Bab-bab Tak Penting: Belajar Mengemudi

Baiklah, postingan kali ini diawali dengan Deklarasi Enya untuk Tidak Meninggalkan Blog Dalam Waktu Lama.

Hal yang melandasi deklarasi ini terbentuk tidak lain dikarenakan mitos yang berkembang bahwa blog yang telah kosong dan tidak diintip dalam waktu lama akan meninggalkan hantu yang mampir BAB di sana. Ya, karena cukup rumah tetangga saya yang berhantu dengan banyak penghuni yang ngontrak melambaikan tangan ke kamera tanpa menyelesaikan waktu ngontrak mereka, saya tidak ingin blog ini ikut dikontrak.

Oke jadi, mulai hari ini Deklarasi Enya untuk Tidak Meninggalkan Blog Dalam Waktu Lama diresmikan. Nantinya dalam tenggat waktu tertentu deklarasi ini akan meningkat menjadi Deklarasi Enya untuk Menjadi Blogger Mingguan kemudian diganti Harian, Jam-an, Menit-an, dan Detik-an.

*

Pagi saya di hari ini dimulai dengan mengenang hal-hal memalukan yang saya lakukan dari bayi hingga menjadi perawan ini, normal, seperti biasa. Hingga ada pertanyaan yang terngiang di otak saya yang kerutannya hanya 90% lebih sedikit dari kerutan di otak Tuan Muda yang Sudah Tidak Muda Lagi Albert Einstein.

Pertanyaannya sederhana: kenapa di dunia ini ada peraturan setiap manusia yang mengendarai kendaraan bermotor, ataupun bermesin harus mempunyai ijin mengemudi?

Itu nggak adil banget duhai Ban Ki-moon, tolong pikirkanlah hal ini dan kesampingkan dulu perang-perang politik yang Anda sudah jelas membela siapa. Baiklah mari kembali ke topik. Jadi, saya yang sudah cukup puas dapat duduk di atas roda dua ini tidak merasa takabur dan ingin hal-hal lebih; belajar si roda empat misalnya.

Tapi, orang tua tercinta sejagat raya yang paling gaul saya punya pendapat lain. Dan aktivitas saya selain mengenang hal-hal memalukan ditambah dengan Belajar Mengemudi. Begini ringkasannya:

Progres Pertama:

Ingat tagline rich men use two pedals, real men use three pedals? Dari sana belajar mobil terlihat sangat amat mudah, cuma make dua atau tiga pedal pan?

Hah, tagline selalu menipu, berhati-hatilah saudara. Pertama saya belajar mobil, saya sudah disuruh atret (apa bahasa Indonesianya? Putar balik ya?) jadi, mundur sambil belok kanan terus dibanting ke kiri. Itu apa coba? Apa?

Dan Ayah saya punya kalimat paling favorit kalau lagi jadi guru mengemudi, “kopling’e tahanen Mbak, ojo diculno (koplingnya ditahan Mbak, jangan dilepas gitu aja, red).”

Mau ditahan begimana lagi Ayah tersayang di seluruh dunia??

Apa nahannya itu kayak kita nahan BAB yang bikin mules sampai nggak bisa konsen? Atau kayak nahan perasaan ke kamu, ya kamu. Kamu hai Fachri Albar yang nikah sama Renata tanpa konsultasi sama saya dan bikin saya prustasi!

Saya sudah nggak tau lagi harus gimana karena baru masuk gigi satu mobil ini sudah mati. Starter, masuk gigi satu, kopling ditahan, dan … mesinnya mati. Lagi. Rasanya saya tidak berbakat dalam hal ini.

Progress Kedua:

Kali ini sudah bisa atret. Hah, ini sih kecil.

Bukan hal kecil lagi waktu si Yayang Ayah ini tiba-tiba memberhentikan mobil di pinggir jalan Semolowaru yang sangat teramat ramai di minggu pagi dan sambil membuka jendela, mematikan AC, menyandarkan tangan di jendela mobil bak artis Hullywud (padahal nggak pake AC soalnya tiap saya starter mati-mati mulu jadi kasian mobilnya, liat lebih kasian sama mobilnya daripada putrinya sendiri), beliau berkata, ”setiren mbak.“

Saya sudah merengek berlagak putri manja dengan mata sayu dan berharap si Papap akan berkata, “Papap bangga sama kamu, Nak, apapun pilihanmu. Justru Papap bangga kamu mau mengakui tidak bisa menyetir mobil, Nak.” Macam Papap-Papap di serial Hullywud yang sering putri manja ini tonton.

Ternyata, Papap saya bukan Papap-Papap serial Hullywud. Dengan tak bersuara Papap turun dari mobil dan membukakakn saya pintu untuk beralih ke kursi mengemudi.

Progress kedua berakhir dengan … menabrak batu super gede di depan gapura gang Om saya yang ‘rencananya’ sih saya pamerin saya udah bisa nyampai Tambak Oso pake roda empat. Sekali lagi, jangan takabur saudara itulah akibat dari takabur.

Progres Ketiga :

Ini baru terjadi dua minggu lalu, ketika si Yayang Ayah tiba-tiba mengajak belajar mengemudi. Saya sih maunya ngeles masih ngantuk Papap sayang. Tapi, ntar malah dijawab, ”Perawan minggu-minggu kok tidur aja kerjaannya.“ Nah, kan, nah, kan.

Jadi kali ini karena mulai lebih siang maka siluman beroda empat berwarna-warni mulai berkeliaran di jalan Semolowaru. Warnanya silver dan hitam, mengkilap semua.

Dan saya sampai diklaksonin banyak mobil. Dan pribadi perawan labil ini pun goyah, saya keluarkan jurus putrid manja lagi. “Nggak mau Yah, nggak mau.” Dengan terus megang setir dan suara klakson bergema di jalan.

Ayah. “Lanjutin aja nggak usah digubris mobil-mobil itu.  Kalau mereka nglakson artinya mereka perhatian sama jalan dan ngasih peringatan ke kita.”

Saya (dalam hati). “Ndak usah digubris? Kalau nabrak gimana? Kalau mobil harganya lima ratus perak dapet dua Enya mah huwas-huwes aja Yah.“

Lalu pelajaran mengemudi itu diakhiri dengan ucapan mutiara dari Ayah macam Papap-papap Hullywud, “Kalo Mbak udah belajar mobil selalu kampas rem sama koplingnya jadi tipis, terus kaki Ayah juga rasanya tegang pengin nginjek rem terus.“

 

Silver Lining dari Bab Tak Penting ini: Ingatlah, belajar mengemudi membuat kampas rem Anda tipis, hati-hati nabrak cewek cantik dan dia amnesia nantinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s