Bab-bab Tak Penting: Hikayat Air yang Mati

Tulisan ini dibuka dengan permintaan maaf Enya yang telah melanggar janjinya untuk terus mengupdate atau memposting tulisan di blog. Begini alasan-alasan yang dikemukakan Enya:

  1. Deadline lagi banyak bingits jadi manusia sibuk ini nggak punya waktu *sibak kerudung*
  2. Nggak ada yang menarik di hidup saya belakangan ini, berangkat-kerja-pulang-berbuka-tarawih-tidur *kalimat diakhiri dengan helaan nafas panjang penulis*
  3. Dengan tatapan judes dan nada datar, “males aja.” (kemudian sandal-sandal terlempar ke wajah orang sombong bin judes ini)

*

Pertama-tama saya akan beri pertanyaan tersulit di dunia jagat raya dan isinya, apa barang paling mahal di dunia ini?

A. Uang

B. Kebahagiaan

C. Cinta

D. Mahkotanya ratu Elizabeth atau Mahkotanya Hayam Wuruk yang sampai sekarang nggak tau hilang kemana

Jika Anda menjawab A maka selamat Anda termasuk orang kapitalis.

Bagi yang menjawab B maka selamat Anda tergolong orang “sok tua dan sok suka ngasih nasihat, emang situ siapa? Kebahagiaan, ha, basi banget.”

Bagi yang menjawab Cinta, ciee lagi galau ciee.

Dan bagi yang menjawab D maaf saya juga nggak tau berapa harga mahkota ratu Elizabeth dan dimana mahkota Hayam Wuruk.

Jadi jawaban yang benar adalah air, yap saudara-saudara A-I-R. Setelah selasa lalu tepatnya tanggal 8 Juli 2014 air di rumah saya (dan seluruh gang rumah saya) mati saya baru menyadari bahwa air itu mahal.

Sekarang bayangkan jika tinggal di Afrika, alih-alih ngasih mereka air kita justru ngasih emas satu kilogram. Oke, itu emang banyak dan bakal bantu satu kampong di Nigeria atau Somalia tapi mereka lebih butuh air buat minum, minum ternak mereka, keluarga mereka, bayi-bayi mereka.

Apalagi kalau ngasih emas sekilogram ke suku bushman di Afrika bisa-bisa kita dilempar pake emas itu, lha mereka uang aja nggak kenal. Tapi kalau ngasih air, mereka pasti menerima dengan tangan terbuka.

Setelah air di rumah saya mati keluarga saya melakukan program penghematan air gila-gilaan. Pertama, cuci piring harus membuka kran sangat kecil karena tandon air sudah mau habis. Kedua, bak mandi harus bisa dipakai selama tiga hari penuh. Ketiga, adik dan Ayah saya dilarang keras mandi, buang air kecil, dan besar di rumah, harus ke masjid.

Keempat, dilarang keras memakai mesin cuci karena eh karena mengutip pernyataan ibu paling populer sejagad raya dan penuh wejangan super, “Airnya mati mbak, mesin cuci mau dicolokin dimana selang airnya?”

Selama satu minggu lebih keluarga kami hidup tanpa air PDAM. Beli air satu bak kamar mandi pun ternyata lumayan mahal yakni Rp 45 ribu perak. Dan ibu penuh wejangan super selalu berkata setiap saya berangkat mandi, “Yang hemat, kamu mandi di air Rp 45 ribu.”

Kalau bisa saya wudhu pake pasir deh dan cuci baju bagian yang kotor aja terus dibilas pake air dengan tangan tiga kali, cukup, penting bersih dan suci.

Lalu segalanya berubah ketiga negara api menyerang … Ah, maksudnya, segalanya berubah ketika petugas PDAM datang dan melancarkan air kami.

Sekarang air sudah mengalir ke rumah kami, terima kasih PDAM.

Tapi, nanti-nanti kalau bisa langsung direspon kalau pelanggannya ngeluh airnya mati. Ini kita udah telpon operator, datang ke kantor PDAM, sampai nelpon orang dalam langsung, baru seminggu diresponnya.

Silver lining dari bab-bab tak penting: Hematlah ketika mandi, Anda tidak akan tahu kapan air rumah Anda mati. Waspadalah. Waspadalah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s