#9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas

ezgif.com-add-text

Perahu kertas terlarung di genangan wastafelku. Kertas ungu yang dibuat tanganku sembari tersenyum itu berjalan perlahan ke ujung lain, untuk kemudian kularungkan kembali menuju ujung lainnya.

Kita begitu lugu, aku dan dirimu, selugu perahu kertas yang menuruti aliran air. Tiba-tiba aku iri pada keluguanku yang lama kukunci. Setiap kali tanganku melarungkan kembali perahu kertas tersebut setiap kali itu pula Dru mencoba membuka dirinya dalam Dru yang masih lugu.

Jangan salahkan tulisan ataupun caraku bercerita, karena ini, bukan Dru dengan pundak tegap dan wajah tirus penuh percaya diri, ini Dru yang masih lugu, yang menggemari sastra romantis dan menjadikan puisi Sapardi sebagai bait yang wajib ada di dalam pernikahannya nanti. Dru yang itu.

Di bawah langit penuh bintang itu kita saling berkejaran dengan waktu, melihat siapa yang lebih dulu menyelesaikan perahu kertasnya. Dirimu, yang selalu serius itu, melakukannya beberapa detik lebih cepat dariku. Lalu kamu sendu, ketika aku tak memperhatikanmu melainkan perahu kertasku.

Sendumu itu menghipnotisku, kamu tahu? Sendumu melafalkan irama jantung dalam otakku.

“Beberapa hari lagi kita bakal balik ke kota, kembali dengan tugas-tugas dan meninggalkan bintang-bintang ini.” Ucapmu.

“Beberapa hari lagi.” Ulangku.

“Beberapa hari lagi.” Ulangmu.

“Iya, beberapa hari lagi.”

“Bisa berhenti mengatakan kalimat itu?”

Aku balik menatapmu, “beberapa hari lagi, kamu tahu, bukan besok atau lusa masih beberapa hari lagi, ngapain juga dipikirin. Lagipula kenapa kamu tiba-tiba sok pujangga gitu?”

Kamu menyenggol pundakku. “Aku ini seniman. Semua seniman romantis tauk.”

“Semua seniman gombalis tauk.”

“Aku seniman untuk beberapa hari ke depan.” Kamu kembali sendu, kali ini menundukkan kepalamu. Sendumu menyakitiku saat itu, kau tahu?

Dengan tangan luguku aku mendorong perahu putihmu hingga menyenggol jemari lugumu, kudorong dan kudorong hingga kamu jengah dan mengangkat tanganmu. “Tut … tuuutt ….”

“Apaan sih?”

“Perahunya mau bersandar di tanganmu, mau nyampein pesan katanya.”

Dan senyum lugumu ketika membaca kalimat yang tertera di balik lipatan perahu itu kupenjarakan dalam kenangan yang tak dapat kuhapuskan. “Makasih.”

“Makasih aja?”

“Terus maunya apa?”

“Aku ini Dru, yang sekali lirik semua pemuda desa culun di sini mengejarku sampai ke kota, Dru yang sebegitu, menuliskan kalimat itu untuk kamu yang begini, cuma makasih?”

“Oke. Apa yang kamu mau Dru-yang-begitu?”

“Kamu.” Sesingkat itu. Dru yang lugu bisa mengatakan kata itu tanpa berpikir panjang. Dru yang lugu membuatmu gelagapan hingga menghindariku pagi harinya.

“Hey, kamu yang dimau Dru-yang-begitu, mau menghindariku sampai kapan, hah?”

Kita memilin kenangan kesabaran demi kesabaran, saling berjanji bahwa satu-satu impian harus terlaksana. Semua rasanya masih disimpan rapi oleh pedhotan, melalui dinding penuh lumut pekuburan Tionghoa itu. Bagaimana kamu ingin menjadi seniman tidak hanya untuk beberapa hari itu, bagaimana aku ingin menjadi Sapardi ketika kembali ke kota.

Katamu, kamu ingin menjadikanku objek utamamu, alasan utamamu selain dua alasan utama lain untuk meneruskan impian lugumu. Kataku, kamu adalah Sapardiku. Kita begitu lugu yang sangat menjijikkan ketika kuingat kembali. Aku terharu.

Kita yang kuncup telah mekar dan terbakar matahari, kini perahu kertas itu telah usang dan ketinggalan jaman. Kini bintang tak lagi bersinar benderang di Pedhotan. Kini, aku dan kamu, memiliki beberapa hari lain yang patut dipikirkan tanpa ada diri masing-masing dalam pikiran.

Kini … apakah seperti itu?

