The Subjective Review: I’m Sorry, I Love You (K-drama)

Pertama saya, Enya, akan mengingatkan Anda-Anda semua yang akan membaca postingan ini bahwa ini review asli subjektif dari seorang fans yang dulu waktu pertama lihaat sinetrong Korea ini sewaktu SMP nggak bisa berhenti mikirin drama ini, sampai sekarang. Jadi, semua yang ada di postingan ini benar (menurutEnya) dan jelas keabsahannya (menurut Enya) dan tidak dibenarkan adanya kesalahan ataupun beda pendapat (menurut Enya).

Kedua, hai seluruh orang yang kenal Enya dan tahu bahwa setiap saya diceritain salah satu film bagus maka pertanyaan pertama yang akan saya tanyakan, “Cowoknya mati nggak?” Dan kalian selalu menatap saya dengan tatapan aneh. Dan, inilah alasannya saudara-saudara. Drama inilah alasannya saudara-saudara. Akting So Ji Sub di drama inilah alasannya saudara-saudara. Drama populer yang sampai dibikin versi kartunnya saking populernya tuh dramalah alasannya saudara-saudara.

Ketiga, berkat So Ji Sub dan drama terbarunya Master’s Sun saya jadi kebelet lihat drama ini lagi. Dan membandingkan Moo-Hyuk dan Jong-Woon saya jadi makin yakin Ji Sub ini aktor yang mumpuni dan aktor watak. Soalnya waktu lihat Jong-Woon saya nggak ngelihat sisa-sisa Moo-Hyuk dan mata sedihnya, begitu juga sebaliknya. Oke, oke, saya akui saya suka So Ji Sub dan postingan ini subjektif karena nggak ada yang boleh bilang Ji Sub aktingnya jelek.

***

Cha Moo-Hyuk, seorang yatim piatu yang ditelantarkan oleh orang tua adopsinya di Australia. Tumbuh menjadi gelandangan di Australia, Moo-Hyuk percaya bahwa ibunya memiliki alasan yang kuat kenapa menelantarkannya. “Kemiskinan ada dimana-mana bukan? Ibu, tunggu aku ya, lima tahun lagi aku akan kembali ke Korea, punya rumah besar dan uang banyak, lalu aku akan membahagiakan ibu.” Begitulah ungkapan Moo-Hyuk kepada ibu yang menelantarkannya di panti asuhan sejak kecil kepada reporter televisi Korea.

Ditinggal sang pacar menikah, Moo-Hyuk dengan patah hati pergi ke tempat pernikahan sang pacar. Di sana, dia menyelamatkan sang pacar yang akan ditembak oleh musuh suami sang pacar yang merupakan gangster. Sang pacar selamat, tapi Moo-Hyuk tertembak di kepala dengan satu peluru yang masih bersarang di kepalanya karena akan merenggut nyawanya jika dikeluarkan dengan konsekuensi umurnya tidak akan lama lagi karena satu peluru tersebut.

Dengan waktu yang tinggal sedikit, Moo-Hyuk kembali ke Korea dengan satu tujuan, menemukan ibu yang melahirkannya. Ibu, yang dia kira, sangat sengsara hingga harus menitipkan Moo-Hyuk ke panti asuhan. Ibu, yang dia kira, sangat sayang padanya namun keadaan yang memaksa sang ibu untuk meninggalkannya.

Ibu, yang ternyata adalah seorang aktris Korea terkenal dengan sang anak Choi Yun, penyanyi terkenal di Korea. Ibu yang tinggal di rumah mewah dengan pakaian yang sangat mahal. Moo-Hyuk yang marah pada kehidupan sang ibu sementara dia menjadi gelandangan di Australia akhirnya ingin membalaskan dendam pada sang ibu.

Telah sampai di sana masalah Moo-Hyuk? Tidak. Di Australia, tepat sebelum insiden penembakan terjadi, dia bertemu dengan Song Eun-Chae, gadis lugu yang merupakan manajer fashion Choi Yun. Eun-Chae yang semula mengira Moo-Hyuk datang jauh-jauh ke Korea karena menyukainya membuat rencana balas dendam Moo-Hyuk berantakan karena satu hal: cinta.

***

Aaaahhhhhh … itu reaksi saya sewaktu akhirnya bisa melihat drama ini lagi.

