Braja dan Drupadi #1: Man From the Past

Ahem. Setelah lama sekali saya tidak memposting di blog kali ini saya berkolaborasi dengan Ilmi untuk membuat cerita bersambung. Simple sih alasannya, biar saya sering ngeblog aja. Dan dari dulu saya emang ingin kolaborasi bareng teman sesama blogger.

Jadi, setelah dipaksa dan agak setengah hati dengan memunculkan sticker beruang garuk-garuk tembok favoritnya akhirnya ilmi meminang kolaborasi saya. Maaf ya Ilmi agak maksa :p

Saya juga tidak tahu cerita ini mau dibawa kemana. Yang pasti Ilmi akan menjadi POV lelaki dan saya yang akan menjadi POV perempuan.

Setiap minggu bergantian saya dan Ilmi akan melanjutkan cerita ini. Judul sementaranya “Braja dan Drupadi” ngek. Judulnya klise banget. Tapi seiring dengan berjalannya waktu nanti juga nemu judulnya.

Dan saya yang mengawali ceritanya: Dari sudut pandang Drupadi.

Selamat menikmati. Dan sampai jumpa minggu berikutnya dengan sudut pandang Braja.

***

Chapter 1: The Man From the Past
Drupadi Chp. 1

Ada satu hal yang membuatku jatuh cinta dengan coffee shop ini. Bukan baristanya, meskipun dia tampan dan setengah mati menyukaiku, tapi aroma cengkeh yang menguar dari meja barista. Aroma yang mengingatkanku akan masa lalu.

Aku meletakkan tanganku di atas meja, mencoba berkonsentrasi dengan layout yang baru saja dikirimkan Rita, editor senior di tempatku bekerja. Aku menghirup nafas dalam-dalam, biar bagaimanapun aroma cengkeh ini selalu berhasil mengeluarkan inspirasiku. Dan meja di sudut coffee shop tepat di belakang meja barista ini telah resmi menjadi milikku, hanya aku, sejak setahun lalu.

“Heh, Rita, aku sudah bilang warna layout untuk special report itu dove. Kamu tahu warna dove nggak sih? Dove, bukan ungu.” Seruku pada Rita melalui telepon. Aku menutup telepon sebelum Rita menjawab pertanyaanku.

Kopi yang kupesan sudah dingin, aku tidak begitu suka kopi dingin. Baru saja tanganku akan meminggirkan cangkir kopiku seseorang duduk di depanku. Aku memutar mata, lagi. Padahal hari ini aku hanya memakai sweater dan running shoes.

“Maaf ya, saya tahu Anda sudah memperhatikan saya sejak tadi tapi saya sedang sibuk.” Aku melihat lurus ke dalam matanya.

Lelaki. Usia awal tiga puluh. Wajah standar tapi dari jas dan kemeja bermereknya aku tahu latar belakangnya tidak standar. Senyum dengan sudut bibir terangkat sebelah itu yang membuatku tidak ingin berurusan dengannya. Dari caranya menatapku dia seorang profesional untuk urusan ini. Oh, andai dia tahu aku yang sebenarnya.

“Kopimu sudah dingin, biar aku belikan yang baru.”

Aku menggeleng, “Saya bisa beli sendiri, sekarang bisa Anda pergi sebelum pacar Anda kembali dari toilet?” Dengan isyarat tangan aku mengusirnya.

“Nggak usah sok jual mahal, ayolah, cuma satu kopi.” Dia mencoba meraih tanganku tapi aku menepisnya, “kamu punya tangan yang cantik.”

“Terima kasih,” Aku tersenyum, “tangan ini juga biasanya saya gunakan untuk nampar lelaki seperti Anda.” Kataku tanpa menghilangkan senyum.

Dengan penuh kengerian di wajahnya, lelaki itu mundur perlahan.

Aku menghempaskan tubuhku ke kursi. Belakangan ini aku sering menemui lelaki semacam itu di coffee shop ini. Jika hal seperti ini terus berlanjut, sepertinya aku harus mencari coffee shop beraroma cengkeh lain.

Lonceng pintu coffee shop berbunyi pertanda ada pengunjung baru yang masuk. Ketika aku melihat Jess, dalam stiletto kuning kesayangannya dan french braid yang dua minggu terakhir jadi penampilan favoritnya, aku menggeleng tidak sabar. Dia menenteng banyak paperbag. Belanja lagi.

