#7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

“Hai, Dru.” Dia melambaikan tangan canggung, dengan suara gemetar karena menggigil kedinginan; basah kuyup karena hujan. Dia tersenyum meski tubuhnya tidak bisa menutupi rasa dingin yang menderanya, “malam, Dru. Atau aku harus bilang pagi karena ini sudah lewat tengah malam?” Dia tertawa sendiri sebelum melanjutkan kalimatnya, “mhm, boleh aku pinjam handuk?”

“Y-ya, tentu.”

“Dan kamar mandi kalau bisa.”

#7

***

“Kamu … sudah hidup dalam impianmu sekarang.” Braja meneguk tehnya.

Di coffee shop ini hanya tinggal kami bertiga. Barista yang sejak tadi mencuri pandang terhadapku menyalakan lampu coffee shop, pendar kuning chandelier yang berada di atas Braja membuat siluetnya nampak indah; untuk sesaat aku dibuat silau oleh cahaya kuning temaram yang seolah memancar untuk Braja bukan coffee shop ini.

“Dan kamu masih hidup dalam impian orang tuamu.”

Dia meneguk lagi tehnya, “Benar.” Lanjutnya, lebih untuk dirinya sendiri.

“Jadi, Anda adalah ilmuwan termuda yang masuk ke dalam tim pengembang listrik berbasis nuklir, Anda juga pendiri ilmuwan muda, organisasi non-profit untuk membantu anak-anak kurang beruntung mempelajari fisika. Apakah Anda bahagia dengan hidup Anda sekarang?” Tanganku telah bersiap di untuk mengetik semua jawabannya.

Braja memutar cangkir tehnya, dia mengedikkan bahu sembari tersenyum, “bahagia memiliki beragam konteks dan arti. Saya bahagia ketika melihat senyum anak-anak tersebut kepada saya. Saya bahagia ketika pemerintah mengijinkan pengembangan listrik berbasis nuklir karena itu akan sangat membantu Indonesia dalam hal krisis energi, nuklir, dibalik semua kengerian orang-orang terhadapnya, sebenarnya sangat ramah lingkungan.”

“Saya sangat setuju tapi yang ingin saya tanyakan,” aku menutup laptopku, mendekatkan tubuhku pada Braja, “apakah Anda bahagia sekarang?”

Braja menggeleng, “saya … tidak tahu.” Jawabnya penuh ketidaknyamanan. Aku tersenyum.

Jess menarik lenganku, untuk kesekian kalinya dia berbisik padaku, “kamu mau ngapain? Bukan itu pertanyaan buat rubrik profil, Dru!” Tapi aku menghempaskan tangannya.

“Saya dengar salah satu kegemaran Anda adalah melukis?”

Braja mengelus belakang lehernya, “Ya, saya bisa melukis.”

“Oh, Jess dia pinter banget ngelukis.” Kataku, menepuk bahu Jess, membuat Jess terkaget. “Kamu ingat lukisan di atas spanduk bekas yang kamu buat di Pedhotan dan terjual sangat mahal sampai membuatmu terlalu percaya diri dengan bakatmu hingga kamu memutuskan pergi dari tugas KKN-mu? Oh, remaja dan kelakuan sok mandiri mereka.”

“Dru …,” Jess berusaha menghentikanku.

Kami saling menatap, aku dan Braja. Lalu segalanya aku katakan begitu saja, “Dan kamu ingat hari terakhir KKN Anna, anak biologi cantik dan manis itu, bilang ke semua orang kalau aku menggoda kepala desa yang sangat tidak masuk akal untuk kumasukkan ke daftar pria-layak-digoda-Dru, dan aku hampir dihakimi masa?” Ada keterkejutan di wajah Braja saat itu, “oh aku lupa, kamu sedang mengejar mimpimu ke Bali saat itu.”

“Drupadi!” Kali ini Jess berdiri.

“Jess ini sudah lebih dari jam lima, kalau kamu mau pulang silahkan saja. Aku masih mau mengenang masa-masa kuliah.”

“Apa … itu benar?” Aku dapat merasakan suara Braja bergetar.

Aku mengangguk, “Aku punya banyak info menarik lain untukmu, kalau saja kamu mau menghubungiku dan menjelaskan semuanya. Sayangnya, kamu terlalu takut untuk mencoba.”

“Dru, cukup, kita kemari untuk wawancara bukan curhat masa lalu.” Jess menarikku. Memaksaku untuk berdiri.

“Oh, soal itu, aku lupa memberitahumu Jess, kita punya profil lain yang lebih benefit. Bu Andin baru saja menelepon.”

