Feature Writing itu Seksi

Ada yang mengatakan menulis fiksi itu tidak mudah dan butuh riset, ketelitian, ketelatenan, dan yang pasti waktu di depan computer yang sangat lama. Tapi, tunggu dulu, pernah dengar feature writing atau berita kisah?

Untuk saya sendiri feature writing lebih menarik daripada genre fiksi ilmiah, dystopian, atau bahkan novel dengan banyak riset. Oke, oke, berita kisah itu bukan fiksi tapi artikel non-fiksi yang dikemas dalam narasi sastra. Tapi, coba Anda baca salah satu feature writing pemenang Pulitzer, satu saja, maka Anda akan tahu kenapa saya tergila-gila dengan feature writing.

Berita kisah merupakan perpaduan antara pengumpulan fakta, narasi yang kaya akan makna, reportase mendalam kepada narasumber, penyatuan pergumulan emosi, latar belakang yang kaya, watak dengan tokoh yang kuat, serta plot.

Bayangkan betapa sulitnya menyusun berita berdasarkan hal-hal tersebut.

  1. Cerita pemenang Pulitzer untuk feature writing tahun 2012 ini dapat menjadi salah satu contohnya. Fatal Distraction, suatu reportase mendalam mengenai para orang tua yang melupakan anak mereka di kursi belakang mobil. Hal tersebut telah banyak terjadi, tapi apakah hal tersebut bisa disebut tindakan criminal?

Gene Weingarten, jurnalis The Washington Post, dengan elegan menyajikan berita ini secara utuh. Dari sudut pandang manapun, mulai ahli, para orang tua, dan korban yang telah kehilangan anak mereka.

Paragraf pembuka berita ini juga menjadi salah satu alasan yang menurut saya, membuat juri memenangkan Fatal Distraction.

Terdakwa adalah seorang pria yang sangat besar, dengan berat lebih dari 300 pounds. Tapi rasa bersalah dan rasa malu di dalam dirinya tampak jauh lebih besar dari berat tubuhnya sendiri.

Nah, siapa yang tidak tertarik ingin terus membaca berita kisah itu?

  1. Jika Gene Weingarten lebih mengedepankan sekumpulan fakta para ahli tanpa ikut masuk ke dalam emosi korban atau di sini dapat disebut sebagai terdakwa, beda halnya dengan Sonia Nazario, pemenang Pulitzer tahun 2003 ini. Karyanya Enrique’s Journey berhasil membuka mata dunia mengenai banyaknya anak yang menjadi korban selama perjalanan dari Meksiko menuju Amerika hanya untuk bertemu ibunya yang bekerja menjadi pembantu di Amerika, sebagian dari mereka meninggal tanpa sempat bertemu dengan Ibunda tercinta.

Berikut empat kalimat pembuka berita kisah yang mengharukan itu:

Anak lelaki itu tidak mengerti. Ibunya tidak bicara dengannya. Ibunya bahkan tidak ingin melihatnya. Enrique tidak mempunyai satupun petunjuk tentang apa yang akan dilakukan ibunya.

Kekuatan berita kisah itu adalah caanya bercerita yang sangat luwes dan membuat kita ikut hanyut ke dalam dunia Enrique. Dimana dia sangat ingin bertemu dengan Ibunya, meninggalkan nenek dan saudara perempuannya. Dengan alur yang menawan, penceritaan penuh emosi Sonia Nazario berhasil menjelma Enrique, anak muda dengan penuh gejolak dan pertanyaan dimana ibunya dan kenapa sang ibu meninggalkannya?

  1. Namun berita kisah tidak melulu mengenai kisah sedih nan mengharukan. Dibalik itu, sebagian besar berita kisah yang saya baca mempunyai akhir optimistis dimana pembaca diajak untuk menerka bagaimana kehidupan tokoh yang diceritakan tersebut selanjutnya. Di Pearls Before Breakfast, Gene Weingarten, langganan pemenang pulitzer untuk feature writing, menyajikan berita yang lebih ringan namun sanggup menghentak kita tentang kehidupan di kota besar.

Melalui POV seorang violis terkenal yang digadang-gadang akan menjadi legenda nantinya, Gene Weingarten melakukan riset kecil-kecilan dengan menempatkan violis tersebut di subway tersibuk di Amerika. Hasilnya? Seorang violis terbaik yang masih muda dan tampan hanya mampu „menarik“ perhatian dua puluh tujuh orang dari seribu lebih orang yang berlalu lalang di depannya saat itu.