Sorry, telat Dru, tadi ada promo di Zara. Lumayan,” sambil meletakkan paperbag di atas meja Jess duduk lalu menyerupuk kopiku tanpa permisi, “kalau kamu mau aku bisa temenin ke sana, nggak jauh kok dari sini.”

“Satu jam. Aku sampai sudah selesai memeriksa semua layout majalah bulan ini. Dan rubrikmu mengenai fashion tartan itu masih kurang halus. Perbaiki lagi.” Aku melipat tanganku di dada.

“Aih, Dru, itu kan memang masih belum masuk tim graphic design. Nati aku bilangin ke mereka deh.” Jess memeriksa tas dan baju yang baru dia beli di Zara satu persatu tapa memedulikanku.

“Jess seminggu lagi majalah mau naik cetak dan kamu … kamu dengerin aku nggak sih?”

“Makanya kamu juga aneh. Seminggu lagi majalah mau naik cetak dan kamu bukannya ngurusin itu malah ngajak ke sini wawancara sama peneliti bionuklir apalah. Itu bukan tugasmu, Dru.” Sekali lagi Jess menyeruput kopiku tanpa permisi.

“Si Mey, reporter itu, lagi cuti kan? Makanya aku sebagai atasan yang baik mau menggantikannya.” Aku berusaha tersenyum. Salah. Ada alasan lain dibalik itu.

Jess memutar bola matanya. “Baik apaan. Bilang aja kamu mau kenalan sama bussiness consultant itu, katanya dia ganteng. Seorang Dru, yang sekali kibas rambut cowok bertekuk lutut, mana mau ngelewatin kesempatan ini.”

Dengan telunjuk aku mendorong wajah Jess. “Jangan sembarangan. Aku juga punya tipe dan aturan yang jelas. Ini … ini murni karena pekerjaan. Kalau dia ganteng anggap saja rejeki anak sholehah.”

Dia hanya menatapku tajam lalu, untuk kesekian kali, menyeruput kopiku.

“Bisa kamu pesen sendiri? Ini. Punyaku.” Kusaut kopi itu dari depan Jess. “Ngomong-ngomong Jess, edisi besok special report mengenai bagaimana cara menghindari sexual harrasment dari lelaki buaya darat. Kasih tahu ke yang lain.”

“Ini idemu kan? Sudah berapa kali aku bilang kamu itu managing editor, Dru bukan editor-in-chief bukan tugasmu buat nentuin tema. Aku bisa gila kalau terus-terusan temenan sama kamu.”

“Emang kenapa? Bu Andri juga lagi ke Thailand. Pakai itu aja.” Aku membenarkan rambut sepundakku ke belakang telinga. Belakangan aku mulai menyukai rambut sepundak ini, membuat pundakku jadi lebih tegas dan wajahku lebih tirus. Pilihan yang tepat.

Terutama ketik tiba-tiba lonceng coffee shop berbunyi dan dia muncul.

Sejak semalam aku sudah mempersiapkan diriku. Aku adalah Dru, Dru yang digilai banyak lelaki. Dru yang menjadikan majalah tempatku bekerja naik oplah hingga 100% karena gebrakan milikku. Dru dengan pundak lebih tegas dan wajah lebih tirus.

Caranya berjalan masih sama, masih tegap dan penuh pendirian. Dengan senyum tulus merekan ketika mata kami saling tertaut. Lalu, saat itu juga, Dru dengan pundak lebih tegas dan wajah lebih tirus hilang, digantikan Dru yang tergila-gila dengan cengkeh yang menguar dari tubuhnya.

Tanpa sadar aku berdesis, “Braja.”

“Hai, Drupadi.” Dia berdiri. Di depanku. “Lama tidak bertemu.”

Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali mengangguk. Butuh waktu beberapa detik sebelum aku dapat menguasai diri dan menyalaminya, “Lama sekali. Maaf, kamu pasti terkejut waktu tahu kalau aku yang akan mewawancaraimu.”

Dia duduk di sebelah Jess, membuat Jess salah tingkah dan segera menurunkan semua paperbag dari atas meja.

“Ini benar-benar kebetulan.” Katanya.

“Benarkah? Aku nggak percaya dengan kebetulan.” Karena dia yang mengajariku untuk tidak percaya hal-hal itu.

Dia mengangkat bahu, “Kamu masih Drupadi yang sama seperti dahulu.

Aku tersenyum tipis, “Kamu juga. Masih Braja yang sama.”

Iklan

8 thoughts on “Braja dan Drupadi #1: Man From the Past

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s