Braja dan Drupadi #3: Interlude

Braja dan Drupadi #3

“Braja mau minum apa?” Jess sedari tadi sudah menahan tangannya agar tidak menempel di lengan Braja, atau wajahnya, atau pundaknya, atau hal lain yang biasa dilakukan Jess apabila bertemu dengan lelaki yang menguarkan aroma kejantanan seperti Braja. Dia tersenyum manis, khas Jess yang hampir membuatku menariknya keluar coffe shop.

“Teh, tanpa gula,” jawabku, “kamu masih suka itu, kan? Braja?”

Braja hanya tersenyum, pandangannya masih tak teralihkan padaku. Sering aku berpikir, seperti inikah caraku memandangnya? Dengan mata penuh kerinduan seolah melalui matanya aku bisa melihat diriku sendiri; Drupadi empat tahun yang lalu, Drupadi dengan banyak ambisi.

“Kalian, sudah saling kenal?”

“Empat tahun lalu … kita pernah bertemu.”

“Cukup,” kataku, “bisa kita langsung pada tujuan utama kita, mewawancarai Braja, peneliti bionuklir LIPI.”

Masih dengan senyum tipis itu dia mengangguk, “Tentu.”

“Baiklah. Saya dengar Anda sedang didekati oleh penyidik kepolisian akibat isu penggelapan dana penelitian, benarkah?”

Braja memajukan badannya, Jess menarik bajuku panik. “Saya dengar saya diundang wawancara mengenai profil saya, bukan isu hangat saya.”

“Bukankah isu hangat juga termasuk ke dalam profil?”

Jess berdiri, menarik kursiku mundur, “Dru … kamu mau mati hah?!” Jess membisiki telingaku, “bukannya bu Annette selalu bilang jangan macam-macam dengan profil, jangan buat klien marah. Kamu kerja di majalah ini berapa lama sih?”

“Empat tahun.” Jawabku pada Jess, aku menarik kembali kursiku, masih menunjukkan wajah keras Dru dengan rambut pendek dan dagu lebih tirus. “Jangan dikte aku, Jess, aku tahu apa yang kulakukan.” Dia ingin aku untuk mewawancarai mengenai kehidupan pribadi Braja? Aku tidak butuh itu. Aku telah tahu semuanya.

“Di kampus dia dipanggil Bra, seperti pakaian dalam wanita. Pemalu yang suka berdiam diri di laboratorium. Ada bekas luka di betis kanannya. Menjadi mahasiswa fisika pertama yang memenangkan olimpiade fisika Internasional. Perokok handal, suka menggambar tapi memilih mengikuti jejak orang tua yang seorang ilmuwan. Terakhir,” aku menahan nafas, “pernah melakukan vandalisme di tembok kecamatan Pedhotan ketika KKN. Apa ada yang masih kurang?”

“Satu hal,” ada jeda lama sebelum Braja melanjutkan, “aku melakukan vandalisme itu untuk mengungkapkan isi hatiku pada wanita yang telah kuperhatikan selama dua tahun di kampus.”

Aku menelan ludah, “wanita yang sangat beruntung.”

Braja menggeleng, “saya yang beruntung mengenal wanita itu.”

***

Pedhotan, Banyuwangi, 2010

Ada tiga macam orang yang aku benci: perokok, perokok, dan perokok yang sok ganteng. Seperti cowok yang sedang duduk di depanku ini. Di kamar milik putri kepala desa, tempat kami menginap selama sebulan untuk KKN, enam teman cewek sekelompokku sibuk menggosipkan dia.

“Katanya kalau di fisika itu memang terkenal anaknya tukang ngerokok,” ucap salah satu dari mereka. Aku belum hafal nama mereka, rasanya tidak ingin menghafal karena mereka menganggu tidur malamku dengan gosip-gosip terhangat di Pedhotan, seperti desa ini punya cadangan gosip cukup banyak saja.

“Nikotin itu seksi tau, cowok yang bajunya ada bekas nikotinnya itu tandanya dia pejantan tangguh.”

“Cowok yang bajunya ada bekas nikotinnya tandanya di hari tua dia bakal nafas pake masker oksigen,” kataku di balik selimut karena sudah lelah mendengarkan ocehan mereka selama satu setengah jam. Demi Tuhan ini jam dua pagi!

Lalu seolah serangan ocehan gosip itu belum cukup, dia, yang aku tidak tahu namanya meski kami sudah sekelompok selama tiga hari, masuk ke dalam divisiku. Divisi lingkungan hidup. Hanya karena dia anak fisika dan aku anak komunikasi.

Sekarang kami bertiga: aku, dia, dan anak Biologi yang sejak menginjakkan kaki di Pedhotan hanya berbicara sepuluh kalimat. Ya, aku menghitungnya. Duduk di belakang rumah Kepala Desa, memikirkan program divisi lingkungan untuk desa Pedhotan. Sayangnya, tidak ada yang bersuara sejak setengah jam lalu.

