The Multiple POV of Sensitiveness

Pertama-tama di bulan Ramadan ini saya ingin mengakui sebuah kesalahan.

Kemarin (24/07/14), saya berdebat. Di Facebook. Dengan orang yang nggak saya kenal.

Ya, saya tahu itu nggak dewasa. Ya, Anda bisa menghakimi saya nggak dewasa. Dan ya, saya tahu orang yang koar-koar di media sosial biasanya dilabeli pengecut yang nggak berani di dunia nyata.

Lanjutkan membaca The Multiple POV of Sensitiveness

Selasa, 1 Juli 2014

Somebody Loves You, I Promise

He’ll be the sweetest guy you’ve ever met.

He’ll listen to every word you say about your favorite character, or songs, movies, or even just something weird about bees and skies.

He’ll wake you up every morning with kisses.

He’ll eat on every food you make, no matter how bad it tastes.

He’ll watch your eyes when he talks to you, not just your lips or your hair.

He’ll be weirder than you, much weirder but no matter how weird he gets there’s nothing you can do but smile at his stupid things.

You both will have the same weird humor and only you two will understand it.

You’ll do the most embarrassing things like dancing in the rain when Metalica blaring, screaming about inappropriate thing in public, and quoting the whole book on the train just to pass the time.

He will tell you how you always drown him with butterflies on his stomach, cliché but you love it anyways.

In the end, there’s nothing you can do but drowning with him.

And cockily he’ll say, “We’re endgame.”

He’ll come, I promise. You just have to wait, just like he’s waiting for you to come right now

A Painter, An Artist, and An Unfortunate

 Sering saya berpikir, hidup ini kadang nggak adil. Saya punya pengetahuan lebih banyak dari dia, atau saya sudah berdo’a lebih banyak dari dia tapi ujung-ujungnya dia yang dapet lebih dari saya.

Awal bulan lalu saya ke pameran seni Rising Up yang diadakan sekolah adik saya. Pameran Tugas Akhir yang diadakan di Jatim Expo inilah yang membuat saya sadar, hidup itu memang tidak adil, tapi tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Lanjutkan membaca A Painter, An Artist, and An Unfortunate

Bab-bab Tak Penting: Belajar Mengemudi

Baiklah, postingan kali ini diawali dengan Deklarasi Enya untuk Tidak Meninggalkan Blog Dalam Waktu Lama.

Hal yang melandasi deklarasi ini terbentuk tidak lain dikarenakan mitos yang berkembang bahwa blog yang telah kosong dan tidak diintip dalam waktu lama akan meninggalkan hantu yang mampir BAB di sana. Ya, karena cukup rumah tetangga saya yang berhantu dengan banyak penghuni yang ngontrak melambaikan tangan ke kamera tanpa menyelesaikan waktu ngontrak mereka, saya tidak ingin blog ini ikut dikontrak.

Oke jadi, mulai hari ini Deklarasi Enya untuk Tidak Meninggalkan Blog Dalam Waktu Lama diresmikan. Nantinya dalam tenggat waktu tertentu deklarasi ini akan meningkat menjadi Deklarasi Enya untuk Menjadi Blogger Mingguan kemudian diganti Harian, Jam-an, Menit-an, dan Detik-an.

Lanjutkan membaca Bab-bab Tak Penting: Belajar Mengemudi