Favorite Movie: Turtles Can Fly

Orang-orang dewasa mengatakan perang adalah jalan terbaik untuk mencapai perdamaian. Well, bukan itu yang dipikirkan Satelite. Anak lelaki 13 tahun etnis kurdi yang tinggal di desa Iraqi Kurdistan. Kalau dibilang desa, tempat ini lebih mirip pengungsian besar pasca perang Saddam Husein. Film yang berhasil masuk nominasi Oscar untuk film asing terbaik ini akan menjelaskannya secara indah dan tragis.

Satelite bisa dibilang Presiden di area itu. Anak-anak menghormatinya layaknya Dewa, orang tua percaya pada ucapannya (dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan Satelite dipercaya menerjemahkan semua berita internasional di desanya).  Untuk usia 13 tahun, pekerjaan Satelite banyak:

A. Menjadi tukang pasang satelit televisi.

B. Menjadi penerjemah penduduk. (adegan lucu adalah ketika Satelite disuruh menerjemahkan berita. Padahal aslinya berita itu tentang Bush yang akan menyerang Irak tapi Satelite malah menerjemahkannya, “katanya Bush besok akan turun hujan.” Waktu orang desa bertanya apa kamu benar, Satelite berkata lagi, “dia bilang, besok akan turun hujan.”)

C. Menjadi ketua ‘serikat pekerja anak-anak pengumpul ranjau darat Iraqi-Kurdistan’.

D. Menjadi tukang bersih-bersih ranjau darat.  Kacamata kuno dan sepeda norak yang selalu dibanggakan Satelite menjadi ciri khasnya.

satelite dan sepeda norak kebanggaannya

Hingga suatu hari datanglah Henkov, anak difable yang tidak mempunyai lengan. Henkov datang bersama adik cantiknya, Agrin dan balita lucu yang buta, Riga yang selalu bermain dengan kura-kuranya. Satelite tidak suka Henkov karena kata orang dia punya “indera keenam” dan tahu dimana letak ranjau darat banyak di daerah sana. Pertama, Henkov lebih ahli menjinakkan ranjau dari Satelite. Kedua, dia belum jadi anggota “serikat pekerja anak-anak pengumpul ranjau darat”.  Ketiga, dia punya adik super cantik yang ditaksir Satelite. Ya, seabrek apapun pekerjaannya Satelite tetap anak remaja 13 tahun yang kesengsem sama cewek cantik.

Segala usaha dilakukan Satelite untuk menarik perhatian Agrin. Mulai dari membawakan air (yang sangat langka di daerah tersebut), membelikan ikan emas kesukaan Riga, dan berusaha menyembuhkan mata Riga. Namun Satelite tidak mengerti, semakin dia menunjukkan perhatiannya pada Riga, adik lelaki Agrin, semakin Agrin membencinya dan Riga. Agrin seolah tidak peduli dengan Riga.

Hal yang tidak diketahui Satelite adalah Agrin merupakan korban perang. Di tempatnya dahulu seluruh keluarganya dibunuh di depan mata Henkov, desanya dibakar dan adik kesayangannya Agrin diperkosa oleh prajurit Amerika hingga di usianya yang masih muda Agrin hamil. Riga, yang orang sangka merupakan adik terakhir Henkov, adalah putra Agrin. Itulah kenapa Agrin sangat benci pada Riga dan berkali-kali berusaha membunuhnya.

Kemudian kabar menggembirakan datang, Saddam Husein jatuh, pasukan Amerika akan datang melindungi Irak, penduduk desa bersuka ria. Tapi tidak Agrin. Ketakutan dan traumanya pada Amerika membuat Agrin makin tertekan. Dia akhirnya meninggalkan Riga di daerah penuh ranjau, berharap Riga mati.

the cute yet tragic Riga

Satelite yang melihat Riga dalam bahaya langsung dalam menyelamatkan balita lucu tersebut. Dengan sepeda noraknya, Satelite berhasil mendapat perhatian dari Riga. Namun sayang, sepedanya menginjak ranjau dan kaki Satelite terluka parah karena ranjau itu. Riga selamat; lagi.

Saya tidak akan menunjukkan akhir ceritanya karena terlalu menyayat dan biarlah Anda melihat sendiri filmnya. Akhir yang menjelaskan arti dari judul Turtles Can Fly atau judul aslinya “Lakposhtha hâm parvaz mikonand”.

Nilai plus dari film ini banyak. Pertama, semua aktornya adalah anak-anak korban perang yang tinggal di sana. Kedua, akting mereka! Oscar Material Acting! Ketiga, ceritanya sungguh mengharu biru tapi banyak adegan kocaknya juga (banyak banget malah). Malah saya setelah mewek langsung ketawa ngikik, ini film udah ya keren!

Keempat, bagaimana mereka, anak korban perang yang kerjanya mencari ranjau dan membeli senjata di pasar gelap, juga adalah anak-anak. Masih ada iri-irian pada sepeda Satelite, juga berlarian senang berebut patung Saddam Husein. Juga kasmaran (Satelite, ahem, Satelite).

Kalima,  karakterisasi Satelite sangat superb. Negosiator, leader, pecinta. Terutama ketika Satelite bernegosiasi dengan broker yang membeli ranjau daratnya. Anak-anak desa berpikir orang itu orang Amerika (karena selalu memakai baju pelindung lengkap), tapi ternyata dia bisa berbahasa Urdu. Bagaimana Satelite mencaci broker itu yang menjual ranjau dengan harga ratusan kali lipat sementara pada Satelite harga yang ditawarkan 50 kali lebih rendah daripada makanan yang biasa diberikan orang Amerika pada anjingnya. (Dan saya langsung, jleb! Anjing-anjing dengan makanan mahal itu).

Keenam, si Agrin. Sebagai seorang wanita saya tahu bagaimana rasanya menjadi Agrin. Merasa hidupnya tidak berguna, dan ketakutan terus menghantuinya.

Ketujuh, orang bilang film di Asia yang bagus kalo nggak Jepang ya Korea (dan Thailand akhir-akhir ini). Dan saya langsung, Apa?! Kalian nggak pernah lihat Children of Heaven? A Separation? Omar? The Kite Runner? (Oh lupakan, The Kite Runner, baca bukunya aja! Baca. Bukunya.) Saya bisa menulis daftar panjang film Iran, Irak, Palestina dan negara Timur Tengah lain yang jauh, jauuuhh lebih berkualitas dari film Korea yang cuman soal cinta. 

Meskipun sudah menontonnya berkali-kali saya masih bisa menangis campur ketawa sama film ini. Lima bintang. Lima bintang. Lima bintang! LIMA BINTANG!!!

Iklan

6 thoughts on “Favorite Movie: Turtles Can Fly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s