Satu Matahari

Tidak seperti anak pada umumnya, Sam tidak mengidolakan pahlawan super. Bukan Superman, bukan Batman, atau Spiderman, Sam tidak tahu semua itu. Ayah melarangnya menonton tivi, bagi Ayah menonton tivi tidak akan menambah apapun di otak kita. Alih-alih menyuruh anak-anaknya menonton tivi Ayah akan mengajari mereka berlatih ala militer. Dan Sam benci itu, lebih jauh lagi, Sam benci Ayahnya.

Bukan pengurangan uang saku hukuman yang dia terima melainkan lari marathon 500 meter. Tidur siang artinya tidur di kursi belakang Chevy Impala ’67 yang digandrungi Abangnya melebihi wanita. Bukan dinding dengan dapur mengepul dalam wallpaper berwarna sama melainkan hotel kelas melati tempatnya tidur setiap malam.

Sam membenci hidupnya, Ayahnya, bahkan teman-temannya yang tidak pernah dia kenal lebih dekat. Sam benci orang-orang yang mengatakan dia lemah, juga guru-guru yang selalu menyebutkan nama lengkapnya. Sam benci nama lengkapnya.

Namun sepanjang hidupnya terdapat satu orang yang Sam anggap sebagai pahlawan super, mataharinya dan cahaya yang menuntun Sam melangkah lebih jauh.

Kini, cahaya yang selalu menuntunnya sedang tergeletak di ranjang rumah sakit. “Dean …,” kata Sam dengan nada sedikit bergetar, “apa kamu pura-pura tidur lagi?” Sam tersenyum. Namun tidak ada jawaban melainkan suara mesin ventilator dan nada di layar monitor pertanda jantung Dean masih berdetak.

Sam  tidak suka mata Dean yang tertutup, juga kabel-kabel yang mencuat dari tubuhnya. Sam tidak terbiasa akan hal ini; melihat Abangnya, pahlawannya, tidak berdaya.

Sam terbiasa berlindung di ketiak Dean. Ketika dia berbuat kesalahan Dean menjadi satu-satunya orang yang berkata, “ngak apa-apa, Sammy.” dan menampakkan senyumnya. Senyum yang hanya dimiliki seorang Abang. Karena Sam tidak menemukan senyum Dean dalam senyum Ayah.

Sam menggeser kursi di belakangnya, duduk di sana dan mendekatkan kursi itu ke ranjang Dean. Lebih dekat lagi, lebih dekat lagi. Bahkan ketika lututnya telah menyentuh ranjang Sam terus menggesernya, jaraknya dengan Dean masih terlalu jauh. Dia tidak suka jauh dari Dean.

Tahun-tahun di Stanford sebagai mahasiswa hukum telah membuktikannya. Setelah pertengkaran besar dengan Ayah yang diakhiri oleh ancaman Ayah jika Sam melangkah ke pintu maka Sam tidak boleh kembali lagi; Sam melangkah pergi.

Sam masih mengingat wajah Dean ketika Sam melangkah pergi. Dean yang selalu menjadi anak patuh bagi Ayah, anak idaman yang selalu mendengarkan perkataan Ayahnya, nampak retak di mata Sam. Hal lain yang diingat Sam adalah dia pergi karena benci cara Ayah memanfaatkan Dean, menyuruh Dean melakukan hal-hal gila yang tidak seharusnya dilakukan remaja seumuran Dean.

Minggu pertama, kamar asrama Sam kacau balau. Dia terasa limbung dan merasa mendengar suara derungan Chevy Impala dari balik jendela asramanya, mobil yang kini telah menjadi hak milik Dean/

“Dean, apa itu kamu?” itu adalah pertanyaan yang sering dikeluarkan Sam meskipun dia tahu Dean tidak pernah mengunjungi Stanford, Dean terlalu patuh untuk meninggalkan Ayah.

Beberapa bulan pertama Sam mulai berpikir kenapa dia berada di Stanford. Sam tidak pernah bercita-cita menjadi pengacara atau sekadar bersekolah hukum. Pertengkaran terakhirnya dengan Ayah memberi Sam jawaban yang pasti, Stanford adalah satu-satunya  cara agar dia bisa lepas dari Ayah, sayangnya Stanford juga memisahkannya dengan Dean.

“Dean, aku …,” kalimatnya mengambang di udara. Sam menelan ludahnya, meraup wajahnya frustasi. Pada akhirnya dia hanya mampu menatap Abangnya, berharap kehadirannya sanggup membuat Abangnya terbangun.

Sam menatap sisi ranjang Dean yang kosong, dia menggigit bibirnya. Dean selalu mengijinkannya tidur dalam dekapannya ketika mereka masih kecil.

Sam akan naik ke ranjang Dean di hotel kelas melati yang mereka tempati. Lalu, masih dengan mata tertutup Dean merentangkan lengannya meraih Sam, mendekapnyta di bawah lehernya. “Aku mimpi buruk, Dean.” Sam berbisik setelah merasakan hangan tubuh Abangnya. Dan Dean, tanpa membuka mata, mengelus punggung Sam hingga Sam tertidur pulas. Tidak ada lagi mimpi buruk.

Sam berharap semua ini hanya mimpi buruk, dia menutup matanya, menghitung hingga sepuluh sambil berharap dia akan berada di hotel kelas melati, di sisi ranjang Dean yang sedang tertidur dalam saura nafas yang menenangkannya.

Sam masih berada di rumah sakit, tidak di bawah leher Dean dengan kahangatan yang berhasil menenangkannya. Sam menundukkan kepalanya, memencet ujung kedua matanya dengan tangan.

Setidaknya, setidaknya Dean tidak merasakan sakit. Sam tahu bagaimana Dean selalu bersikap sok kuat di depan orang-orang. Tidak pernah mengeluh sakit hingga dia benar-benar tumbang. Terkadang hal itu membuat Sam takut. Melihat Dean dalam mata tertutup layaknya orang tertidur pulas membuat Sam yakin setidaknya Dean tidak merasakan Sakit. Dan Sam merasa ini lebih baik daripada melihat Dean berpura-pura sehat dan dia berpura-pura tidak tahu.

“Sammy,” Diana, salah satu suster yang telah hafal dengan dia dan Dean berdiri di depan pintu kamar.

“Sam aja.” Sam berdiri, menatap Dean sesaat, “hanya Dean yang boleh manggil Sammy.” Hanya Dean.

“Maaf. Sam. Jam berkunjung sudah hampir habis.”

Sam mengangguk mengerti. Dengan senyum di wajahnya Diana menjauh dari kamar Dean. Sam mengarahkan seluruh perhatiannya pada Dean. Selalu Dean. Dean dahulu baru Ayah dan hal-hal lain.

“Kamu harus bangun, Dean.”

Perkataan dokter bergaung di  telinga Sam. Gagal ginjal, hati dan luka benturan di kepalanya. Saya harus jujur, orang dengan situasi seperti kakak Anda tidak akan bertahan selama ini, dia berjuang dengan sangat keras.

Berjuanglah lebih keras lagi, jangan—, bahkan dipikirannya Sam tidak mampu mengucapkan kata-kata tersebut. “Aku nggak tau apa yang harus kulakukan tanpa kamu, Dean.” Sam mengarahkan matanya keluar jendela. Tempat parkir rumah sakit yang kosong menunjukkan mobil Chevy Impala hitam tahun ’67 milik Abangnya, Sam mengambil nafas berat. Dia benci mobil itu tapi Dean lebih menyayangi mobil itu daripada dirinya.

“Bangun atau aku hancurkan mobilmu.”

Hanya mesin ventilator yang menyahuti Sam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s