The Multiple POV of Sensitiveness

Pertama-tama di bulan Ramadan ini saya ingin mengakui sebuah kesalahan.

Kemarin (24/07/14), saya berdebat. Di Facebook. Dengan orang yang nggak saya kenal.

Ya, saya tahu itu nggak dewasa. Ya, Anda bisa menghakimi saya nggak dewasa. Dan ya, saya tahu orang yang koar-koar di media sosial biasanya dilabeli pengecut yang nggak berani di dunia nyata.

Awalnya saya hanya ingin mengingatkan teman saya untuk tidak menggunakan istilah sensitif bagi orang Indonesia, saya orang Indonesia informasi saja. Dan entah semangat nasonalisme pasca terpilihnya presiden baru, semangat penguatan IHSG, atau semangat hormon saya yang sedang tinggi-tingginya saat itu hingga saya terpancing terus meladeni omongan temen dari temen saya itu.

Oke, akar permasalahan ini adalah penggunaan kata “Indon” di status teman saya. Kata, yang menurut saya sebuah penghinaan untuk orang Indonesia yang dilakukan orang-orang Malaysia. Saya tidak melabeli semua orang Malaysia seperti itu, hanya saja kata-kata yang keluar dari mulut sebagian orang Malaysia yang berarti monyet atau bodoh untuk para pahlawan devisa Negara itu menurut saya sangat kasar.

Emosi saya, ditambah hormon saya yang sedang tinggi dan seharian rasanya ingin teriakin semua orang, membuncah muntah berantakan di status teman saya itu. Karena dia sebagai orang Indonesia menggunakan istilah itu dalam statusnya.

Saya ingatkanlah, kemudian teman si teman saya itu membela Indon itu bukan sebutan untuk semua orang Indonesia, hanya sebutan untuk orang Indonesia yang bodoh dan nggak punya akal.

Lalu masalah merentet hingga ke seragam Ahmad Dhani di video kampanye yang saya sendiri belum pernah lihat secara utuh (tuh, sok ngeyel nggak Enya ini).

Dan komentar terakhir saya sangat menggebu-gebu, berikut saya sertakan gambarnya:

Untitled

Lihat yang terjadi akibat terlalu banyak hormon di dalam tubuh Anda dan ketika muntahan emosi berserakan di perut dan kepala Anda? Ada banyak typo dan salah ketik di sana. Dan saya alay banget pake capslock segala huh dasar alaynese Enya.

Itu … Bring back the memories they want to forget, Nya. Makanya nggak usah sok-sokan pake Capslock rusak.

dan itu … then why can’t  I ask … Nya, duh sok keminggris sih.

Sekarang masuk ke judul post yang seharusnya, jadi ini postingan serius saudara-saudara harap dicermati dengan seksama.

Yang terjadi di situ adalah perbedaan sudut pandang sensitivitas, buat saya “Indon“ itu sangat senfitif. Seperti di Amerika yang jika ada yang salah lidah bilang Negro maka akan dihujat seluruh Amerika sampai Kanada dan antek-anteknya.

Untuk kita mungkin Negro tidak begitu populer sebagai hujatan, tapi di Amerika saudara-saudara itu kata misuh paling dijauhin se-Amerika Raya.

Mungkin bagi teman saya Indon sebutan biasa dan dia biasa saja menggunakannya di status yang dibaca orang banyak, tapi saya akan sangat menghindari kata itu. Seperti kita mengolokkan orang Tionghoa dengan sebutan Cina atau apapun itu, mereka terutama para aktivis akan sangat marah.

Kemudian, masalah Ahmad Dhani dan simbol Nazi yang dipakai. Mungkin banyak yang mengira Dhani dikecam karena disangka Nazi dan pengikut Hitler. Seperti yang ada di komentar alaynese saya, bukan.

Itu, juga masalah sudut pandang sensitifitas. Orang Jerman sangat sensitif perkara Nazi, jangankan Ahmad Dhani, Prince Harry yang sejatinya seorang pangeran tampan bak negeri dongeng dari Monarki paling terkenal di dunia yang berharap jadi pacarku aja dikecam sama orang Jerman karena pernah makai logo Nazi di salah satu pesta kostum.

Kesimpulannya adalah : ada banyak isu sensitif di dunia ini, bagi sebagian orang itu sangat sensitif. Seperti cewek datang bulan yang diungkit masalah datang bulannya setiap dia marah-marah oleh cowoknya.

Cewek : Kamu itu ya nggak pernah ngertiin aku, lihat Hp melulu perhatian kek sama aku.

Cowok : kamu lagi mens ya? sensitif amat.

Cewek : *tendang cowok sampai ke bulan* *makan cokelat banyak-banyak* *minta cokelat jadi pacarnya karena cokelat pengertian banget sama persoalan sensitip*

Jadi, jika sudah tahu itu hal sensitif ada baiknya dihindari dan memakai kata yang lebih jamak digunakan. Kalau untuk cowok seperti, sayang kamu lucu deh kalau marah, apalagi kalau lagi cemburu sama HP-ku, gemes jadinya.

Nah, itu akan lebih baik bukan? Baiklah case closed.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s