Saya masih mewek dengan berkembangnya episode di drama ini. Masih mewek sewaktu Eun-Chae teriak “saranghae” di depan Moo-Hyuk sampai menangis terduduk. Pengin puk-puk rasanya dua orang ini. Masih merinding diskos ama acting So Ji Sub waktu dia teriak di depan ibunya yang pingsan di pelukannya, “Kenapa kamu menelantarkanku ibu? Kenapa kamu menelantarkanku? Kenapa?”

Dan ikut mewek bareng Moo-Hyuk waktu dia sujud di depan rumah sang ibu untuk terakhir kali sambil berjanji, “di kehidupan lain aku menjadi anak kesayangan ibu.”

Penulis drama ini, Lee Kyeong Hee, emang terkenal banget di Korea sebagai spesialisasi drama bikin mewek, kompleks, dan sang actor menderita sederita-deritanya. Dia ini yang nulis Nice Guy, drama dengan banyak klimaks itu, A Love To Kill, dan drama lain yang bikin mewek. Ih, orang ini, demen banget nulis drama bagus.

Kelebihan drama ini dibanding drama-drama Korea jaman sekarang yang Cuma mentingin benci jadi cinta lalu bahagia selamanya-lamanya adalah: Banyak.

  1. Pemilihan pengambilan gambarnya. Berbeda dari pemilihan gambar drama saat ini, pemilihannya bagus dan pas sekali. Ada adegan dimana soundtrack utama drama ini (Park Hyo Shin Snow Flower yang mana keyen beud) dimainkan ketika Moo-Hyuk melihat Eun-Chae jalan di tengah ilalang dari balik jendela mobil yang berwarna cokelat, itu keyen bingits.
  2. Alih-alih dipenuhi dialog, drama ini justru minim dialog si tokoh utama Moo-Hyuk. Tugas So Ji Sub di sini Cuma satu kayaknya: ngelihat sedih, atau ngelihat tajam, atau ngelihat kosong. Tapi, hanya dari tatapannya aja kita bisa tahu lagi apa si Moo-Hyuk.
  3. Di atas sudah dibilang si penulis scenario berasa the hell with dialogue. Drama ini nggak perlu banyak omong istilahnya, waktu Eun-Chae tersesat di Australia, hanya ditunjukin potongan gambarEun-Chae yang bingung di pinggir jalan. Waktu Moo-Hyuk ingin balas dendam ke ibunya, dia cukup tersenyum sambil menatap kota Seoul dari atas apartemen dan kita tahu pikirannya. Waktu Eun-Chae dan Moo-Hyuk hanya duduk berdua di depan rumah Moo-Hyuk seharian tanpa mengatakan apapun kita bisa tahu bagaimana mereka saling cinta. Ahh.
  4. Adegannya jadi “panutan” drama sekarang.
  5. Saat ini banyak drama si cowok ngikutin si cewek dari seberang jalan, atau dari belakang. Drama ini yang mengawalinya.
  6. Waktu Eun-Chae nangis di mobil tapi Moo-Hyuk malah nyetel musik makin keras supaya nggak kedengeran tangisannya Eun-Chae (ini mah dimana-mana ada sekarang) drama ini yang mengawalinya.
  7. Waktu Moo-Hyuk tiba-tiba meluk Eun-Chae dari belakang supaya si Eun-Chae nggak kedinginan. Ya, karena ini drama adegan romantis itu banyak pengikutnya.
  8. Adegan teriak-teriak di depan rumah. Ya, Moo-Hyuk ini yang pertama ngelakuin.
  9. Waktu Eun-Chae (cewek) nyium Moo-Hyuk biar si Moo-Hyuk diem.
  10. Adegan si Eun-Chae bukannya salah paham waktu diberitahu Choi Yoon tapi malah tambah cinta sama Moo-Hyuk.
  11. Adegan teriak “Sarangheo Ahjusshi“ di kepala saya langsung sh*t sh*t sh*t karena itu ngena banget.
  12. Adegan makan sambil nangis. So Ji Sub yang bikin adegan itu populer.
  13. SO JI SUB. Harusnya dikapital dan huruf tebal aktor satu ini. Sebelum saya kenal Korea dan K-Pop saya kenal So Ji Sub lewat drama ini. Aktingnya superb. Pantes dia menang banyak, semuanya disabet waktu di serial Sorry, I Love You. Nggak ada yang nggak dimenangkannya.

