kami melihat kereta lewat—hanya melihat dan mendengarkan suaranya, kurasa itu persamaan Ayah-anak diantara kami.

Selama delapan belas tahun hidupku ini pertama kalinya Ayah mengantarku ke sekolah. Dengan jaket kusam dan sweatshirt tua Ayahku, yang kemarin malam hatinya menangis melihatku tidak tumbuh sebagai anak yang cacat, berjalan di depanku menceritakan hal-hal bodoh yang tidak seharusnya dia ceritakan di saat terakhirnya.

“Ayah.” Kataku. Aku terbiasa bercerita mengenai Ayahku kepada teman-temanku,  bagaimana aku merindukannya dan ingin bertemu dengannya, tapi mengatakan hal ini di depannya sungguh sesuatu yang aneh.

Ayah tidak berhenti, dia terus berkata, “jalan ini sudah banyak berubah. Dulu, ada banyak pohon di seberang sana, pohon besar-besar.”

“Ayah.”

“Kayu yang ada di tengah rel kereta yang sudah kita lewati tadi, kalau kamu injak di tengahnya akan ada bunyi berderit. Kamu suka main-main di sana, Ayah sampai harus memukulmu karena kamu tidak mau pulang ke rumah.”

Aku mencium bau Ayahku, bau krim murahan dan pria paruh baya. Aku tidak ingin bau ini pergi dari hidungku, aku tidak ingin desahan nafasnya menghilang juga mata sipitnya yang tidak bisa menangis. Yang kemarin malam kukatakan bahwa matanya mengerikan, bahwa itulah kenapa aku tidak suka melihat matanya, juga tidak nyaman berada di dekatnya

Aku mencintaimu. Aku akan merindukanmu. Apa kamu akan mengunjungiku?

Aku mengucapkan kalimat itu berkali-kali di hatiku, siapa tahu Ayah mendengarnya dan mengatakan hal itu alih-alih menceritakan kisah usang hidupnya. Ayah tidak berhenti, aku dapat nyamelihat sekolahku di ujung horizon.

Ayah berhenti. Ketika telapak kosongnya, yang sudah berkeriput dan kurasa selalu kosong selama lima belas tahun terakhir terisi oleh telapakku.

“Jadi begini …,” kataku, memejamkan mata. Jadi begini genggaman seorang Ayah. Kata orang dengan menggenggam kita dapat membagi sedikit beban orang tersebut, kuharap aku dapat membagi beban Ayah padaku.

Kemarin malam kami menyelinap keluar rumah. Ayah tidak diijinkan keluar rumah oleh pak Park karena itu tidak ada dalam rencana atau mungkin takut Ayah akan melarikan diri. Tapi di tengah malam, ketika aku menolah mematikan lampu kamar agar tetap dapat melihat wajahnya, Ayah mengajakku untuk keluar.

Kami berlari, aku terus berlari sembari mencari kalimat yang tepat untuk kuucapkan pada Ayah ketika aku sampai di ujung jalan. Kami terus berlari hingga udara dingin mengalahkanku dan berhenti tepat di tepi sungai. Diterangi sinar bulan wajah Ayah terlihat sangat jelas olehku, Ayah terlihat tua dan tinggi dan matanya lebih lebar dari seharusnya.

“Dulu, Ayah pikir kamu akan tumbuh cacat.” Kata Ayah setelah bulan tertutup awan, “terakhir Ayah melihatmu saat itu Ayah memukulmu dengan benda apapun yang ada, Ayah memukulmu sangat keras hingga Ayah kira kamu akan tumbuh cacat. Ayah tidak bisa mengingat siapa dua orang yang Ayah bunuh karena Ayah tidak dapat berhenti berpikir apakah karena pukulan itu kamu jadi cacat? Apakah Ayah membuatmu cacat?” diantara kalimatnya aku mendengar Ayah tertawa. Tapi tidak menangis.

Bagaimana Ayah dapat menceritakan hal itu dalam wajah yang datar? Sementara aku menangis tersedu-sedu di depannya. Aku iri pada Ayah.

Malam itu aku mempelajari hal-hal baru tentang Ayah, bahwa Ayah tetap seorang Ayah. Yang lebih tahu segala hal daripada aku. Kami terjebak hujan di kotak telepon ketika aku melihat seekor nyamuk hinggap di kaca luar kotak telepon.

“Eh, kenapa ada nyamuk di musim dingin begini?” aku mendekatkan wajahku pada nyamuk itu. “Ini nyamuk bukan sih? Kok besar banget?”

“Itu nyamuk betina, kalau malam mereka membesar karena mereka melahirkan di pagi hari.” Tukas Ayah di belakangku. “Apa kamu tidak pernah membaca?”

Ada hal-hal yang belum kutahu mengenai Ayah. Seperti ketika aku mengenggam tangan Ayah pagi hari ini. Ayah menangis. Ayah membalas genggamanku makin erat, Ayah menangis melihat genggaman tanganku. Tangisan Ayah lebih keras dibanding suara kereta yang selalu kami sukai.

Perlahan aku menyentuh pipi Ayah. “Tidak apa-apa, Yah.” Aku mencoba tersenyum.

Ayah menggeleng tapi tetap menangis.

“Tidak apa-apa, Yah.” Aku mengusap pipi Ayah. Tidak apa-apa.

Aku melihatnya, yang tidak pernah kusadari, dia seperti pria lain yang menggendong anaknya sambil menunggu istrinya keluar kamar mandi, seperti penjual kimchi di ujung jalan rumahku, seperti orang-orang pada umumnya. Lebih penting lagi, dia sepertiku. Bagaimanapun dunia menyebutnya aku hanya punya satu sebutan untuknya: Ayah.

“Aku akan mengunjungi Ayah.”

***

Dibuat untuk bersenang-senang di Songlit Challenge bersama Fiqih, Septia, Atut, Tutus dan Ilmi

P.S. Ini adalah fan fiction saya dari film A Day With My Son (karena saya suka jalan ceritanya yang simple tapi bukan penggemar berat twist di film ini, akan lebih menyenangkan kalau filmnya berjalan dengan lancar tanpa twist itu, jadi saya bikin cerita yang saya sukai sebagai endingnya) minus ending di bagian paling akhir, saya suka banget ending imut itu tapi sekali lagi bukan penggemar berat twist dari film ini.

Iklan

10 thoughts on “#3: A Son

    1. Nggak ada ya? Menurutmu ada nggak Sep? Aku sih pake terjemahan bebas ordinary peoplenya. Kan artinya manusia biasa jadi aku cerita ini tentang meskipun dia udah bunuh dua orang, nggak inget sama pembunuhnya tapi dia tetap seorang Ayah yang selalu mengutamakan anaknya manusia biasa. Kalau nggak ada hubungannya tak bikin lagi wess :p

      1. oh gitu ya ._. aku nggak begitu ngerti karakter si ayah Nya. salahku, dari awal yang jadi pusatku si anak, makanya bingung pas tadi mbacanya, hehe. maap2 kalo udah dijelasin akhirnya nyambung kok 😛

      2. karena twistnya apa ya Nya. soalnya tak lihat tulisan ini beda banget dari tulisan Enya sebelum-sebelumnya. Enya kan pemapar yang baik. tapi di sini agak…kabur :mrgreen: hehe

      3. aku mau bikin pengakuan nih Sep. Minggu-minggu ini nggak tau kenapa aku suka nggak ada feel waktu nulis 😦 kayak, “wes terserah pokoknya selesai.” gitu 😦 hhmm … butuh baca buku yang banyak lagi 😦 tapi thanks Septi 😀 ntar diperbaiki lagi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s