Bab-Bab tak Penting: Menghitung Keberuntungan 

Sudah lama saya tidak menulis bab ini, mari kita mulai dengan Joshie, anak dengan rambut putih dan wajah berubah memerah ketika terkena matahari. Hampir tiga minggu lalu Joshie menunjukkan scan X-Ray kedua kakinya, di tengah pelajaran bahasa Inggris dan ketika teman-temannya yang lain sibuk mengurusi portfolionya.

“Miss Enya, Miss Enya pernah patah tulang nggak?” Katanya membuka pembicaraan. “Miss, tau nggak dua hari lalu aku jatuh kan dari tangga lalu aku matahin kelingking kiriku, bikin jari tengah kakiku dislokasi dan aku nggak sengaja balikin kelingking kananku yang dislokasi pakai tanganku sendiri kemarin.” Ceritanya sambil tertawa-tawa dan mata berbinar-binar (Anda terkejut? Percayalah saya punya banyak stok anak kecil ajaib yang harus saya temui setiap hari sekarang)

Saya hanya mendelik saat itu dan menjawab, “Wow, you’re awesome.”

Hanya sampai di situ? Tentu tidak, bukan Joshie namanya kalau nggak berulah dengan keliling sekolah telanjang kaki (bahkan di playground), ngomong terlalu banyak, dan nemu katak lucu dari playground lalu menunjukkannya pada saya yang mana iuuhh sekali, maksudnya katak, selucu apapun itu, ITU KATAK!!

Kemarin, ketika saya ke bawah sepulang sekolah Joshie kembali mendekati saya, “Miss, tau nggak ternyata aku juga matahin T-bonesku dan tulang belakangku, which is awesome.” Katanya, sekali lagi, sambil tertawa-tawa. Kali ini saya tidak bisa berkata apapun bahkan kata awesome atau amazing sekalipun.

Lalu ketika aku bilang aku nggak pernah mematahkan tulangku seumur hidupku dia berkata, “Kamu beruntung Miss, kalau aku ini bukan kali pertama aku matahin tulangku.” Saya hanya memutar mata, jelas sekali.

Lha wong Joshie ini kerjaannya lari-larian, nabrak sini-situ di kelas, gelantungan, dan kalau diteriakin dia malah ketawa-tawa. Di sisi lain, Joshie adalah anak yang sangat menggemaskan, semua orang suka Joshie, semua orang ingin berteman dengannya. Dia akan tertawa-tawa sendiri kalau nemu katak (entah itu di google atau dunia nyata) dia selalu berkata argh setiap saya suruh membersihkan mejanya atau menali sepatunya tapi dia tidak pernah tidak melakukan apa yang saya suruh.

Dan … dia akan diam seribu kata ketika saya memanggilnya JOSHUA dengan nada tinggi, karena halo, jika Anda dipanggil nama lengkap alih-alih nama panggilan Anda sehari-hari, itu pertanda buruk.

Sekarang, Joshie sudah kembali ke New Zealand, bersama dua adiknya yang sama lucunya dengan Joshie. Meninggalkan saya dengan kartu ucapan tulisan tangan Joshie dengan sticker bendera New Zealand di dalamnya. Oh, Joshie I will miss your suspicious smile, I will miss reminding you to tie your shoelaces, your white hair and blue eyes, your whispering voice when our class had library time, your height, and how you look like Ed Sheeran but more ganteng. Serius, dia persis Ed Sheeran tapi jauh lebih ganteng dengan rambut putih dan pundak bidang karena kesukaannya dalam berenang.

Silver lining dari bab-bab tak penting hari ini: Saya satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali lebih beruntung dari Josh. Terima kasih tulang kuat saya hingga saya menjadi orang yang lebih beruntung!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s