So Ji Sub cukup ngelihat foto ibunya bersama cowok lain, anaknya yang nggak ditelantarkan. Kamera muter-muter. Dan tiba-tiba ada pisau nujeb-nujeb dada kita saking sakitnya ngelihat itu. Maksudnya, kok bisa ya? itu kamera ngikutin mulai matanya biasa, berkaca-kaca cukup lama sampai keluar tuh air mata. Biasanya aktor kalau nangis langsung air mata keluar tanpa proses luama macam itu. Akting man, Akting.

So Ji Sub cukup makan mie sambil nangis, dan kita berasa pengin peluk itu orang.

So Ji Sub cukup diam, menatap kakaknya yang tidur, kita bisa ngerasain sakitnya hal itu.

So Ji Sub cukup makan sate sampe belepotan dan waktu ada orang yang nyodorin tisu dia nolak sambil teriak, “Nanti ibuku yang ngelap bumbu sate di bibirku ini!“ ah, saya mau ngelap kok.

So Ji Sub cukup belajar baca bahasa Korea dengan pede dan suara lantang, kita ikut ngerasain susahnya belajar baca.

So Ji Sub cukup jadi So Ji Sub saya udah betah lama-lama di depan laptop. Udah aktingnya mumpuni, keyen bingits. Wajahnya juga tanpa operasi plastik udah cetakan berhasil dari sononya. Aih, aih. Datang ke Indonesia dan tersesatlah hai So Ji Sub dan aku akan bantu kamu, ngehangatin badanmu, kayak yang kamu lakuin sama Eun-Chae.

  1. Cara si penulis ini ngasih kejutan-kejutan nggakterduga. Kalian harus liat biar terkaget-kaget.
  2. Sekali lagi masalah dialog, alih-alih banyak dialog nggak penting. Drama ini justru banyak dialog yang dinarasikan dengan adegan yang lain. Aduh, saya nggak tau ngejelasinnya gimana. Pokoknya kerenlah.
  3. Dialognya yang puitis tapi nggak lebay. Soal Eun-Cha yang belasan kali teriak “Sarangheo Ajusshi“ di sini nggak kerasa Corny karena, ya, adegannya yang dibuat sedemikian rupa bagusnya. Aduh, please, judul dramanya aja udah puitis.
  4. Snow Flower salah satu lagu balad Korea yang selalu saya puter sampai sekarang. Menyayat hati bingits.

Scene-Dialog Favorit:

Ada banyak sebenarnya, tapi biar saya pilih salah satu, salah dua, atau salah sepuluh sekalian:

  1. Dia baru tiba di Korea, ketika melihat seorang ibu menyuapi anaknya lalu membersihkan bibir anaknya yang cemot. Dia menatapnya dengan tatapan sedih. (Serius, So Ji Sub, Cuma berdiri di sana nggak ada dialog tapi saya bisa ngerasain kesepiannya dia). Ketika Moo-Hyuk makan sate, dia sengaja mengusapkan makanannya ke mulut biar berceceran. Waktu pemilik toko menyuruhnya mengelap dengan tisu Moo-Hyuk berteriak kencang, “Lupakan. Ketika aku bertemu ibuku nanti, aku akan memintanya mengelap ini untukku.“
  2. Eun-Chae: Kenapa kamu kencing di sana sih? (waktu itu Moo-Hyuk kencing di sudut rumah ibu kandungnya.)

Moo-Hyuk: aku menandai ini sebagai wilayahku. Kenapa?

Eun-Chae: Apa?

Moo-Hyuk: Anjing menandai wilayahnya seperti ini.

Eun-Cahe: Apa-apaan, bagaimana bisa ini jadi wilayahmu?

Moo-Hyuk: Besok aku akan kencing lagi di sini.

Eun-Chae: Apa ini? Apa dia bilang kalau dia anjing?

Moo-Hyuk: Iya, aku ini anjing. Aku bukan manusia tapi anjing.

  1. Moo-Hyuk:

Tuhan, jika Kamu benar ada, aku berjanji.

Song Eun-Chae, jika Kamu mengijinkannya di sampingku untuk selamanya. Jika Kamu mengijinkannya menjagaku di sisa waktuku. Jika Kamu tidak melukaiku lagi. Aku akan menyerahkan hidupku sekarang. Kebencianku. Kemarahanku. Aku akan membuang itu semua. Dan meninggal dengan damai. Tuhan, aku membuat janjiku pada-Mu.