Kemudian aku meninggalkannya, seperti dia meninggalkanku di pelabuhan Ketapang dulu. Dia melepaskan bahunya ke sandaran kursi, dia bukan Braja, dia adalah anjing yang baru kehilangan tuannya. Dia adalah aku, di pelabuhan Ketapang menunggunya untuk kembali, berharap dia hanya bercanda ketika memutuskan untuk mengejar mimpinya dulu.

Dulu kami menulis mimpi-mimpi di kertas bekas lalu melarungnya ke sungai jernih di belakang rumah kepala desa. Dulu. Dulu kami saling belajar, aku melukis, dia menulis, aku menahan amarah, dia melepaskan amarah. Dulu.

***

Sudah sejak semenit lalu dia keluar dari kamar mandi tapi dia hanya berdiri di depan pintu. Canggung menginvasi, membuatku bahkan tidak sanggup mengangkat kepalaku. Masa lalu dan pertanyaan-pertanyaan sialan itu.

Dalam satu menit tersebut diam-diam aku melakukan observasi terhadap Braja, yang aroma cengkehnya masih berhasil menghipnotisku. Yang matanya selalu membuatku tenggelam. Dia masih sama seperti yang dulu, hanya saja, Braja yang kini kehilangan mimpi-mimpinya.

“Bra, aku tau pesonaku membuat banyak orang ingin segera mengenalku lebih dalam tapi apa kamu harus datang ke apartemenku di tengah malam, pada waktu hujan deras, dan berpura-pura pinjam kamar mandi?” Kataku di sofa ungu ketika melihat Braja telah keluar dari kamar mandi.

Dia memakai pakaian June—yang sedikit kebesaran karena June lebih tinggi darinya—dan menutupi rambutnya dengan handuk. “Mimpi. Aku ke sini karena mau mengunjungi temanku yang tinggal dua lantai di bawahmu.”

“Dan kamu mengunjunginya di tengah malam? Siapa nama temanmu, genderuwo atau Dracula?”

“Lucu sekali, Dru, aku sampai mau mati karenanya.” Dia meletakkan handuknya di punggung kursi makanku. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Itu … kalau kamu nggak keberatan kita bicara di tengah malam.”

“Kalau aku keberatan?”

“Aku bisa pulang. Ya, lebih baik aku pulang. Lelaki macam apa yang mengunjungi wanita di tengah malam, apa kata tetanggamu nanti, kan?” Dia menyeringai, meletakkan kedua tangannya di saku dengan canggung.

Sekilas aku tersenyum, memelintir rambutku yang tak lagi panjang. Kulihat langkahnya semakin membesar menuju pintu, pada sudut mataku yang lain aku meiihat teh hijau yang telah dingin di meja makan.

“Hei, Bra, aku minta maaf soal tadi sore. Aku hanya, ingin segera mengakhiri semua, kamu tau, pertanyaan yang selama ini ada di pikiranku. Pertanyaan tak penting yang seharusnya nggak perlu memenuhi kepalaku bertahun-tahun ini.”

“Aku juga!” sahutnya lebih pada berteriak, “apa aku baru saja berteriak di apartemen seseorang? Maaf.”

Aku tertawa. “Kamu belum berubah.”

“Apa kamu baik-baik saja?”

“I-iya, hanya saja ada satu satpam menjengkelkan yang nggak pernah hafal aku dan selalu meminta nomorku setiap aku lewat di depannya.”

“Bukan, maksudku, setelah Ana menuduhmu menggoda kepala desa.”

“Oh.”

“Kamu belum baik-baik saja?”

Aku mengedikkan bahu, “Aku menjadi managing editor majalah fashion, punya teman semenjengkelkan Jess, dan punya June. Ya, aku sudah baik-baik saja. Tadi sore, hanya, kamu tau ….”

“Ingin meminta jawaban dariku.” Braja mengelus lehernya dengan tangan, kebiasaan yang tak pernah berubah, “aku bisa memberimu jawaban dan mengatakan maaf seribu kali kalau kamu mau. Atau … itu bisa ditunda besok pagi.” Dia cengingisan lagi.

Aku memutar jemariku di sofa ungu. Kukira Braja akan pergi dan kembali kemari esok hari, nyatanya dia masih berdiri di depan pintu, menatapku.

“Dru, don’t you … miss us?”

***

Episode sebelumnya dari Braja dan Drupadi (eciee berasa sinetrong :P) bisa dilihat di sini:

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in Distress

#6 Braja dan Drupadi: Maybe it’s too late

Ini jelek banget, ulangi, nget. Karena saya nggak tau mau saya apakan mereka biar bisa balikan lagi. Fyuh, berantemnya lama dan baikannya gitu aja. Saya tau, saya tau. Tapi saya sudah nggak bisa mikir cara yang tepat untuk meminta maaf.

P.S. Hey, Bra, Dru’s finish. Your turn now 😀

Iklan

2 thoughts on “#7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s