#5 Braja dan Drupadi: Damsel in Distress

Suara melankoli hujan yang turun di luar bertabrakan dengan suara adukan sendokku di cangkir kopi pemberian June beberapa tahun lalu, cangkir yang lebih mirip elipse daripada bulat sempurna. June membuatnya sendiri, June suka menghadiahkan hal-hal yang dibuatnya sendiri, sangat artistik dan klasik.

damsel in distress fix

Kami pecinta kopi, aku dan June. Tapi bahkan aroma Arabica yang menguar dari cangkir elipse ini tidak bisa membuat moodku membaik. Aku berhenti mengaduk, menundukkan kepala sambil menghela nafas panjang-panjang.

Aku benci mengakuinya. Tapi Jess benar.

Kalimat Jess di coffee shop selepas Braja pergi meninggalkan kami kembali bergema di telingaku.

“Kamu selalu suka cari masalah, Dru. Aku nggak peduli kalau kamu sudah membunuh buyutnya Braja, kamu harus mengesampingkan pengalaman pribadi itu dan jadilah professional ketika bekerja. Itu yang selalu kamu bilang sama aku. Sekarang, lihat kamu, koar-koar tentang urusan pribadimu dengan Braja.” Lalu Jess meraup tas-tas belanjaannya, berdiri. “And you’re not Damsel in Distress, you’re too manipulative to be pathetic.

Jess sialan. Aku melempar sendok ke atas meja, membuat suara cukup nyaring di apartemenku. Aku benci disebut Damsel in Distress, puteri lemah yang butuh pangeran penyelamat. Kini aku sadar ada hal yang lebih kubenci, ketika Damsel in Distress menjadi sosok yang jauh lebih baik dariku, terutama ketika hal tersebut diucapkan oleh Jess.

“PMS?” Suara pria yang sangat kukenal memenuhi apartemenku.

“Nggak semua kemarahan cewek berhubungan sama PMS, June.”

June duduk di sofa ungu yang menjadi satu-satunya furniture berwarna mencolok di apartemenku. Tangan kirinya sibuk memindah-mindah channel tivi, dia sedang bosan. June tidak suka menonton tivi.

“Kenapa malam-malam kamu ke sini?” Aku duduk di sebelahnya.

Akhirnya June mematikan tivi, merengkuhku agar mendekat padanya. “Menunggu jawaban.”

“Jawaban? Atas pertanyaan?” Aku mengerutkan alisku. Apa aku ada janji dinner, atau menonton film dengan June?

the-Will-you-marry-me, question-mark.

“Oh, sial!” Aku berteriak, seketika berdiri menjauh.

It’s okay I won’t come to your house every night only for that answer. Relax.” June menarik kembali tanganku ke pelukannya, “Tapi, kalau-kalau suatu saat kamu ingat dan mau jawab kamu tau bisa menghubungiku dimana, kan?” June menghirup dalam-dalam rambutku.

June menyukai rambutku, aku sempat berdebat panjang dengan June ketika aku memberitahunya ingin memotong rambut hingga sebahu. Dia menyukai aroma shampoo pada rambutku, sejujurnya June menyukai segalanya tentangku.

“Lagipula,” June meneruskan setelah selesai dengan rambutku. Kini dia menampakkan senyum yang mengguratkan lubang di pipi kanannya, “Tumben kamu pulang menjelang deadline.”

June sudah hafal bahwa kantor telah menjadi rumah pertamaku, bukan kedua. Aku lebih memilih tidur di kantor dibandingkan di rumah menjelang deadline.

“Ada hal yang menganggu pikiranku.” Jawabku, aku memainkan ibu jari June, kebiasaan sejak kecil yang terbawa hingga kini, pada saat-saat tertentu.

“Annette? Jess? Atau tukang parkir yang nggak juga hafal denganmu padahal kamu orang paling luar biasa di kantor itu?”

Aku menggeleng, “Braja.” Kukira aku ingin membalas dendam nyatanya aku ingin jawaban atas pertanyaan sebelum dia menghilang. Sebuah keinginan yang membuat Jess marah padaku, dan entah apa yang ada di pikiran Braja ketika aku mengatakan sederetan kalimat yang sungguh bukan diriku.

“Braja? Klien jengkelin yang ingin kamu tendang keluar kantor?”

Aku tersenyum, mengangguk. Aku merekatkan kedua tanganku ke punggung June, memeluknya. Merasakan aroma cengkeh dari tubuhnya. “Maaf, aku belum bisa menjawab hari ini.”

It’s okay. Selesaikan urusanmu dengan klien-klien jengkelin itu. Tapi jangan terlalu lama, bukannya apa-apa aku takut kalau cincinnya aku hilangkan atau aku berikan ke pengamen secara tidak sengaja.” Katanya lantas tertawa.

