Kepada Semua Tulisan dan Blog yang Saya Biarkan Mengambang

Hidup mengikat saya, itu yang bisa saya katakan untuk mengawali tulisan ini.

Semenjak Januari lalu saya mendapatkan suasana baru, benar-benar baru, dengan budaya yang baru, bahasa yang baru, dan orang-orang yang sepenuhnya baru. Hal tersebut membuat saya merasa tidak memiliki waktu untuk bernafas barang sejenak dan menenggelamkan hal-hal yang sangat saya nikmati untuk sejenak (membaca, menulis, mengisi blog, bahkan Drupadi).

Mari, akan saya kenalkan dunia baru saya kepada Anda:

Year 5, Mrs. Kelsey, dan ... tebak saya yang mana??
Year 5, Mrs. Kelsey, dan … tebak saya yang mana??

Oke, gambarnya nggak jelas tapi who cares??

Mereka adalah pemenuh hari saya sejak tiga bulan lalu. Delapan belas anak luar biasa, dan satu guru luar biasa. Sebulan pertama saya berada di sana saya merasakan kelelahan luar biasa. Entah karena watak saya terlalu pemikir, introvert, dan pendiam di bulan-bulan pertama berkenalan dengan lingkungan baru, saya selalu merasa takut pada delapan belas anak-anak ini (entah untuk alasan apa padahal mereka masih anak-anak?)

Tapi waktu yang melakukan segalanya, waktu merekatkan saya dengan anak-anak ini. Waktu merenggangkan kecanggungan saya. Waktu menyembuhkan ketakutan saya akan kesalahan bahasa apabila berbicara pada mereka.

Dan waktu pula yang mempertemukan saya pada suatu tulisan yang membuat saya kembali menikmati diri saya: pasrah. Itulah kata kuncinya.

Lalu pasrah membuat saya sadar betapa beruntungnya saya dipertemukan dengan mereka. Mengenal budaya baru, hal-hal baru, belajar bahasa baru, dan banyak hal baru lainnya.

Kemudian saya mendaftar alasan-alasan saya menyenangi dunia baru ini:

– Saya senang ketika Matthias, menceritakan hal-hal sederhana ketika dia berbicara dengan supirnya, atau hanya karena dia berhasil memakan empat sandwich sekaligus pagi ini. (Ya, saya tahu itu tidak penting tapi itu manis sekali bukan?)

– Saya senang ketika mereka berlari sambil memanggil saya hanya untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi atau mereka lihat.

– Ketika Josh bertanya hal-hal tak penting seperti TNT atau bom nuklir yang meledak lebih dahsyat?

– Edgar yang selalu membawa kodok, serangga, ulat, ke dalam kelas setelah menemukannya di lapangan waktu istirahat.

– Gang “meaws” yang selalu berkata meaw pada awal kata mereka.

– Szymi dan panggilan, “Misssss,” yang sangat manja setiap memanggil saya.

– Nihaal yang pendiam tapi sangat suka bererita meskipun tidak ada yang mendengarnya tapi dia tidak pernah marah dan vegetarian.

– Wenny dengan nada, “WHAAT?!” dan “aku mau nangis” untuk hal-hal sepele sekalipun.

– Vincent yang sungguh nakal dan ingin diperhatikan namun ketika saya merangkul pundaknya layaknya anak kecil dia bercerita bahwa dia ingin jadi ilmuwan, dan meminta saya untuk membantu matematikanya agar dia bisa menjadi ilmuwan. Vincent yang ingin dipanggil “awesome” tapi ketika saya memanggilnya “awesome” dia justru malu dan pura-pura tidak peduli.

– Jula, seorang ratu drama dan selalu menjadi “target” dikerjai teman-temannya tapi tidak pernah mau menyulitkan orang lain. Jula akan menangis, ketika disakiti tapi tidak pernah mengadukan orang tersebut kepada guru. Dia menangis, sakit hati, lalu kembali berbaikan dengan orang yang menyakitinya. (Bukankah ratu drama ini sangat dewasa?)

