#11 Braja and Drupadi: No, We’re not Friends

Braja Drupadi.jpg

“We’re not. No, we’re not friends. I know that there’s a limit to everything but my friends won’t love me like you do.”                                                                                                                                                                                                                                                   -Ed Sheeran

***

Seharusnya aku tidak mempercayainya. Tidak. Seharusnya aku bahkan tidak berbicara dengannya. Aku mendesah keras, menjejak tanah penuh kekesalan sembari terus membayangi langkah Braja yang besar-besar di depanku.

“Kita mau ngapain di sini?” Tanyaku untuk kesekian kalinya pada Braja, yang tangan kirinya santai tergantung di saku jeansnya sementara sisi lain menggenggam senter untuk menyinari jalan. Aku membencinya.

“Mencuri perhiasan orang Tionghoa yang dikubur bersama mayatnya.” Jawabnya santai.

Aku kehilangan kesabaran. Kulemparkan sandal jepitku tepat mengenai rambut Braja yang sedari tadi dikibarkan angin, “Orang gila!” Tanpa menunggu jawaban aku berbalik pulang.

Nisan-nisan besar dengan pagar luar biasa indah ini tidak dapat menghapuskan kenyataan bahwa ini kuburan! Demi Tuhan Braja yang luar biasa gila! Dia membawaku ke kuburan Tionghoa, selepas maghrib, ketika suara kelelawar memenuhi kuburan ini bahkan aku mendengar suara anjing melolong. Tulisan-tulisan mandarin bertaburan di nisan tersebut, beberapa diantaranya terdapat foto si pemilik kuburan sedang tersenyum. Buluku makin bergidik. Kuarahkan senter yang kupegang dengan erat pada jalanan di depanku.

“Aku bercanda, Dru.” Kudengar langkah Braja mengejarku, di sela langkahnya aku mendengar cekikikan Braja yang terkenal menyebalkan itu, “kita mau ke rumah Santi, ingat?” Dia menggapai tanganku lalu menyatukan matanya dengan mataku yang mulai berair.

Kenapa Santi, si anak rajin nan pandai yang menjadi idola mahasiswa-mahasiswa seperti kami harus memiliki rumah di seberang kuburan? Kenapa dia tidak memiliki rumah di tengah kota dengan banyak lampu dan kolam renang? Kenapa aku harus setuju ikut KKN di kota paling ujung Jawa ini?

“Kenapa nggak kesana besok, sih? Besok masih belum kiamat, ‘kan?” Aku bersikeras. Di kepalaku nyamuk, serangga, dan entah apa berkeliling menimbulkan suara yang sangat mengganggu. Kakiku kotor oleh lumpur pekuburan ini.

Braja berjongkok, memakaikan sandalku yang tadi mengenai kepalanya sembari berkata, “Besok hari terakhir kita mengajar sebelum kembali ke Surabaya.”

Santi, anak kelas tiga SMP yang terancam tidak dapat melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Kami telah sepakat untuk patungan membiayai sekolah Santi, karena semangatnya terlalu besar untuk dibuang, bahkan kami dibuat malu oleh semangat Santi.

Braja melengkungkan bibir, oh betapa aku benci ketika dia melakukan itu. Terutama di tengah pemakaman ini.  Aku mengulurkan tanganku, “Tapi barengan.” Aku merangkul lengan Braja. Tak kupedulikan bahunya yang bergerak turun-naik pertanda dia sedang menertawaiku.

Setelah pemakaman kami masih harus melewati sawah untuk beberapa ratus meter sebelum sampai rumah Santi yang terdapat di pinggir hutan, Santi pernah berkata padaku bahwa kakeknya dimakamkan di halaman rumahnya, cerita yang sungguh menceriakan suasana maghrib dipenuhi serangga ini.

“Dru, lihat ke atas.”

“Ada apa? Nggak! Nggak mau!” Aku mendekap lengan Braja makin erat.

“Ada bintang, Dru.” Ucap Braja, menahan tawanya. Dia melepaskan dekapanku untuk menggenggam tanganku kemudian mengarahkan telunjuknya ke langit, “banyak bintang.”

Di atas kepala kami, matahari-matahari jauh berpendar kecil. Membentuk konstelasi yang tak kukenali, bertebaran hingga ujung horizon. Langit melukis dirinya sendiri, kata Braja. Braja menunjuk kali bintang, dia menyusuri lekuk kecil-besar kali bintang dengan tangannya sambil bercerita mengenai kisah-kisah yang aku tidak mengerti. Mulutku membentuk huruf O tanpa sadar.

