Bab-bab Tak Penting: Menyoal Bapak Rahman dan Ibu Nunuk

Seperti biasa, kalimat pertama postingan akan diisi alasan kenapa jarang posting blog. Deadline. Pekerjaan. Kehidupan monoton. Dan malas. Alasan dinilai cukup.

Mari kita move on ke tujuan utama kita posting.

Bapak, Ibu, dan saudara sekalian. Kemarin ketika saya sedang berjalan sepulang mengaji (ceritanya putri manja ini gemar mengaji dan anak sholehah di dunia nyata, sudah jangan diungkit lagi saya malu dibilang anak sholehah #tsaaah) teman mengaji saya mengajak ngobrol di sepanjang perjalanan pulang dari masjid.

Ngobrol hal nggak penting mengenai mbak yang itu mau nikah Oktober nanti dan hal yang lebih nggak penting mengenai nanti nikahnya aku dulu atau kamu dulu. Dan hal paling nggak penting sedunia seperti: kita nikah masal aja biar hemat, sekampung nikah jejer-jejer jadi hemat pengeluaran yang datang ke kondangan pun hemat waktu dan biaya (oke, ini ide saya, kenapa? Nggak suka?)

Terlihat teman saya tidak menyukai ide saya karena hello nikah itu sekali seumur hidup keless.

Kemudian saya berpapasan dengan ibu dengan wejangan paling super sedunia ketika beliau sedang membeli tahu tek (ini kuliner khas Surabaya, nanti, nanti saya ceritakan kuliner satu ini ya, sekarang fokus!) teman saya berkata: “Nya, ada ibumu tuh.”

Lalu saya mengangkat tangan ke atas, sambil tersenyum, “Halo bu Nunuk, Assalamualaikum.”

Teman saya tertawa, tapi waktu sudah agak jauh dengan Bu Nunuk dia bilang, “kamu nggak sopan banget manggil ibumu Bu Nunuk.”

Dan saya merasakan ribuan jarum menusuk dada. Di sini *tunjuk ketek* iya di sini *tunjuk lubang hidung*

Di rumah kalau lagi bercanda saya suka memanggil orang tua tercinta sejagat raya yang paling ghaul saya dengan nama mereka.

Contoh:

“Pak Rahman, dicari sama Bu Nunuk di dapur.”

Atau

“Bu Nunuk ini, kacamata selalu lupa naruh dimana.”

Atau

“Pak RT dicari warganya tuh, cie yang lagi sibuk.”

Atau

“Mas ganteng (ini sebutan buat adik saya, dia langsung malu gitu kalau saya panggil gini hedeh anak alay ini emang kok) sepedanya dikeluarin dong, Pak Rahman mau berangkat.”

Bisa dibilang itu sebagai sebutan kesayangan saya sama ibu dengan wejangan paling super sedunia, Papap Hollywud super juga mas ganteng berambut alay saya.

Yang baru saya sadar, jadi … itu … memanggil orang tua tercinta sejagat raya dengan nama … adalah … ketidaksopanan? Saya terkejut.

Saya hanya pake kata ganti Ibu dan Ayah menjadi Bu Nunuk dan Pak Rahman. Apanya yang salah ya? Apa kita harus menyebut orang tua kita selamanya Ibu, Bunda, Mommy, Mom, Mama, Emak, dan orang tua lelaki Bapak, Ayah, Dad, Daddy, Father, Papa, begitu?

Menurut saya, menurut saya sih. Saya. Orang yang manggil orang tua dengan sebutan nama dan dikira tidak sopan. Panggilan kesayangan justru menandakan seintim apa hubungan kita dengan orang tersebut.

Ayah tidak pernah marah ketika saya memanggilnya Pak Rahman. Atau ketika kami serumah saling menjawab, “kemeruh“ (sok tau, red) ketika ada yang cerita kepanjangan dan sisanya akan tertawa karenanya. Buat orang luar itu akan terkesan tidak sopan kami mengatakan kemeruh buat orang tua kami, tapi nggak ada yang tahu cerita dibalik kemeruh dan kenapa bilang kemeruh justru lucu di keluarga kami melebihi kami sendiri.

Setiap keluarga selalu punya inside joke bukan?

Silver Lining dari Bab Tak Penting ini:  Saling nyebut monyet ama endut ke pacar itu ndak sopan tauk. Sebut dia dengan nama seperti, Mas monyet atau mbak endut pasti lebih sopan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s