Sebuah Percakapan dengan Sukab Sebelum Menuju Senja

Saya sedang duduk di kursi besi stasiun Tugu ketika menemukan Sukab. Mudah saja menemukan Sukab. Di balik kantong bajunya saya melihat binar emas yang sungguh benderang, kemilau jingga itu mencoba untuk melepaskan diri dari kantong Sukab. Hanya saya yang melihat kemilau jingga dengan desir pasir dan deru ombak itu, karena lainnya sibuk memandangi horizon tempat rel kereta yang akan mereka tumpangi datang.

Belakangan senja tak pernah muncul, saya kira karena Sukab masih belum menunjukkan senjanya untuk Alina. Sukab berdiri di peron Negeri Senja1, rasanya karena itu juga saya memberanikan diri untuk mendekati Sukab.

“Senjamu sungguh indah.” Kata saya perlahan, saya tunjukkan senyum saya pada Sukab. Tapi si empunya Senja justru membelalak.

“Kau tidak bisa memilikinya, ini untuk Alina, carilah senjamu sendiri.” Ucapnya sembari memegangi kantongnya erat-erat. Cahaya keemasan itu redup sesaat lalu berlarian menuju celah-celah jemari Sukab, menunjukkan kemilau senja untuk Alina lagi.

Saya terkekeh, “Tenang saja, saya tidak suka senja. Beruntung sekali Alina yang mendapatkan sepotong senja darimu.”

“Senja ini untuk Alinaku. Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis2.” Sukab tersenyum pada ujung bibirnya, ah, pujangga yang terbakar asmara. Pujangga yang rela mencuri senja untuk dikirimkan pada pacarnya. “Kamu aneh, kenapa tidak suka senja?”

“Karena semua orang penyuka senja. Saya juga tidak seberapa suka hujan, karena beberapa penyair berkarib dengannya, hujan yang sendu. Lalu apa yang saya suka katamu? Saya suka fajar, karena fajar artinya kehidupan.

“Juga ada cahaya keemasan dalam fajar, debur ombak sedikit lebih membahana dari biasanya, pasir yang hangat, perahu di kejauhan, dan kilau laut serupa emas. Yang berbeda, tidak ada riuh kelam selepas itu.”

Sukab melihat jam tangannya cemas, sembari terus memegangi kantong berisi senja untuk kekasihnya, wanitanya.

“Sudah ada banyak senja di Negeri Senja. Kenapa kamu membawanya ke sana?”

Kereta menuju Negeri Senja telah datang. Tidak ada yang pernah kembali jika mereka pergi ke Negeri Senja, namun semua yang pergi tidak tampak gusar ataupun sedih, tak terkecuali Sukab. Dia makin menggebu, menemui Alina yang sungguh beruntung itu. Sebelum Sukab naik ke kereta lokomotif menuju Negeri Senja dia berbalik pada saya.

“Begitulah manusia bukan? Tidak pernah merasa cukup, sangat penuh akan diri mereka sendiri. Lagipula, Senja ini hanya untuk Alina bukan untuk melengkapi Negeri Senja.”

***

** 1: Dikutip dari cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Tujuan: Negeri Senja

2: Dikutip dari cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku (Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis)

Catatan Penulis: Kenapa menulis ini? jawabannya sederhana, agar jika waktu yang fana mempertemukan pemilik Sukab dan Alina dengan saya, saya akan memiliki bahan obrolan mengenai Sukab yang akan pergi ke Negeri Senja. Lagipula, setiap orang memiliki idola, bukan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s