  1. Adegan ketika Moo-Hyuk di Rumah Sakit untuk meminta obat karena sakit kepalanya telah sering terjadi dan mempengaruhi kehidupannya. Sang dokter tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengatakan, “Bukankah itu sangat melelahkan?“

Dan Moo-Hyuk sangat marah sampai berteriak, “Tidak! Aku tidak lelah! Aku kemari bukan karena kelelahan. Aku kemari karena malu!“

Lalu ketika tidak mendapat apa-apa tanpa sengaja Moo-Hyuk menyenggol tangan orang yang baru saja mati. Itu, jleb. Kok bisa bikin adegan kayak gitu?

  1. Eun-Chae: Hentikan mobilnya.

Moo-Hyuk: Mau makan? Atau mau menciumku?

Eun-Chae: Hentikan mobilnya, sekarang!

Moo-Hyuk : Mau makan? Atau mau tidur denganku?

Eun-Chae: Aku akan buka pintunya dan melompat dari mobil.

Moo-Hyuk : Mau makan ? Atau mau mati bersamaku ?

Ini, dialog apa-apaan coba? Hah? sarkastik, cek. Sedih, cek. Semua dapet hanya karena Moo-Hyuk lebih memilih nggak peduli sama Eun-Chae yang marah.

  1. Ketika Eun-Chae menunggu di depan rumah Moo-Hyuk ketika Yoon menelepon dan tanya dimana Eun-Chae sekarang dia menjawab, ”Aku di rumah Moo-Hyuk, ada hal yang harus kukatakan padanya. Dan ada hal yang harus kudengar darinya.”

Tapi setelah bertemu mereka Cuma duduk berdua tanpa mengucapkan satu patahpun kata. Duduk di depan rumah hingga malam dan salju turun lalu Eun-Chae memutuskan untuk pulang. Cuma duduk berdua, diam, tanpa dialog tapi yang ngelihat berasa nyesek. Ini siapa yang bikin adegan kayak gini? Siapa?!

  1. Eun-Chae:

“Aku akan datang lagi besok. Dan keesokan harinya, dan keesokan harinya. Aku akan menemuimu sampai aku muak terhadapmu. Sampai aku memutuskan untuk berhenti datang. Aku akan terus datang. Aku tidak akan membiarkanmu memerintahku, memintaku untuk datang dan pergi seenakmu.

Jika Yoon memintaku datang, aku akan datang. Jika Ahjussi memintaku untuk pergi, aku pergi. Aku bukan boneka yang bisa dimanipulasi oleh kalian berdua. Aku, juga punya keinginan. Punya hal yang kuinginkan, hal yang ingin kuraih. Akan ada saat dimana aku tidak bisa menahannya lagi, kamu tau? Aku, juga manusia yang punya perasaan seperti kalian berdua. Kamu tidak tahu itu, kan? Aku, juga manusia seperti kalian! Aku cinta kamu. Aku cinta kamu. Aku cinta kamu Ahjussi. Aku cinta kamu.“ Dan itu diulang untuk berkali-kali sampai saya nyesek di sini, di dada ini, dada bagian tengah ini.

  1. Moo-Hyuk:

Bu, dikehidupan yang akan datang aku harus jadi putramu lagi. Lalu, aku akan jadi anak baik kesayangan ibu. Aku sayang ibu. Aku sayang ibu. Aku sayang ibu. Tidak pernah ada momen di hidupku, momen ketika aku melupakanmu dari pikiranku. Bu, karena telah melahirkanku. Terima kasih. (Masya Allah, gimana nggak nangis kejer coba denger kayak gitu?)

Udah ya, 8 aja ya, takutnya ini jadi postingan super panjang ngalahin novel.

Pokoknya ini drama wajib tonton buat yang suka melodrama. Klimaks, konflik, pemain, dialog, semua keyen bingits. Oh, dan jangan lupakan OST.nya

Saya sampai punya tiga versi soundtrack drama satu ini.

Jadi, Snow Flowe dari Park Hyo Shin yang merupakan soundtrack utama Sorry, I Love You adalah lagu cover dari penyanyi terkenal Jepang Mika Nakashima, Yuki No Hana. Tapi, bener-bener beda dan saya baru tahu kalau itu lagu remake. Dengarkan keduanya dan perbedaannya pasti kerasa.

Dengarkan ketiga lagu itu. Tiga penyanyi, beda feel, berasa beda lagu. dan liriknya, liriknya ngena bingits

Oh, buat yang mau nonton streaming karena saya baik saya kasih link-nya disini. Marilah bergabung dengan sekte pecinta Moo-Hyuk yang tersakiti bersama saya saudara-saudara.

 

Iklan

2 thoughts on “The Subjective Review: I’m Sorry, I Love You (K-drama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s