The Theory of Everything: The Incredible Story of Stephen and Jane Hawking

On the list of my favorite movie all time, I’ve come to a conclusion that I edited that list.

This movie, here, the one that I’ll write the review, becoming one of my favorite movie, side by side with A Beautiful Mind. I’ve had spent my entire weekend watched this movie over and over again. That’s how good this movie is.

Sebagai seseorang yang mempelajari fisika akan sangat memalukan jika saya tidak mengenal Stephen Hawking, penemu Black Hole yang terkena sindrom ALS (sindrom yang menjadi booming dan terkenal semenjak adanya Ice Bucket Challenge itu), film ini, menceritakan tentang dirinya dan Jane Hawking, perempuan luar biasa yang masuk dalam deretan bayang-bayang lelaki luar biasa.
Hawking muda sangat sarkastik, canggung, pintar, dan percaya diri. Brian temannya menyebut Hawking “narcisstic jerk” karena dia tidak pernah belajar namun selalu berhasil menyelesaikan tiap soal. Hawking, seorang kosmologis yang menyelesaikan PhD-nya bertemu dengan Jane.
“Anda hanya butuh tiga menit untuk tahu apakah Anda dan dia saling tertarik satu sama lain.” Itulah yang terjadi pada Stephen dan Jane. Melalui perkenalan yang sangat unik:
“Hello,” Hawking berbicara dengan nada canggung.
“Hello,” Jane membalas dengan tarikan nafas berat pertanda Jane sendiri tak kalah canggung dan gugup.
“Science.”
“Arts.”
Lalu mereka menjalin hubungan layaknya pasangan lain. Ke pesta dansa, saling menceritakan ide satu sama lain. Jane, mahasiswi seni yang juga ingin menyelesaikan PhD-nya di jurusan Medieval Spanish Poetry.


Setengah jam pertama film ini diceritakan dengan sangat cantik. Kita bisa merasakan bagaimana mereka saling bertemu, jatuh cinta, bagaimana Jane mengambil langkah paling berani di hidupnya dengan terus mencintai Stephen meskipun Stephen divonis hanya akan hidup selama dua tahun karena ALS yang dideritanya.

“I know what you all think. That I don’t look like a terribly strong person. But I love him and he loves me. We’re going to fight this illness together. All of us.”

Kemudian kita dibawa oleh lika-liku kehidupan Stephen dan Jane Hawking. Saya sangat mengagumi Jane Hawking, bagaimana dia mencoba kuat untuk Stephen. Jane muda yang percaya bahwa cinta sudah cukup untuknya memutuskan untuk terus bersama Stephen.
“I want us to be together for as long as we’ve got and if that’s not very long. Well, then that’s how it is.”
Dua tahun, para dokter berkata. Tapi Stephen menunjukkan pada mereka bahwa mereka salah. Dengan kondisi yang makin menurun Jane terus mendampingi Stephen. Jane mundur selangkah pada dirinya sendiri dan menyiapkan kedua tangan untuk Stephen.

Reality vs the movie adaptation

Saya suka bagaimana dua orang ini tanpa harus berbicara bisa menyampaikan apa yang diinginkan. Jane hanya harus meletakkan kursi roda di depan Stephen tanpa memintanya untuk duduk dan memberi penjelasan bahwa kakinya sudah tidak lagi tidak dapat digunakan.
Jane tahu bagaimana keras kepala suaminya dan Stephen tahu bahwa dia membutuhkan kursi roda tapi terlalu malu untuk mengatakannya.
“This is temporary.” Ucap Stephen, lebih untuk dirinya sendiri.
“Of course.” Balas Jane, pada Stephen.
Lalu sang sutradara membawa kita pada konflik lain. Jane yang luar biasa, mulai lelah. Jane, yang tidak diijinkan untuk lelah karena, hey, suaminya memiliki penyakit motoric yang menyebabkan orang yang dicintainya hanya bisa duduk di kursi roda dan dua anak masih kecil yang harus diasuhnya dan thesisnya yang tak kunjung usai sementara sang suami, dibalik kekurangannya, telah bergelar professor.
Jane yang memilih diam dalam segala opini Stephen meskipun dia tidak setuju, Jane seorang pendengar yang baik, akhirnya mencurahkan isi hatinya: “I need help Stephen.”
Lalu muncullah Jonathan, seorang duda yang mengabdikan hidupnya untuk gereja dimana Jane mengikuti paduan suara satu jam seminggu. Jonathan menawarkan bantuan dan meski berkali-kali Stephen mengatakan bahwa keluarganya adalah keluarga yang normal dan tidak butuh bantuan, melihat sang istri akhirnya Stephen berkata: “I understand if you need help. If someone is prepared to offer it, I won’t object.”


