Trip To Malang: 2 Idiots

Karena karakterisasi sample skripsi saya mengharuskan saya untuk ke Malang maka saya punya banyak pengalaman baru.
Pertama: pengalaman pertama beli tiket kereta. Kalian boleh tertawa tapi kami—saya dan Dina—adalah gadis rumahan sejati yang tidak tahu dimana itu Dupak; saya, dan dimana itu jalan Dr. Soetomo; Dina.
Dan kami dengan semangat berangkat menuju stasiun gubeng baru. Gubeng sudah dibagi dua: gubeng lama dan baru. Dan kami tidak tahu kalau mau membeli tiket kereta ekonomi harus di gubeng lama. Jadi, berputar lagi ke gubeng lama. Di Gubeng lama kami jadi orang paling ndeso yang tidak pernah naik kereta dan paling panik sedunia.
Akar masalah:
Jadwal kereta Surabaya-Malang-Blitar jam 05:10-10:59 (sejak kapan perjalanan Surabaya Malang ditempuh empat jam?!)
Kami tidak mempermasalahkan empat jam perjalanan di kereta. Oke, iya! Itu permasalahan besar. Karena empat jam di kereta artinya jam kita untuk karakterisasi di UB (Universitas Brawijaya) semakin sedikit. Dan kereta paling sore datang pukul 15:30. Bagaimana bisa karakterisasi hanya lima jam? Belum ditambah naik angkot, nyasar kesana kemari. Kami panik. Saya bahkan telepon orang tua saya, memalukan memang.
Hingga akhirnya Ayah saya yang baik hati menelepon dengan tenang, “coba tanya ke loket dulu kalau ke Malang jam berapa. Ndak mungkin empat jam.”
Dan benar saja ternyata kereta sampai di Malang pukul 07:59. Yang kami lakukan selanjutnya? Jelas tertawa lebar sampai orang-orang di sekitar melihat dengan pandangan aneh. Rasanya seperti anak kecil yang menemukan boneka barbienya yang lama hilang; itulah kami.
Next day
Shubuh. Datang dua puluh menit sebelum kereta datang kami sudah bersiap-siap. Sample sudah dicetak; yang butuh waktu berjam-jam dan melatih kesabaran. Uang sudah disiapkan. Segalanya lengkap.
Kereta datang, semua berjalan lancar. Bertemu adik lucu yang dengan lugunya menerima tawaran kipas angri bird dengan peluit di ujungnya dari ibu-ibu penjual. Lalu meniupnya. Si ibu menatap anaknya was-was : jangan-ditiup-kenapa-ditiup-ah!-bodohnya-anakku.
Kami tiba di Malang. Dengan angkot yang warnanya Arema semua—biru muda—himbauan kami untuk pemkot Malang: tolong bedakan warna angkotnya, kami selaku warga pendatang pusing harus naik angkot yang mana. Tulisan AL dan LA saja sudah membuat kami bingung.
Sesampainya di gerbang UB kami—hanya saya, karena Dina sudah pernah ke sini—terkesima. Memandingkan kenapa Unair tidak punya gerbang Bali seperti ini? Kenapa Unair tidak punya trotoar batu-batu seksi ini? Kenapa Unair tidak sedingin UB? Dan kenapa-kenapa lainnya.
Sampai di tujuan; gedung fisika. Yang pertama karakterisasi adalah Dina. Dina sukses. Giliran saya. Saya sudah sangat semangat sekali. Uji tarik, print, simpan file di FD, analisis, mengerjakan Bab empat skripsi, yay! ternyata—
Sample saya tidak bisa diuji di alat UB karena kapasitas alat di UB terlalu kecil dan sample saya terlalu kuat. Saya patah hati. Sedih. Ingin menangis. Meruntuk. Menyesal. Dan sebagainya.
Tanpa pikir panjang saya menelepon dosen pembimbing dan beliau mengatakan, kira-kira seperti ini: “pasti ada kok di Malang autograph, coba cari lagi. Jangan pulang sebelum ketem ya? Di Unair juga bisa autograph tapi cari dulu di Malang.”
Oh oke. Saya tidak sampai ingin mengatakan kalau saya ke Malang naik kereta dan saya tidak tahu universitas mana yang punya autograph bahkan saya tidak tahu kemana jalan keluar UB! Saya harus tarik nafas. Tarik nafas selesai.
Karena Bapak penjaga lab itu memberi saran untuk melihat alat di FTP (fakultas teknik pertanian) siapa tahu yang di sana bisa untuk sample saya. Saya dan Dina akhirnya mencoba mencari FTP.
Tahu bagaimana rasanya main ular tangga dan selalu dapat ular? Turun, turun, turun sampai pengin muntah karena terus turun? Seperti itulah kami di UB. Berkeliling sana-sini, bertanya sana-sini dengan mengandalkan jargon, “kami dari Unair.” Maka wajah yang semula sebal dengan pertanyaan kami langsung bersemangat dan mengantarkan kami meskipun sama-sama tidak mengerti.
“Kami dari Unair.” Itu juga yang saya katakan ketika bertanya dimana kantin UB. Karena rupanya anak UB tidak suka makan tidak seperti anak Unair yang selalu punya kantin di setiap fakultas anak UB lebih nyaman dengan banyaknya colokan listrik dan gazebo cantik yang sayangnya tidak saya temui di Unair.
Kami berkeliling sampai hampir jam satu. Saya sudah akan menyerah. Jujur saja saya tidak ingin menangis tapi ketika kedua orang tua saya menelepon segalanya tumpah, saya menangis dan berharap mereka tidak sadar perubahan suara saya.
Rasanya memang benar, orang tua punya magnet kuat dalam suara mereka yang membuat kita menjadi orang paling jujur sedunia tanpa bisa mengelak.
Oh rasanya sudah terlalu panjang. Baiklah saya akhiri kisah ini dengan kesimpulan:
Baik UB jurusan fisika ataupun FST tidak memunyai alat TS yang di atas 50N. dan saya pulang bersama Dina ditemani guyonan-guyonan tak jelas karena kami sudah sangat lelah dan tertawa adalah satu-satunya belokan untuk menghindari kebosanan.

P.S. Untuk anak rumahan seperti saya perjalanan ini saya kasih rating 4/5 😀 *apa-apaan pake dikasih rating segala*