Bukan hanya melihat melalui satu sudut pandang, Gene Weingarten juga mengkritisi kesibukan di Amerika dengan menulis kalimat: Orang Amerika sangat sibuk sejak 1831. Dengan mengumandangkan pertanyaan di tengah kisahnya, artikel Wingarten berhasil menyadarkan Amerika:

Mari kita lupakan tentang tanggal 12 Januari dan tidak membuat penghakiman apapun mengenai cara pandang mereka (warga Amerika) mengenai kecantikan ataupun kemegahan. Tapi bagaimana dengan kemampuan mereka untuk mengapresiasi hidup?

Ya, berita kisah juga membutuhkan observasi, pengamatan terhadap sekeliling dan kritik lingkungan. Itu, alasan  saya menyukai berita kisah, bukan, itu alasan saya cinta berita kisah.

  1. Sekarang, mari kita beralih pada sebuah artikel yang mengharu biru. Mengenai cinta seorang Ayah kepada anaknya. Seorang Ayah tentu wajar jika mencintai anaknya, tapi bagaimana apabila rasa cintanya itu membawa sang Ayah menuntut hakim agar membatalkan kematian anaknya?

A Father’s Pain, a Judge’s Duty, and a Justice Beyond Their Reach menyajikan problematika tersebut. Sesuatu yang kita anggap tidak wajar dan kita mungkin menganggap Ayah tersebut gila. Tapi, kehilangan seseorang yang kita cintai memang sungguh menyakitkan dan terkadang kita berimajinasi orang tersebut masih hidup dan berharap orang sekitar berpandangan yang sama.

  1. Berita kisah terakhir, salah satu berita kisah pemenang Pulitzer favorit saya akan membawa Anda tercengang, tidak percaya, menangis, dan bahagia di akhir kisahnya.

The Girl in the Window, pemenang Pulitzer tahun 2009 yang membuat Amerika tercengang-cengang.

Mari berkenalan dengan Danielle, atau Dani, usianya sudah delapan tahun tapi pikirannya seperti anak dua tahun. Feral Kid, para ahli menyebutnya. Ibunya tidak merawatnya sama sekali, bahkan tidak satu pelukan didapat Dani selama delapan tahun hidupnya.

Hingga Dani diadopsi oleh keluarga yang sangat luar biasa, yang merawat Dani sembari berharap suatu saat Dani akan memanggil mereka Ayah dan Ibu.

Bagaimana dengan ibu kandungnya? Dia bersikeras dia sangat menyayangi Dani dan tidak ingin kehilangan Dani.

Akhir cerita ini sungguh membuat saya sesenggukan. Ketika sang Ibu diwawancarai dan mengaku tidak pernah melihat Dani hingga sangat merindukannya dan bertanya, “Apakah dia baik-baik saja?”

Lene DeGregory, melalui artikelnya yang luar biasa menjawab.

Apakah dia baik-baik saja?

Danielle lebih baik daripada yang diharapkan. Dia telah belajar bagaimana melihat mata orang dan membiarkan dirinya sendiri menerima sentuhan orang lain. Dia dapat mengunyah ham. Dia bisa berenang. Dia tinggi dan pirang dengan perut yang kecil. Dia tahu namanya Dani.

Di kamarnya yang baru, Dani mempunyai jendela agar dia dapat melihat dunia luar. Ketika Dani ingin melihat apa yang terjadi di luar, yang harus dia lakukan hanyalah merentangkan tangannya dan Ayahnya selalu ada di belakangnya, menunggu untuk mengangkat Dani melihat dunia luar.

 

Jadi, kelima artikel berita kisah di atas adalah alasan utama saya menggilai feature writing dan feature writing itu seksi. Sungguh. Belum lagi fotografer luar biasa yang membuat berita kisah menjadi semakin hidup. Karena foto-foto di dalamnyalah yang membuat suatu cerita mempunyai umur dan nafas.

Suatu saat, jika kemampuan saya sudah sangat mumpuni, saya juga ingin membuat berita kisah seperti kelima berita di atas. Membuat orang hanyut di dalamnya dan bertanya-tanya kenapa saya bisa melewatkan hal itu begitu saja?

Ah, saya bisa bicara lebih banyak lagi mengenai genre Feature Writing hingga tangan saya keriting.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s