***

Tumpukan kertas A4 hampir-hampir bertebangan jika saja aku tidak sigap menangkapnya. Apa lagi yang lebih sempurna selain deadline, klien yang senewen, Jess yang PMS, puluhan revisi, serta bu Andin yang tiba-tiba meminta meeting mengenai edisi depan malam ini! SEMPURNA! SUNGGUH!!

Rasanya bumi sudah bosan kuumpat sejak pagi ini dan supir kantor berkali-kali harus menghentikan pertanyaannya akan keadaanku di tengah kalimat akibat tatapanku padanya jalankan saja mobilnya! Itu maksud tatapanku.

“APA LAGI JESS?!!” Kataku ketika telepon telah tertempel di telingaku.

“Jangan apa lagi Jess, sama aku. Ini, mana revisinya? Udah ditunggu anak-anak, apa susahnya siiihh revisi langsung di filenya Dru?”

“Apa susahnya sih kamu nunggu beberapa menit lagi Jess? Aku. Banyak. Urusan. Makasih!” telepon kututup begitu saja. Di tengah kemacetan kota besar ini buru-buru aku memeriksa kesalahan kalimat, foto tak sesuai dan warna pilihan Jess yang terlalu kuat. Jess suka membuat masalah.

“DRU!!!” Seseorang berteriak begitu aku turun dari mobil kantor. Ketika aku berbalik aku menemukan siluet Braja, masih dalam senyum konyolnya yang terakhir kutemui sebulan yang lalu. Dia melambaikan majalahku edisi bulan ini dengan tangan kanannya. Sangat konyol dan sangat … Braja.

Segera aku memencet nomor Braja, “Bra, kamu mau ngomong sama aku?”  kataku begitu telepon tersambung di seberang sana dia tampak bingung namun masih tersenyum, konyol.

“Iya. Kamu nggak mau ngomong sama aku?”

“Kalau sekarang, nggak. Aku banyak kerjaan. Maaf, deadline dan hal lainnya. Kalau ini hal penting tunggu aku sampai pekerjaanku selesai.” Aku menjauhkan ponselku dari telinga lalu buru-buru menempelkannya lagi, “tunggu, ini bukan soal kamu menuntutku yang nggak jadi menampilkanmu di halaman profil, ‘kan? Karena aku akan balik menuntutmu.”

Di seberang dia tertawa dan hanya membalas, “aku akan menunggumu.”

***

Benar saja, Braja yang konyol menungguku hingga malam tiba. Jam dua belas lewat tiga puluh menit aku keluar dari gedung, meninggalkan Jess dengan berbagai revisi yang harus dia kerjakan. Aku harus bersiap, setidaknya mandi, sebelum bertemu bu Andin esok hari.

Dia duduk melipat kedua kakinya ke dada, menyatukan lutut dan kepalanya, di sofa ungu panjang lobby gedungku. Sungguh Braja yang menghipnotisku beberapa tahun lalu. Braja yang lugu. Di tangan kanannya masih tergenggam majalah edisi bulan ini, sementara tangan kirinya menggenggam. Aku tersipu tanpa musabab.

Dan untuk musabab yang tak jelas pula aku melakukan hal itu.

Mula-mula aku mendekatinya, lalu menyentuhkan tanganku pada pipinya hingga membuat Braja terbangun, terantuk meja kayu kemudian bersitegap berdiri. Segalanya begitu tak masuk akal, dia sangat tak masuk akal, keluguan dulu yang tak masuk akal. Akupun melakukan hal yang tak masuk akal.

Ketika tanganku melingkar pada lehernya lalu kakiku terjinjit dan kupagutkan bibirku pada bibirnya. Ketakmasukakalan tersebut berlangsung hingga belasan detik, dua tangannya yang tak kosong telah menarik punggungku mendekat padanya ketika kemasukakalan menguasaiku.

Aku mendorongnya perlahan, memutar-mutar cincin yang ada di tangan kiriku. Kepalaku tertunduk, “maaf, aku nggak seharusnya melakukan itu. Ini salah. maaf.”

Dia meraih tanganku ketika aku berbalik. Saat itulah dia mendapati cincin di tangan kiriku.

Dan aku mendapati majalah yang sejak tadi di genggamannya terbuka pada halaman berjudul Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas. Halaman yang menggantikan profil dirinya di majalah itu, halamanku. Sementara di tangan kirinya terselip kertas ungu usang yang perlahan terlepas dalam genggaman.

****

 

 

Note: Setelah sebulan, tergenang, tenggelam, dan terapung di pikiran saya dan tumpukan draft postingan blog saya akhirnya ini saya terbitkan Ilmi. (maaf sudah dibuat lama menunggu)

Do you want more? Check the previous stories here:

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

#6 Braja dan Drupadi : Maybe It’s too Late

#7 Braja dan Drupadi : The Way We Were

#8 Braja dan Drupadi: New Hope

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s