Ender’s Game: How Will Ender Ends His Game?

“When I understand my enemy well enough to defeat him, then in that moment, I also love him.” –A.E. Wiggin.

 

50 tahun yang lalu alien menyerang bumi, menyebabkan jutaan orang tewas. Atas pengorbanan seorang Komandan, alien berhasil dipukul mundur. Kini, dengan mengumpulkan anak terpintar di seluruh dunia, penduduk bumi bersiap untuk perang kedua melawan alien.

Ender Wiggin, anak jenius yang terpilih masuk ke dalam battle school, sekolah pelatihan untuk calon komandan perang melawan alien, harus membawa beban berat menjadi pemimpin perang termuda melawan Formics. Melalui simulasi perang, strategi, pelatihan militer ekstra keras serta lingkungan battle school yang saling menjatuhkan satu sama lain, apakah Ender, di usianya yang baru 15 tahun siap menjadi penentu kehidupan umat bumi?

 Saya suka, saya suka, saya sukaa … harus bilang apa lagi? Saya penggemar Starship Troopers dan Ender’s Game melihat sudut pandang lain dari perang melawan alien.

Pertama, untuk novel yang terbit di tahun 80’an (Ender’s Game ini dari novel betewe) semua ceritanya relevan di masa kini. Sekarnag ada berapa anak yang hidup hanya untuk main game? Di film ini sejak kecil anak-anak dicekoki dengan game perang melawan alien, menemukan strategi-strategi baru bahkan ada pelajaran game perang di sekolah. Oh, itu impian para gamers.

Kedua, nama Ender imut banget kan? Lucu, saya suka sama nama Ender.

Ketiga, karakterisasi si Ender. Anak jenius dengan low-self-worth namun tahu bahwa dia jenius dan berani memperjuangkan hak-haknya bahkan jika itu berarti dia harus dihukum atau dibully. Punya jiwa pemimpin tapi juga sentimental. Selalu berpikir dua langkah ke depan. Susah diperintah tapi lebih memilih mengalah daripada membuat keributan. Tegas, ya, satu kalimat bisa bikin orang yang dulu bully dia hormat dan manggil sir, yes, sir. Saya sudah lama nggak lihat karakterisasi tokoh YA sekompleks dan serapi ini.

Keempat, ceritanya nggak sekedar alien-ngelawan-bumi-kita-harus-ngalahin-mereka. Ada sisi psikologisnya dan nggak semua alien itu Cuma punya pikiran pengin bunuh manusia di Amerika.

Kelima, aktingnya, saya tahu Asa Butterfield bagus banget di Hugo tapi saya nggak nyangka dia bakal sekeren ini. Dan berapa umurnya Asa? 16 tahun! Meskipun di beberapa adegan ada aktor-aktor lain yang aktingnya meh tapi si Ender bikin saya ikut ngerasain waktu dia nggak sengaja membuat temannya sekarat dan pengin keluar dari battle school yang serupa neraka. Atau waktu dia menjadi komandan termuda dan hal pertama yang dia pikirkan adalah apa ada yang mau ngikutin perintah orang sok pintar ini? aw, Ender. Juga di adegan terakhir, waktu dia sadar dengan yang dilakukan guru-guru terhadapnya, saya mau puk-puk Ender. Dan nyesek sendiri lihatnya.

Keenam, twist-nya. Itu twist yang bener-bener bikin kita nggak nyangka (meskipun saya sudah nyangka sebelumnya) tapi twist-nya keren. Saya suka kalimat Ender buat Kolonel Graff di twist itu:

“The way we win, matters.”

Keenam, hubungan Ender-Valentine, meskipun Cuma dapet spotlight dikit tapi sudah lama saya nggak lihat hubungan kakak-adik seemosional itu (oh, setelah Supernatural tentunya hahaha). Saya malah lebih menikmati hubungan Ender-Valentine daripada Ender-Petra.

Ketujuh, CGI di film ini. Keren. Waktu di ruang simulasi terakhir itu waw, saya pengin ikut simulasi jadinya.

Kedelapan, lihat film ini, harus. Wajib.

Kesembilan, kenapa masih baca review gak jelas saya soal film ini? Lihat film ini cepet! Atau baca bukunya, saya sudah baca sebagian dan ada banyak informasi di buku yang nggak dimasukin film. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s