Continue the Story Writing Challenge

Prompt 287.jpg

Lemari cokelat dari kayu di depanku bernafas. Dia mencuri nafasku dalam setiap tarikan nafasnya. Kembali ke tempat ini bukan hal yang bagus. Sesuatu, sesuatu dalam lemari yang sempat hampir membunuhku itu telah mencium bauku. Lemari itu bergerak sekarang, nafasnya keras dan tak teratur. Aku mundur ke belakang, semakin aku mundur semakin keras suara nafas lemari itu. Aku … akan mati.
Semakin aku mundur, lemari itu seolah semakin dekat denganku, menyatu dalam tenggorokanku. aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan melemper barang sekenanya ke arah pintu. Shit …. aku lupa dia lemari, bukan manusia. Dia lemari kayu yang bernafas. Aku tidak berhasil. aku sudah merapat sejajar dengan tembok, tak tahu lagi harus berlari kemana. Dalam keadaan seperti ini mungkin Tuhan bisa membantu, pikirku. Kupejamkan mata mencoba merapal doa-doa apa saja yang berhasil aku inget. Tuhan … selamatkanlah aku.

Doaku terhenti ketika sesuatu menarik kakiku. Tidak. Tidak. Aku berteriak hingga suaraku serak. Dia menarik makin kuat, aku bertahan pada kaki meja namun aku terseret oleh kekuatannya yang besar. Sesuatu menetes di atas pipiku, lengket dan menjijikkan. Nafas yang kasar berhembus di wajahku, penuh kepuasan. Kurapatkan kedua mataku. Darah tercium bercampur dengan nafasku yang kian memendek. Aku tidak bisa merasakan kakiku. Dan lolongan puas memenuhi telingaku setelahnya. Tanganku berusaha meraih sesuatu, entah apa, ketika aku berhasil meraih benda panjang yang kuat aku memukulkan padanya lalu membuka mataku. Saat itulah aku melihat deretan gigi berada tepat di atas wajahku.
Mahluk apa itu? Batinku. aku bisa melihat dengan jelas deretan gigi runcing diatas wajahku. Dia seperti tak berniat memakanku. Dia cukup puas melihatku ketakutan. aku berhasil memukul salah satu bagian tubuhnya, entah bagian mana. Dia, mahluk itu seperti monster menjijikkan yang tak mempunya bentuk tubuh layaknya manusia. Dia kembali melolong, kali ini terdengar seperti kesakitan. Dia kembali kedalam lemari kayu coklat itu, menyatu, dan kembali bernafas dengan sangat keras. Aku bernafas lega merasa mempunyai kesempatan untuk berlari dari tempat ini. Aku bergegas berdiri dan berlari menuju pintu. Aku terkejut, kakiku terhenti saat aku meginjak sesuatu yang basah, lengket, dan berbau amis. Mahluk lain bermunculan dari bawah meja, mereka berjalan merangkak dengan sangat pelan ke arahku.

“AKU AKAN MEMBUNUH ANDI KALAU AKU MATI DI SINI!!!” Kugenggam benda yang ternyata kaki meja yang patah. Andi sialan yang memaksaku untuk kembali ke rumah kecil kita.

Kini makhluk-makhluk di bawah meja itu bermunculan dari lantai, ada puluhan jumlah mereka. Mereka berjalan dengan tangan mereka, kaki mereka kecil dan melengkung, dengan kulit keriput dan mulut memenuhi separuh wajah mereka. Jika saja mata merah mereka tidak menatapku aku akan menganggap deretan gigi runcing mereka sedang tersenyum padaku. Lidah panjang mereka terjulur, meneteskan air liur yang melelehkan lantai. Kupukul satu-persatu mereka yang mencoba mendekat tapi kaki meja itu justru leleh di mulut mereka. Kakiku terjerembab sesuatu, aku terantuk pintu lemari yang kemudian terbuka di belakangku. Tanpa bisa mencerna situasi aku dilingkupi kegelapan.

 Andi menarikku keluar ruangan itu, meninggalkan berpuluh-puluh mahluk dengan lidah terjulur. Meninggalkan lemari kayu coklat yang tengah menggapai-gapai.

“Lari Arini, lari”. Teriak Andi.

Aku berlari sekuat tenaga menyusuri lorong rumah ini. Sial… Kenapa lorong ini seperti ak berujung? Aku tak pedululi aku terus berlari sampai kelelahan. Aku mengatur nafasku sambil mengamati sekelilingku. Tidak, ini bukan lorong rumah itu.

