Some of Us Are Human

Scott tidak ada di sana ketika ibu Stiles menghembuskan nafas terakhir. Scott tidak menyaksikan sepuluh tahun Stiles yang menangis sendirian di kamar rumah sakit sang ibu. Scott tidak menyaksikan ketika Stiles mendekap tangan ibunya sambil terus meminta maaf. Tidak ada yang menyaksikan sepuluh tahun Stiles di kamar itu, tidak juga ayah Stiles. Ayah memberantas kejahatan di kotanya.

Tapi Scott ada di sana ketika Stiles menangis di sudut kamar. Ketika Stiles terkena serangan panik berkali-kali, Scott adalah orang pertama yang menenangkan Stiles. Scott juga ada di sana ketika Stiles bergumam berkali-kali: “Aku membunuh ibuku, Scott.”

Scott ada di sana, menyaksikan sepuluh tahun Stiles perlahan dilupakan oleh ibunya. Dia menyaksikan bagaimana sang ibu menyangka Stiles akan membunuhnya dan memukuli Stiles, meminta Stiles untuk tidak menatap mata mengerikan itu padanya. Mata yang sesungguhnya adalah mata meminta belas kasihan pada sang ibu, mata penuh harap bahwa keajaiban datang dan membuat ibu kesayangannya mengingat Stiles putranya yang selalu dia ciumi setiap malam.

Scott juga ada di sana ketika Stiles perlahan menarik diri, memakai jaket tebal bernama sarkasme untuk menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa meski sesungguhnya dia sangat apa-apa.

Scott ada di sana ketika Stiles divonis terkena penyakit yang sama dengan ibunya. Scott ada di sana dan dengan satu air mata dia berkata akan melakukan apapun untuk menyembuhkan Stiles. Scott hampir mengobrak-abrik kota ketika Stiles meneleponnya di tengah malam dan berkata lemah, “tolong aku, Scott.”


Stiles ada di sana ketika orang tua Scott bertengkar. Stiles akan mengajak Scott ke rumahnya, mereka makan malam bersama keluarga Stiles, mereka tidur di tempat tidur yang sama, dan keesokan harinya mereka berangkat ke sekolah bersama; layaknya saudara.

Stiles ada di sana ketika takdir Scott berubah dari remaja biasa menjadi manusia setengah serigala. Stiles di sana, mengajari Scott cara menjadi manusia setengah serigala yang baik, dengan cara sarkasme Stiles tentunya.

Stiles ada di sana ketika Scott mencoba bunuh diri, dia bahkan menjejak bensin dan menggenggam suar bersama Scott, “kamu sahabatku Scott. Kamu saudaraku, jika kamu mau mengakhir hidupmu, mari kita akhiri bersama.”

Stiles ada di sana ketika Scott terkunci di kamar tanpa udara, dengan sekuat tenaga dia mengeluarkan Scott. Stiles ada di sana ketika Scott kehilangan Allison; cinta pertamanya.


Scott adalah pemimpin kelompok mereka, Stiles adalah pemikir. Scott pembicara yang luar biasa bagus, Stiles perencana yang sangat handal. Scott perekat, Stiles penguat.

Tapi tidak seperti Scott, Stiles hanya manusia. Manusia dengan batasan tertentu tidak seperti Scott yang tidak akan mati meski dihantam berkali-kali. Stiles manusia dengan semua kelemahan dan kesalahan pilihanya. Stiles manusia yang hanya membela dirinya.

Maka di hari hujan tersebut, hari yang tidak diinginkan Stiles, dia mengerti arti mata Scott yang tidak percaya padanya. Arti mata Scott yang menghakiminya sebagai seorang pembunuh.

Di hari hujan tersebut, untuk pertama kalinya, Stiles membela diri sebagai manusia, “Lalu aku harus apa Scott? Dia akan membunuh ayahku, aku membala diriku! Aku bukan seorang Alpha sepertimu! Aku bukan manusia setengah serigala! Sebagian dari kita harus membuat kesalahan! Sebagian dari kita harus membuat tangan kita kotor oleh darah! SEBAGIAN DARI KITA MANUSIA!!”

Tapi Scott tidak lagi menatap Stiles seperti dahulu. Dahulu, sebelum mereka bertiga (bersama Allison) harus ditenggelamkan di kubangan es untuk menyelamatkan orang tua mereka. Hal yang membuat Stiles dilingkupi kegelapan, hal yang membuat Stiles dirasuki arwah jahat dan membunuh Allison.

Scott menatap Stiles dengan cara berbeda sejak saat itu, sejak tangannya kotor oleh darah Allison. Kini, tidak hanya Allison, tapi juga oleh darah orang lain.

“Kamu tidak harus membunuhnya, Stiles.”

“Lalu apa yang kamu mau aku lakukan sekarang?”

“Kamu tidak harus membunuhnya, Stiles.”

“Katakan bahwa kamu mempercayaiku, Scott.” Scott mundur selangkah ketika Stiles akan mendekatinya, “katakan bahwa kamu percaya padaku!” Kini Stiles mengacungkan linggis dengan bercak darah pada Scott, membuat Scott semakin yakin.

Di malam hari yang basah tersebut Scott meninggalkan Stiles di tengah hujan. Meninggalkan Stiles dengan kebingungan akan sikap Scott padanya. Apa yang bisa Scott harapkan dari manusia biasa seperti Stiles?

Tapi, Stiles memang hanya manusia biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s