Aku mengibaskan tanganku menghindari asap rokoknya, “kamu tau nggak sih mahasiswa dilarang merokok—,”

“Di area kampus,” dia memotong kalimatku, “seperti yang bisa dilihat, ini bukan area kampus.” Dia melanjutkan menghisap penggerogot paru-paru itu.

“Heh, kamu itu ya.”

“Yang kamu panggil ‘heh’ itu punya nama,” dia berdiri, menginjak puntung rokoknya lalu mengulurkan tangan padaku, “Braja.”

A-apa? Apa-apaan? “Apa nih maksudnya?”

“Maksudnya kita berkenalan, saling bertukar nama lalu bersalaman. Seperti itu sih biasanya adab berkenalan.”

Dia!! Aku terhenyak cukup lama hingga uluran tangannya berpindah kepada cewek anak Biologi di sebelahku, “Braja.” Ulangnya. Sekali lagi, dia!

“Anna.”

“Kalau nggak salah kita satu kelompok waktu OSPEK dulu ya Anna?”

“Iya, satu kelompok. Lalu kita dihukum nggak boleh minum seharian karena lupa bawa barang yang ditugaskan,” Anna tertawa. Untuk pertama kalinya.

Kemudian mereka terjebak dengan obrolan panjang tanpa aku yang meskipun aku mencoba meraih pada topik astro apalah dan mengenai dosen di Fakultas mereka, tidak bisa. Tetap. Aku anak sosial, bukan eksakta. Diam-diam aku iri dan marah. Karena tetap tidak mendapat topik akhirnya aku berjalan meninggalkan mereka.

“Drupadi, mau kemana?” Itu suara Braja.

“Ke kamar, emang apa gunanya aku di divisi lingkungan kalau udah ada ahli lingkungan pemberantas Global Warming di sini?” Aku berbalik, menemukan  bekas senyuman pada kedua bibir mereka.

“Duduk sini, jangan kayak anak kecil.” Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya, “kita baru ngobrolin soal membuat penjernih air tapi Banyuwangi kan semua sungainya jernih buat apa coba?”

Aku menyeringai, “sampah. Nggak semua rumah di desa ini punya sampah, sampah mereka dibakar di pinggir hutan sana.” Kataku.

“Maksudmu kita bikin tempat sampah? Itu program kita?”

Aku mengedikkan bahu. Tunggu! Ada yang aneh, “dari mana kamu tau namaku Drupadi?”

“Semua orang tahu namamu Drupadi.” Jawabnya cepat.

Aku menyunggingkan senyum pada sebelah bibirku. Pasti dia mendengar dari cowok sekamarnya mengenai aku. Aku menyampirkan rambut panjangku ke belakang. “Iya, aku tahu.”

“Sekarang kamu bisa kesampingkan hasratmu untuk membanggakan diri sebentar, kita perlu membentuk program untuk KKN ini.”

“MAAF?”

“Dimaafkan.” Dia menepuk lagi tempat kosong di sebelahmu, “duduk.” Lalu, entah suaranya menimbulkan gelombang elektromagnetik sekuat apa aku menurut dan duduk di sebelahnya. Layaknya kurcaci aku mendengarkan pendapatnya.

***

“Kamu mau … melarikan diri?” Aku mencoba meraih tangannya di Pelabuhan Ketapang ini. Kapal sudah akan berangkat. Pada tangan kanannya tersampir tas ranselnya sementara tangan kirinya menggantung pada tali kapal.

“Bukan … iya, aku nggak tau.”

“Apa maksudmu nggak tau? Kalau nggak tau ngapain kamu ke Ketapang shubuh-shubuh begini?!” Aku berteriak, terus berusaha meraih tangannya yang untuk kesekian kalinya menepis tanganku.

“Aku nggak mau pergi gitu aja, kamu tau itu Dru. Tapi,”

“Aku nggak mau dengar tapimu, keluar sekarang!” Aku menarik tangannya. Kini lenganku bergelantung pada lengannya. Erat. Bagaimana bisa aku membiarkannya pergi begitu saja setelah semua yang terjadi?

“Dru,” dia mencoba melepaskan diri dariku, “kamu bilang aku harus mengikuti kata hatiku. Ini kata hatiku.”

“Kata hati nggak selamanya rasional bodoh! Pakai pikiranmu untuk menentukan pilihan, kamu ini anak fisika semuanya harus diperhitungkan bukan pakai perasaan!” Aku berteriak histeris. Air mataku sudah mengalir tanpa sadar. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

“Maaf.”

****

Ciee akhirnya selesai juga tugas saya setelah menunda dan menunda.

Bab pertama bisa ditemukan di sini.

Bab kedua oleh Ilmi bisa ditemukan di sini.

Tongkat estafet beralih padamu lagi, Braja.

Iklan

8 thoughts on “Braja dan Drupadi #3: Interlude

    1. Hehehe Dru juga bingung kenapa Bra ke Ketapang shubuh-shubuh. Betewe Mi, Banyuwangi itu masuk ke jalur pantura lho ternyata, makanya aku pake Banyuwangi. Semangat Bra!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s