June hampir menghilangkan cincin yang dia gunakan untuk melamarku ketika dia mendengar pengamen dengan suara indah, alih-alih memberi uang receh June mengambil cincin yang ia kantongi untuk pengamen itu. Dia harus mengelilingi terminal untuk bertemu dengan pengamen itu. Beruntungnya pengamen itu orang baik yang tak meminta imbalan apa-apa.

“Kamu harus simpan di tempat aman kalau begitu.” Aku berdiri setelah mencium kening June, “Selamat malam, June.”

“Tunggu, itu aja?”

Aku melihat jam dinding, sudah hampir setengah dua belas malam. “Hampir tengah malam, June. Kecantikanku hanya bertahan sampai tengah malam, aku nggak bisa membiarkanmu melihat wajah buruk rupaku.”

“Oh, dear princess share your burden with your true love.

No, love, go and leave me with all this pain.

Kami tertawa-tawa tapi June belum juga beranjak dari sofa ungunya. “Oke, kamu bisa tinggal di sini beberapa menit lagi. Aku mau mandi dulu.”

Aku menghancurkan hatinya, ketika June yang ceria dan teramat baik menundukkan kepalanya sembari memainkan cincin di jari manisnya tertangkap oleh cermin di dapurku. Aku membuatnya menunggu dan dia bahkan tidak mengeluh dengan waktu tanpa batas yang kukatakan padanya.

Tapi June tidak mengerti. Salah. June orang yang sangat mengerti diriku.

Kami bertemu di salah satu gala dinner pembukaan produk terbaru perbankan tempatnya bekerja. June tidak salah tingkah, tidak juga sok jual mahal. Ketika dia melihatku dalam balutan gaun abu-abu tanpa lengan June segera mendekatiku, aku tahu itu karena aku juga memperhatikannya sejak awal acara.

“Hei.” June menyapa dengan gaya casualnya. Bukan hanya gaya bicaranya tapi pakaiannya juga terlalu casual malam itu, celana jeans, kemeja, dan jas. “F*ck it I really want to know you, maaf dengan bahasaku, kebiasaan. So, mari kita mulai dengan berkenalan? Saya June.”

Malam itu kami berbicara panjang lebar, mulai nasi padang hingga minions.

“Tapi masakan padang lemah di satu hal.” Ujar June, hampir tengah malam dan hanya tinggal beberapa orang di gedung itu, termasuk kami.

Shut your face, masakan padang nggak ada duanya.”

“Sate, untuk masalah sate orang Madura juaranya.”

Lalu June melamarku. Di dalam mobil, ketika kita terjebak macet dan lagu Celine Dion It’s all coming back to me mengalun, sangat kontras karena lagu itu mengenai kesedihan. “Aku tau ini nggak romantis tapi aku nggak bisa bersabar lebih lama lagi, ini cuma free preview, acara utamanya nanti malam di restoran favoritmu.” June mengerlingkan matanya. June yang tidak sabaran.

Hanya untuk hal-hal tertentu, karena diluar semua itu June orang yang sangat sabar terhadapku. Telah seminggu aku membuatnya menunggu, sementara June senantiasa duduk di tempat yang sama menantiku aku justru berlari pada masa laluku.

Wanita makhluk yang lemah dan sangat melankoli. Terlalu melankoli hingga mereka tidak dapat melepaskan masa lalu. Termasuk diriku, yang membuatku menyumpah serapah Drupadi karena rasa egoisnya yang tinggi.

Keegoisanku masih belum tertembus ketika aku melihat teh hijau tersaji di meja dapurku selepas aku mandi, di bawahnya tertulis catatan kecil.

Teh hijau ini akan membuat moodmu lebih baik.

P.S. Sudah waktunya kamu belanja bulanan, susumu habis.

Sofa unguku telah kosong dan beberapa lampu apartemen telah dimatikan. Aku mencium aroma wangi teh hijau yang dia buatkan di cangkir elipse pemberiannya. Kubaca sekali lagi catatan kecil tersebut.

Aku terlalu serakah.

Maka, ketika kudengar ketukan di depan pintu aku segera berlari kecil. Aku terlalu serakah. Aku membatin sekali lagi, senyumku semakin lebar ketika berada di depan pintu. Di tengah malam ini aku akan mengakhiri penantiannya.

Aku membuka pintu berwarna abu-abu tersebut dengan senyum lebar.

“Malam, Dru.”

“Braja.”

***

Cerita sebelumnya:

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

Terima kasih kepada Ilmi yang mau menunggu saya mengepost cerita ini. Terima kasih 😀

Oh, ini adalah project cerita bersambung kita.

Tongkat estafet kini beralih padamu, Braja. (Maaf chapter ini Anda hanya muncul di adegan terakhir, but that’s life, man :p)

Iklan

4 thoughts on “#5 Braja dan Drupadi: Damsel in Distress

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s