Lelaki dengan Tiga Kerutan pada Ujung Bibirnya

lelaki dengan tiga kerutan pada ujung bibirnya

Aku bermimpi kau menyatakan cinta padaku malam tadi, untuk kedua kalinya. Orang mengatakan itu pertanda bahwa cepat atau lambat kita akan menyatu.

Dalam mimpiku kita sehadapan, saling menatap dan mengirim sinyal-sinyal yang terbaca dengan jelas oleh cicak hitam di atas kepalamu. Aku tersenyum. Kau tersenyum. Tidak ada penghalang diantara kita.

Tidak manusia yang kupinjami rahimnya untuk sembilan bulan. Tidak juga pemilik sperma yang menghasilkan dirimu. Kita masih sehadapan.

“Aku telah menginginkanmu, sebelum kau memakai putih abu-abu dan setelah kau mengatakan kata pertamamu padaku.” Lelaki dengan empat mata yang selalu memandang menembus jiwaku tersenyum, itulah dirimu. Tenang tak pernah diburu waktu. Kau menelanjangiku dengan matamu.

Telanjang dan malu bukan kepalang aku menunduk. Makhluk sialan bernama lelaki yang diciptakan untuk meremuk batin perempuan, itulah dirimu. Kesialanmu bukan karena dilahirkan dengan mengantungi sperma tapi karena hatimu berat atasku, yang sungguh sialan karena tak bisa membagi berat pada hatimu.

Hatiku untukmu, seutuhnya, setidaknya untuk saat ini. Karena jelmaanmu yang selalu muncul dalam dunia imajiku. Tapi maaf, hanya hatiku lelaki dengan hati berat atasku. Karena di sana aku dapat menyimpan senyum dengan tiga kerutan pada setiap ujungnya.

Maka dengan kepengecutan yang menang aku meremuk hatimu, “Aku tahu, karena akupun begitu, dan aku sungguh terharu.” Di mimpiku, aku mengutuk diriku dalam hati. “Kita berdiri pada dua sisi pusaran angin. Tuhan kita sama tapi kita menghirup angin yang berbeda.”

Aku bermimpi kau menyatakan cinta padaku. Di mimpi itu, aku meremukkan hatimu; untuk kedua kalinya.

Iklan

#11 Braja and Drupadi: No, We’re not Friends

Braja Drupadi.jpg

“We’re not. No, we’re not friends. I know that there’s a limit to everything but my friends won’t love me like you do.”                                                                                                                                                                                                                                                   -Ed Sheeran

***

Lanjutkan membaca #11 Braja and Drupadi: No, We’re not Friends

Always the Tone of Surprise

Karena saya terlalu over protective terhadap tokoh fiksi favorit saya dan bahkan JK Rowling tidak bisa mengubah pendapat saya. I mean, really Jo? After all this time suddenly you said you want to kill Ron Weasley on mid-season and Hermione should’ve ended with Harry years after you published the book? And the dork Rupert and Emma agree with you? How could you betrayed your own character. Poor Ron. Can I adopt him?
image

Lanjutkan membaca Always the Tone of Surprise

The Subjective Review: I’m Sorry, I Love You (K-drama)

Pertama saya, Enya, akan mengingatkan Anda-Anda semua yang akan membaca postingan ini bahwa ini review asli subjektif dari seorang fans yang dulu waktu pertama lihaat sinetrong Korea ini sewaktu SMP nggak bisa berhenti mikirin drama ini, sampai sekarang. Jadi, semua yang ada di postingan ini benar (menurutEnya) dan jelas keabsahannya (menurut Enya) dan tidak dibenarkan adanya kesalahan ataupun beda pendapat (menurut Enya).

Kedua, hai seluruh orang yang kenal Enya dan tahu bahwa setiap saya diceritain salah satu film bagus maka pertanyaan pertama yang akan saya tanyakan, “Cowoknya mati nggak?” Dan kalian selalu menatap saya dengan tatapan aneh. Dan, inilah alasannya saudara-saudara. Drama inilah alasannya saudara-saudara. Akting So Ji Sub di drama inilah alasannya saudara-saudara. Drama populer yang sampai dibikin versi kartunnya saking populernya tuh dramalah alasannya saudara-saudara.

Ketiga, berkat So Ji Sub dan drama terbarunya Master’s Sun saya jadi kebelet lihat drama ini lagi. Dan membandingkan Moo-Hyuk dan Jong-Woon saya jadi makin yakin Ji Sub ini aktor yang mumpuni dan aktor watak. Soalnya waktu lihat Jong-Woon saya nggak ngelihat sisa-sisa Moo-Hyuk dan mata sedihnya, begitu juga sebaliknya. Oke, oke, saya akui saya suka So Ji Sub dan postingan ini subjektif karena nggak ada yang boleh bilang Ji Sub aktingnya jelek.

Lanjutkan membaca The Subjective Review: I’m Sorry, I Love You (K-drama)

Satu Matahari

Tidak seperti anak pada umumnya, Sam tidak mengidolakan pahlawan super. Bukan Superman, bukan Batman, atau Spiderman, Sam tidak tahu semua itu. Ayah melarangnya menonton tivi, bagi Ayah menonton tivi tidak akan menambah apapun di otak kita. Alih-alih menyuruh anak-anaknya menonton tivi Ayah akan mengajari mereka berlatih ala militer. Dan Sam benci itu, lebih jauh lagi, Sam benci Ayahnya.

Lanjutkan membaca Satu Matahari