Di sini saya belajar menghargai, bagaimana mereka menghargai saya dengan bahasa saya yang belepotan dengan tidak menertawai saya tapi justru membenarkan dengan kata-kata yang sangat sopan. Bandingkan dengan kita yang menertawai orang-orang desa yang masih membawa logat mereka ke kota.

Di sini saya dipaksa untuk lebih dewasa dan menyampingkan sifat kekanak-kanakan saya (karena, hey, saya salah satu orang dewasa diantara kanak-kanak ini).

Di sini saya belajar untuk lebih sering mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil.

Di sini saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik, karena sungguh, mereka adalah pendengar yang sangat baik dan sangat menghargai pendapat orang lain.

Di sini saya belajar untuk tidak pelit pujian (bagaimana bisa guru-guru saya SD dulu tidak pernah mengajarkan hal ini?) bahkan ketika anak berhasil menyelesaikan satu soal, “good job” “fantastic” “brilliant” “great” tidak butuh lima detik untuk mengucapkan hal tersebut tapi banyak guru lokal yang melupakannya.

Di sini saya belajar untuk menjadi calon ibu bahwa asupan bacaan sejak kecil meningkatkan imajinasi anak tersebut (sekalipun, saya tidak pernah melihat anak-anak itu menggambar dua gunung dengan satu matahari di tengah, mereka menggambar orang, robot, kelinci, tapi tidak pernah dua gunung dan satu matahari)

Lalu saya menggumamkan pada diri saya sendiri, kamu bisa belajar banyak di sini, Nya, sungguh. Dan saya mulai menikmatinya.

Side note: guru kelas saya juga adalah orang yang sangat luar biasa, beliau seorang petualang yang menambatkan hatinya pada lelaki Indonesia. Seorang yang sangat ceria, ekspresif, dewasa, dan terkadang membuat saya membatin, “ternyata orang Amerika memang seperti ini, bukan hanya akting yang dibangun drama-drama Amerika”

Mengutip perkataannya, “Aku suka sekali berpetualang, menemukan hal-hal baru, tapi dengan Ana di gendonganku membuatku sadar sekarang waktunya aku untuk berhenti, mencari tempat perlindungan, menemukan teman yang dapat bertatap muka setiap hari hingga aku bosan, sambil terus melakukan hal yang aku senangi.”

Atau kata-katanya, “Life’s sucks, like, my dad’s dying because of cancer but everybody means to be dead someday right and it’s natural thing, and all the messed up things in this world that I can’t carry anymore. But then again, maybe life’s not that suck if we smile and I still have a lot of people that could make me happy.”

Maybe I’m not the person with expression like you do, but Mrs. Kelsey, you rock, dude!

Maaf untuk Ilmi karena saya belum berhasil menaklukkan Dru (I’m working on it but Dru’s too mischievous to handle, haha let me put all the blames on Dru) Tapi, Ilmi, semoga Ilmi sukses di Taiwan.

Dan untuk semua teman yang saya tinggalkan di bagian otak saya lain dan sempat terlupakan untuk mengetik tiga huruf “hai” saya juga meminta maaf.

Dan untuk semua tulisan yang saya biarkan berteriak di ujung otak meminta untuk ditulis namun tak pernah menemukan waktu yang tepat untuk menulis (look at all the childish things I just wrote).

Dan untuk blog yang tak pernah saya sambangi, saya berjanji akan lebih sering menyambanginya.

Iklan

2 thoughts on “Kepada Semua Tulisan dan Blog yang Saya Biarkan Mengambang

  1. aku uda balik loh Nya. Aku kemaren-kemaren juga sempat terlena dengan dunia nyata dan sekarang saya kembali meramaikan duni ini dengan tidak meninggalkan dunia nyata (halah apase)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s