Di sini konflik yang bagi orang lain akan membuat mereka kehilangan sedikit rasa kagumnya pada Jane menurun. Tapi, saya tidak.
Jane melupakan dirinya dan memusatkan perhatian pada Stephen selama belasan tahun. Jane berjuang dengan thesisnya selama tiga belas tahun di tengah kesibukannya akan Stephen. Ketika Jonathan datang Jane dapat sedikit bernafas dan mulai mempertanyakan apakah dirinya pendosa karena hatinya mulai berpaling dari Stephen?
Tapi tidak, Jane tidak berpaling, meskipun hatinya setengah mati berteriak Jonathan. Mereka berdua, Jane dan Jonathan, mundur satu sama lain karena Stephen membutuhkan Jane lebih dari siapapun.
Lalu rasa kagum akan Jane akan terbangun kembali ketika Stephen terkena pneumonia dan divonis hanya bisa hidup dengan alat bantu mesin.
“Stephen must live. I will see he gets everything he needs. I will have him transferred back to Cambridge.” Ucap Jane ketika memutuskan untuk mengijinkan Stephen melalui tracheotomy, yang akan menyebabkan Stephen tidak dapat berbicara lagi.
Jane menemani Stephen, meski kini Stephen telah memiliki perawat pribadi bernama Elaine. Jane melupakan Jonathan dan kembali menjadi bayang-bayang Stephen, bayang-bayang yang menguatkan Stephen hingga menjadi Stephen Hawking seperti sekarang.
Lalu kita sampai pada hal paling mengejutkan dan kontroversial pada Stephen Hawking: perceraian keduanya setelah dua puluh lima tahun bersama.
“I have asked Elaine to travel with me to America.” Kata Stephen kepada Jane pada suatu malam.
Yang membuat Jane hanya bisa terdiam. Stephen biasanya akan mengatakan undangan apapun yang didapatnya kepada Jane, Jane yang pertama.
“How many years?” tanya Stephen setelah mengucapkan kata maaf.
How many years? Berapa lama Jane terkungkung pada Stephen. How many years? Berapa lama lagi Jane akan menjadi bayang-bayang Stephen. How many years? Berapa lama mereka telah merekam jejak kebahagiaan.
“They said two.” Jawab Jane, “But you’ve had many.”
Dua tahun yang menjadi dua puluh lima tahun komitmen Jane pada Stephen. Di sini saya tahu bahwa Stephen tahu antara Jane dan Jonathan. Stephen tahu namun tidak ada yang bisa dia lakukan karena dia sangat membutuhkan Jane. Kini, dengan adanya Elaine, Stephen dapat melepaskan Jane.
“How many years?” How many years? Now, I set you free through my travel to America. Karena hanya Stephen yang bisa melakukan itu, Jane tidak akan meninggalkan Stephen seberat apapun cobaannya jika bukan Stephen yang mengambil langkah lebih dahulu. Begitulah pikiran saya.
Dan Jane, sambil menangis berkata:

“I have loved you. I did my best.”

Orang yang tidak mengerti akan berkata tapi Jane sudah menemaninya dua puluh lima tahun! Kenapa mereka sampai berpisah setelah dua puluh lima tahun komitmen?
Tidak akan ada yang tahu berapa lama Anda akan bertahan jika Anda ada dalam posisi Jane.
Mungkin film ini tidak memberikan saya gambaran mengenai kejeniusan Stephen Hawking, mungkin saya sedikit kecewa karena kerja keras dan pencapaian Stephen Hawking yang luar biasa tidak begitu ditonjolkan. Tapi setidaknya melalui film ini saya bisa berkenalan dengan Jane.

Felicity Jones, Prof. Stephen Hawking, Jane Hawking, and Eddie Redmayne

Karena tanpa Jane Hawking, tidak akan ada Stephen Hawking yang seperti sekarang.

Stephen Hawking and Eddie Redmayne (who won Oscar for his performance as Stephen Hawking)

Oh, dan saya sangat menyukai soundtrack The Theory of Everything.

https://www.youtube.com/watch?v=nMFUkbr7ymY (I can’t embed the video so I just put the link to the soundtrack here, it’s a beautiful score)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s