Always the Tone of Surprise

Karena saya terlalu over protective terhadap tokoh fiksi favorit saya dan bahkan JK Rowling tidak bisa mengubah pendapat saya. I mean, really Jo? After all this time suddenly you said you want to kill Ron Weasley on mid-season and Hermione should’ve ended with Harry years after you published the book? And the dork Rupert and Emma agree with you? How could you betrayed your own character. Poor Ron. Can I adopt him?
image

image

Dia tidak tahu langkah selanjutnya. Karena yang dia yakin ciuman di kamar rahasia itu akan menjadi ciuman terakhirnya, juga genggaman tangan terakhirnya, jadi dia tidak begitu berpkir mengenai langkah selanjutnya setelah ciuman.
Lalu perang berakhir, Hogwarts dalam proses perbaikan, dan lelaki yang dicintainya masih berkabung atas kehilangan kakak.

Perlahan dia berjalan mendekati lelaki yang menyandarkan punggungnya di pagar menara astoronomi Hogwarts, matanya menatap jauh ke lautan. Di tempat ini, rasanya, adalah satu-satunya tempat dimana kita tidak dapat melihat kehancuran, kematian, dan kesedihan.

“Sudah waktunya makan malam.” Katanya pada lelaki yang sungguh dicintainya.

“Aku belum lapar.” Matanya tetap menatap jauh ke lautan.

Dia menghela nafas panjang, “Kamu tau, aku juga.” Hermione memeluknya dari belakang. Merebahkan kepala pada punggung lebarnya.

“Aku baik-baik saja Hermione, sungguh. Kamu bisa ke Great Hall lebih dulu.” Ron berbalik. Untuk beberapa detik hanya terdengar suara nafas mereka di menara astronomi, “rasanya kamu sungguh butuh itu.” Ron mencubit pipi Hermione ketika mendengar suara perut Hermione, dia tergelak.

“Diamlah!”

Tapi Ron tetap tertawa.

***

“Kamu serius, Ronald?” Hermione menunjukkan tatapan khasnya, tipikal Hermione yang selalu marah.

“Tentu saja! Aku selalu serius tentang makanan, jadi apa namanya tadi, buillabaisse?”

Hermione memukul Ron dengan buku yang dibawanya berkali-kali, “Kamu. Sungguh. Nggak. Sensitif. Ron!”

“Hey! Ap–Hermione!”

“Kamu sadar nggak kalau ulang tahun itu peristiwa setahun sekali?”

“Sangat sadar.”

“Lalu apa ini?”

“Sweater rajutan berwarna merah marun. Oh, dan, selamat ulang tahun Hermione.”

“Tepatnya sweater milikmu yang dibuat ibumu untuk hadiah natal tahun kemarin jadi hadiah ulang tahunmu untukku!”

“Well, ya ….”

“Lupakan saja, Ron! Lupakan semua.”

“Apa maksudmu dengan lupakan semua? Kupikir itu sangat romantis kamu tahu, karena kamu bilang kamu suka bauku dan aroma shampo dari rambutku.”

“Cewek mana yang suka menciumi bau baju bekas pacarnya. Itu menjijikkan.”

“Kenapa kamu marah lagi Hermione?”

“Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku nggak marah padamu.”

***

Apa yang bisa Hermione jelaskan mengenai Ron kepada orang tuanya? Ronald Weasley.

Dia selalu memakai baju warna terang meskipun itu kontras dengan rambutnya yang sungguh merah dan bintik-bintik di wajahnya. Dia tinggi, dan dengan rambut super merahnya itu dia selalu menjadi bahan perhatian. Terutama ketika mereka berjalan-jalan di dunia muggle.

Semua orang menganggap Ron lucu, dan hanya Ron yang bisa membuatnya tertawa dengan gaya sarkastik miliknya. Hanya Ron yang tertawa akan lelucon Hermione.