“Bra …,” aku menahan nafas, “ada berapa matahari di luar angkasa?” Tanyaku.

“Milyaran.” Jawab Braja lalu kembali bercerita mengenai bintang yang paling tua. “Sejujurnya, Dru, kita juga berasal dari bintang. Bintang tertua yang meledak lalu membentuk kehidupan.”

“Darimana kamu tahu semua hal itu?”

“Aku calon ilmuwan, kamu ingat?”

“Ah, ya. Kamu seniman yang cinta ilmu pengetahuan.” Ketika tidak mendapat jawaban aku menoleh pada Braja yang memperhatikanku dalam keremangan ini dengan seksama. Wajah itu lagi, wajah yang berusaha tersenyum dengan sekuat tenaga.

“Ayo, Santi sudah nunggu kita.” Braja memalingkan muka, dan berjalan maju hingga sampai di rumah Santi.

Kami berdebat keras malam itu. Tanpa Santi, yang dikurung ibunya di dalam kamar berdinding bambu tak berpintu. Ayah dan ibu Santi tetap bersikeras untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya, alasan klasik: saya butuh Santi di sawah bukan di sekolah. Meskipun orang tua Santi hanya buruh tani.

“Benar juga, Santi lebih dibutuhkan tenaganya.” Braja menundukkan kepala. Aku ingin menghajarnya yang berkata seperti itu sebelum dia melanjutkan, “lagipula satu atau dua tahun lagi Santi akan menjadi istri seorang buruh tani lalu memiliki dua anak dan hidup di bekas kandang sapi.”

Aku memelototkan mata, menarik lengan Braja, “Maksud kawan saya ini, Santi akan memiliki masa depan lebih cerah jika dia meneruskan sekolah di ….”

“Faktanya seperti itu, karena sekolah akan membuat Santi terus bergantung pada ayah-ibunya. Kalau dia menikah maka satu beban sudah terlepas.”

“Braja!” Aku menyikut pahanya yang duduk bersilang di sebelahku. Empat mata yang duduk di depan kami telah tak bersahabat. Lantai yang diplester sederhana tanpa tikar tempat kami duduk menjadi semakin dingin.

“Lagipula seorang ibu telah mengorbankan hidupnya untuk sang anak, maka bayaran semua pengorbanan itu adalah tali kekang dengan label pilihanku adalah kewajibanmu. Tentu saja.”

“Teman saya bercanda … ya ‘kan?”

Braja menggelengkan kepalanya, wajah yang semula mengeras kini tergores kelembutan sedikit demi sedikit, lengkungan di bibir yang semula lenyap kini muncul kembali, “Maaf, saya tentu saja bercanda. Tapi kami tidak bercanda mengenai beasiswa yang kami berikan pada Santi. Penuh, bahkan Santi tidak perlu memedulikan biaya seragam.” Suaranya berubah lembut dengan tangan mencoba meraih tangan ayah Santi yang menggantung di pahanya. Ayah Santi menghempaskannya, tapi Braja tetap tersenyum.

“Kami sadar Anda sangat memerlukan Santi untuk membantu keluarga. Tapi dengan pendidikan Santi tidak hanya bisa menjadi sandaran Anda, namun juga warga desa ini, bahkan Indonesia jika perlu.” Braja membersihkan tenggorokannya, “maaf sekali lagi, tapi tidak pernah ada dalam sejarah presiden yang buta aksara.”

Ibu Santi ingin Santi menjadi presiden, itu yang pernah Santi ceritakan pada kami. Namun ayahnya ingin Santi menjadi tulang punggung keluarga, secepat yang Santi bisa.

“Malam adalah jenis kegelapan yang menakjubkan, bukan begitu?” Aku mendekap jaket yang dipinjamkan Braja beberapa saat lalu, malam semakin dingin dan bintang semakin terang di atas kepala kami.

Punggungnya tetap lurus berjalan ke depan, mengacuhkanku. Rasanya aku salah berbicara karena dia lebih pendiam dan tidak lagi menggodaku. Meski kami berhasil membujuk orang tua Santi, meski Braja adalah orang pertama yang didekap Santi begitu gadis yang umurnya satu dekade tersebut keluar kamar.

“Kamu pernah dengar wewe gombel yang suka mencuri anak-anak di tengah malam?” Kataku.