“Andi? Andi dimana kamu?” Aku baru menyadari aku berlari sendiri, tak ada Andi.
Dahulu, ketika bulan bundar di atas kamarku, kami akan menutup mata lalu membayangkan sesuatu keluar dari dalam lemari. Kemudian kami akan menantang masing-masing untuk mengunci diri di dalam lemari selama mungkin. Andi selalu memenangkan permainan itu. Karena aku terlalu takut kegelapan. Hingga suatu ketika Ana, adik kami, ikut bermain. Ana cekikikan masuk ke dalam lemari, Andi menguncinya. Sepuluh menit berlalu Ana tetap tak bersuara. Ketika Andi membuka lemari hanya ada baju di sana, tanpa Ana. Selepas itu kami selalu mendengar suara nafas lemari itu. Dia memakan Ana dan hidup karenanya. Melangkah kembali ke dalam kamar aku tak menemukan Andi, pun makhluk-makhluk yang semula hanya imajinasi kami. Kamarku dipenuhi lubang, bekas cakar, serta perabot berserakan.

“ANDI!!” Aku berteriak. Lalu dari arah lemari aku mendengar dua suara nafas bersahutan. Aku berdiri di depan lemari, menempelkan telingaku, ada dua suara di sana, keduanya terdengar ketakutan. Kuputar kunci lemari yang bergerak-gerak kecil tersebut, “Andi bukan makan malammu monster jalang!” Dengan sekuat tenaga aku membuka lemari yang gerakannya kian tak terkendali.

“Ana? Andi?” ketakutan terpancar dimata keduanya. Dinding lemari penuh dengan Darah yang terciprat kemana-mana. Dengan segera aku menarik mereka keluar.

Lemari kayu itu semakin gaduh tak terkontrol. Mahluk-mahluk dari bawah meja kembali bermunculan, puluhan, tidak ratusan, bahkan aku tak bisa menghitungnya. Mereka berjalan, merangkak, bahkan ada yang merambat ke arah kami. Aku menggenggam tangan Ana dan Andi.

“Kita harus keluar dari sini.” Kataku sambil mundur ke arah jendela. Disisi lain mahluk-mahluk itu semakin mendekat, lantai kamar menjadi penuh dengan lendir amis bercampur darah, “dalam hitungan ketiga kita lompat dari jendela.” Aku memberi aba-aba kepada mereka berdua.

“Tapi kak?” Ana terlihat ragu.

“Dengar, lompat atau kita akan mati mengenaskan dengan mahluk-mahluk menjijikkan ini” Ana semakin erat menggenggam tanganku. 1 2 3 … Aku, Ana, dan Andi melompat keluar jendela menerobos kaca.

Kita keluar, berguling-guling di rumput dingin berembun. Ana tak memalingkan muka dari rumah masa kecil kami, ini salah. Ana masih gadis mungil dengan gigi susu seperti terakhir kali kami melihatnya delapan tahun lalu.

“Kak, aku harus kembali.” Ucap Ana.

Sementara monster-monster mulut mengulurkan tangan di atas jendela. Andi melipat lutut di sebelahku, sedari tadi dia tak bersuara.

“Kak, aku harus kembali.” Ana berucap, melangkah ke dalam rumah, “mereka memanggilku.”

Aku menarik Ana hingga terjatuh, menyeretnya ke jalanan semakin menjauhi rumah, sementara Ana masih mengucapkan kalimat yang sama. Andi tetap terduduk, layaknya tak bernyawa. Memeluk erat Ana yang merengek, aku menarik kerah baju Andi dan menyeretnya.

“Bukan seperti ini … dulu aku tidak mau membayangkan seperti ini … monster di lemari itu tidak nyata.” Aku berucap. Di belakang sesuatu menggedor pintu rumah dari belakang dengan derap langkah tak sabar.

“Tidak ada monster di lemari, mana akal sehatmu Arini? Tidak ada monster di lemari. Di lemari hanya … hanya ada boneka teddy besar dengan senyum di wajahnya.” Pintu rumah yang terbanting mengejutkanku. Di atas rumput rumah tergeletak boneka teddy seukuran manusia dengan senyum di wajahnya. Gedoran pintu telah berhenti.
Aku melepas pegangan eratku kepada Ana, aku melangkah hati-hati menghampiri boneka teddy seukuran manusia itu. Tak ada yang aneh, semua seolah kembali normal. aku melihat ke atas, ke tempat monster-monster mulut itu berada, kosong. Belum hilang ke herananku, seseorang menepuk pundakku.

“Dicariin kemana-mana ternyata kamu disini? perjanjiannya kan tidak seperti itu.” Andi memprotesku karena berada dihalaman rumah, seperti tak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya.

“Monster-monster itu tadi menyerangku.” jawabku bingung.

Andi tergelak “Imajinasimu terlalu berlebihan, seperti biasa” Lanjutnya. “Monster dilemari itu tidak nyata, ayolah … itu kan hanya hayalan kita.”

“Hanya Khayalan, hanya Khayalan” aku mengulang dalam hati.

_Tamat_

Kapan-kapan nyoba lagi yuk mi?

By the way, Braja dan Drupadi akan hadir sesaat lagi :p

Iklan

One thought on “Continue the Story Writing Challenge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s