Liburan musim panas di rumah keluarga Weasley selalu memberi Hermione pengetahuan baru mengenai Ron.

Kamar bersih dan Ron adalah kemustahilan. Ada hutan tersembunyi di dalam mata Ron. Ron mendengkur sangat keras, yang kemudian menjadi hal yang dirindukan Hermione. Ron tidak akan bisa tidur selepas membangunkan Harry dari mimpi buruknya, Hermione sering mendapatinya menyeduh teh tengah malam di dapur. Ron selalu duduk di sebelahnya di meja makan Weasley. Dan Ron selalu menemaninya membaca buku meski dia tertidur pada menit berikutnya.

***

Ron tidak melepas tangan Hermione ketika mereka pergi ke Australia. Di dalam kepala Hermione segalanya mudah, dia hanya harus merapalkan kata yang telah berkali-kali dia latih kemudian berkata pada kedua orang tuanya bahwa semua telah berakhir kemudian kembali ke London.

Hermione menghabiskan malam pertamanya di Australia dengan menangis di kamar mandi. Meski Hermione yakin telah merapal mantra peredam suara tapi Ron tetap menemukannya terduduk di sisi bathup dengan kening menempel pada lutut. Ron merangkul Hermione, menggenggam tangannya lalu membiarkan Hermione menangis. Tanpa kata.

***

Ron tidak dapat berkata tidak. Maka ketika orang tua Hermione memaksanya untuk menginap selama beberapa hari sewaktu liburan Ron hanya dapat mengiyakan.

“Kenapa selalu Hermione yang menghabiskan liburannya di rumah Weasley?” Ucap ayah Hermione.

Malam sebelum kedatangan Ron Hermione tidak dapat tidur, kedua tangannya terikat dan berkali-kali berucap pada sang ibu bahwa Ron tidak suka teh tanpa gula (meskipun keluarganya selalu meminum teh tanpa gula), Ron tidak memiliki pengetahuan mengenai muggle bahkan televisi dan ponsel.

Pada hari ketiga Hermione merasa hampir pingsan ketika Ron tak kunjung datang meskipun dia berkata hanya keluar sebentar untuk membeli perlengkapan mandi. Ponsel yang sengaja dibawakan Hermione untuk Ron pun tidak aktif dan bayangan Hermione akan Ron yang tergeletak tertabrak bus merah, atau ditusuk segerombolan muggle karena Ron bersikeras tidak memakai sihir memenuhi otaknya.

Ron muncul dengan tas cokelat besar di tangannya satu jam kemudian, disambut pelukan erat Hermione sambil terus memarahi Ron.

“Kamu kenapa, sih?”

“Kenapa ponsel kamu matikan?” Hermione mencium pipi Ron sebelum melepas pelukannya.

“Ponsel? Oh, barang muggle ini? Aku tidak tahu cara memakainya. Jangan bilang kamu mengkhawatirkanku?” Ketika Hermione tidak menjawab Ron berkata, “Hermione, kita pernah melawan Voldemort dan menghancurkan horcrux bersama! Dunia muggle bukan apa-apa untukku.”

Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Pikir Hermione. Karena tipikal Ron yang tidak mau menggunakan sihir pada muggle akan membawanya pada masalah, karena tipikal Ron yang berpenampilan apa adanya tanpa membawa uang muggle akan membawanya pada masalah, karena Ron selalu terlalu baik akan membawanya pada masalah.

***

Saat Hermione memakai lengan pendek yang memperlihatkan bekas luka bertuliskan mudblood Ron akan mencium bekas luka itu lalu Hermione akan mencium bekas luka di kening Ron.

“Sekarang bukan hanya Harry saja yang memiliki tanda di tubuhnya.” Canda Hermione.

“Kamu wanita terkuat yang pernah kutemui.”

“Benarkah?”

Well, setelah ibuku, professor McGonagal, dan Ginny tentunya.”

“Ron!”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s