“Jangan cerita.”

“Kenapa? Kamu takut, ya?” Aku mendorong punggungnya, “jadi, wewe gombel itu—“

Braja menutup mulutku dengan tangan kanan sementara tangan kirinya merangkul tubuhku erat. Untuk sesaat dia menatapku dengan pandangan yang tak dapat kumengerti. “Aku sudah cukup kedinginan di sini, bisa kita jalan lebih cepat?”

***

“Jadi, kita akan perang gelembung sabun?” Aku mengangkat satu alisku, meminta persetujuan pada teman-teman lain yang merasa ini ide teraneh di sepanjang KKN, “di hari terakhir kita mengajar?” lanjutku.

Sebagian mengedikkan bahu tapi tampak tak peduli dengan terus mengaduk sabun dan pewarna makanan sebagian tersenyum tak sabar, dan satu orang berjingkrak-jingkrak mencoba gelembung sabun warna-warni di halaman rumah kepala desa yang kami tempati.

Bertolak belakang dengan kesenduan yang dia perlihatkan padaku tadi malam, di bawah bintang-bintang. Juga pada matanya yang tidak mau bertemu mataku pagi ini hingga harus aku bertanya apakah aku salah jika aku menginginkannya?

Dia membawa kertas ke halaman lalu membuat gelembung di atas kertas tersebut dengan berbagai warna. Berkali-kali. Gelembung-gelembung yang pecah menghasilkan lukisan warna-warni di atas kertas tersebut. Dia bahagia.

Aku menoleh pada ransel hitam yang tertata rapi di depan kamar lelaki, ransel hitam dengan coretan B di bagian depan. Si pemilik ransel masih kegirangan di halaman bersama orang-orang aneh yang telah bersamaku selama sebulan terakhir.

Ketika aku berjalan mendekatinya dia berkata, “Jangan!” Dia menjulurkan tangannya yang basah oleh sabun padaku. “Bajumu putih, nanti bisa kotor.”

Aku tersenyum tak percaya, “Alasan yang bagus, Bra.”

Alasan yang bagus. Alasan yang selalu dia pakai ketika aku berusaha berbicara padanya. Bahkan ketika acara melukis dengan gelembung sabun berhasil dengan sukses, dia tetap menjaga jaraknya padaku. Lima langkah, tidak kurang.

Halaman sekolah yang semula gersang oleh rumput kering kini basah oleh bekas gelembung sabun, menimbulkan cipratan warna-warni pada genangannya. Beberapa anak masih kegirangan dengan lukisan gelembung sabun milik mereka, mereka berusaha mengangkat kertas setengah basah tersebut dengan penuh kehati-hatian sementara baju yang mereka kenakan tak nampak lagi warna aslinya.

Beberapa anak sibuk meminta giliran untuk dipeluk oleh Braja, begitu besar magnet si pemilik ide gelembung sabun ini hingga tidak ada waktuku untukku berbicara padanya. Akhirnya aku melangkah lalu mundur, memastikan ada lima langkah di jarak kami.

“Kamu bisa jadi guru yang hebat kamu tau.” Kataku padanya. Dia masih sibuk dengan anak-anak, dengan senyumnya yang terus mengembang, dan dengan kegilaannya. Ketika dia menurunkan anak terakhir yang dipeluknya dia membuka tangannya untukku lalu buru-buru menutupnya kembali setelah sadar apa yang dia lakukan. Ya, tentu saja.

“Kamu juga.” Dia mendekat. Empat langkah. Tiga langkah. Dua langkah. Selangkah. “Setelah semua selesai … apa kita masih akan berhubungan?”

Aku mengedikkan bahu.

“Kenapa? Kamu nggak mau menghubungi teman gilamu yang paling ganteng ini?”

Teman. “Kita bukan teman,” Kataku pada akhirnya, membuat dia memelototkan matanya, “entah apa yang ada di pikiranmu tapi kita bukan teman. Teman … tidak seperti ini. Teman tidak saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Teman, tidak menginginkan seseorang untuk dirinya sendiri, seutuhnya. Seperti aku kepadamu. Kita. Bukan teman.”

***

Do you want more? Check the previous stories here:

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

#6 Braja dan Drupadi : Maybe It’s too Late

#7 Braja dan Drupadi : The Way We Were

#8 Braja dan Drupadi: New Hope

#9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas

#10 Braja dan Drupadi: A Thousand Memories

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s