A Painter, An Artist, and An Unfortunate

 Sering saya berpikir, hidup ini kadang nggak adil. Saya punya pengetahuan lebih banyak dari dia, atau saya sudah berdo’a lebih banyak dari dia tapi ujung-ujungnya dia yang dapet lebih dari saya.

Awal bulan lalu saya ke pameran seni Rising Up yang diadakan sekolah adik saya. Pameran Tugas Akhir yang diadakan di Jatim Expo inilah yang membuat saya sadar, hidup itu memang tidak adil, tapi tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Di sana, saya melihat bermacam lukisan dalam berbagai tema. Hingga mata saya yang saat itu sedang sibuk dengan ponsel tertuju pada lakban yang ada di bagian pinggir lukisan. Pikir saya, ini kenapa ada lakban di lukisannya? Saya sentuhlah lakban itu dan ternyata … lakban itu cuma lukisan saudara-saudara. Saya ditipu oleh pelukisnya.

Tekstur yang mirip asli itulah yang membuat bukan hanya saya saja yang tertipu tapi banyak orang di belakang saya juga tertipu dengan ikut melihat lebih dekat lakban itu. Sial si pelukis ini, pikir saya. Sampai saya melihat nama yang tertera di bawah lukisan itu, Alif.

20140623_081756

 

Jadi, Alif adalah teman dekat adik saya dan yang juga ikut membantu dengan Tugas Akhir adik saya. Kata adik saya Alif ini jago melukis, kesayangan guru, dan dia sudah masuk ISI (Institut Seni Indonesia) yang mana untuk masuk ke sana disaring dengan sangat ketat apalagi seni rupa yang menjadi jurusan populer.

Di sini, Alif saya definisikan sebagai seorang seniman. Kenapa? Karena seorang seniman bukan hanya melukis, dia memikirkan latar belakang lukisan tersebut. Dan lukisan Alif yang merupakan tampak atas gedung di perkotaan dengan lakban muslihat tentunya memiliki latar belakang yang kalau saya kuliti bisa panjang beud.

Setiap orang bisa menjadi pelukis. Tidak harus melukis sebagus Leonardo Da Vinci, Afandi, atau Michael Angelo. Sewaktu TK kita diberi tugas untuk menggambar dan kita menggambar dua gunung dengan matahari di tengah, itu juga membuat kita semua bisa disebut sebagai pelukis. Tapi, tidak semua dapat menjadi seniman. Dengan darah cat minyak dan bau kanvas di seluruh tubuhnya, tidak semua bisa seperti itu.

20140623_081630

Kemudian mari berkenalan dengan Dian. Meskipun namanya seperti perempuan, Dian ini adalah lelaki, teman dekat adik saya juga. Mereka sering berangkat bersama dan Dian ini sering diceritakan adik saya.

Lukisan Dian memiliki teknik yang luar biasa susah. Untuk saya, menggambar orang dengan detail tekstur wajah adalah salah satu hal tersulit dari melukis. Dian, melalui lukisannya bisa membuat orang tersebut tampak tiga dimensi.

Saya juga dapat menyebutnya seorang seniman. Tapi ketika saya bertanya pada adik saya Dian mau melanjutkan sekolah dimana dengan bayangan dia akan masuk ITB, IKJ, atau minimal UNESA seni rupa dengan bakat seperti itu.

Ternyata jawaban adik saya adalah, “dia kerja Mbak, kasihan sama Ayahnya katanya.” Ayah Dian adalah buruh pabrik sementara Dian selama ini menggantungkan pada SNMPTN jalur undangan dan telah memilih ITB serta UNESA, sayangnya dia masih belum beruntung.

Apa Dian mengikuti SBMPTN? Seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru itu? Tidak. Dia lebih memilih membantu Ayahnya, membantu perekonomian keluarga, dan menyisihkan bakatnya di tumpukan hal-hal yang tidak dapat dia lakukan atas alasan ekonomi lainnya.

Saya menyebut Dian seseorang yang tidak beruntung.

Dengan dua orang tersebut saya disadarkan, tidak adil sekali jika saya masih mengeluh dunia ini tidak adil untuk saya sementara di luar banyak orang yang memiliki masalah lebih besar, jauh lebih besar dan mengecewakan, mereka (yang memiliki masalah lebih besar tersebut) justru tidak merasa dunia tidak adil.

 

P.S. Maaf fotonya dari catalog, soalnya bodohnya Enya yang nggak seketika motret lukisan-lukisan bagus itu waktu ke pameran seni kemarin -_-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s