New Absurd Series: Permanently Perfect

permanently perfect copy2

Hai, hai, jumpa lagi dengan pemilik blog yang jarang pulang ke blognya sendiri. Kali ini saya ingin meluncurkan cerita bersambung yang telah saya rencanakan sejak dahulu namun I’tikad baik untuk menulisnya belum ada sampai sekarang.

Lanjutkan membaca New Absurd Series: Permanently Perfect

Starr-crossed Lovers

“Kamu balikan lagi sama Nick?” kata Josh segera setelah menutup pintu apartemen. Rambutnya masih merah, itu berarti dia masih belum selesai dengan film barunya. Dia masih memakai jeans hitam yang sama seperti ketika kita terakhir bertemu sebulan lalu—apa dia pernah ganti baju sebulan terakhir?

Yang berbeda dari dirinya dari sebulan lalu hanyalah kini dia tidak tersenyum padaku, wajahnya mengeras dan dia sedang menunjukkan majalah gossip murahan dengan cover aku dan Nick berjalan-jalan di central park tiga hari lalu. Paparazzi sialan.

Lanjutkan membaca Starr-crossed Lovers

Augustus Waters Deserves A Life

“You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you.”

-Augustus Waters-

To           : John Green

From       : Enya Rima

Subject  : Augustus Waters Deserves A Life

Dear John Green, apakah anda tahu kalau sebenarnya saya ingin mengirim surat ini ke Augutus Waters? Tapi tidak jadi. Tahu kenapa? Karena anda penulis yang tidak suka melihat pembacanya senang. Karena itu saya menuliskan ini untuk anda.

Lanjutkan membaca Augustus Waters Deserves A Life

Short Review

Ada beberapa buku yang sudah saya baca liburan ini. Seperti Charlie di film The Perks of Being A Wallflower waktu ditanya gurunya, “siapa yang mau menghabiskan liburan musim panas dengan membaca?” dan Charlie satu-satunya yang angkat tangan. Saya juga begitu.

Ada banyaaaakkk buku yang sudah saya baca, sementara ini dikumpulkan untuk di short review dulu yaa 😀

Lanjutkan membaca Short Review

(Akhirnya) Membaca Teenlit: Confeito

Kebiasaan saya selesai membaca buku―yang sungguh samat teramat disukai―pasti langsung bikin surat yang isinya tentang si tokoh fiksi dan pengarangnya yang sangat hebat, di novel ini saya belum niat bikin surat untuk tokoh ataupun penulisnya. Ya, mohon dimaklumi sudah luamaa saya tidak lagi baca teenlit.

Apalagi setelah membaca buku ini sudah keduluan baca ronggeng dukuh paruk dan phantom of the opera. Serius, buku sebelum baca memengaruhi minat anda pada buku yang akan anda baca.

Lanjutkan membaca (Akhirnya) Membaca Teenlit: Confeito

Surat Untuk Peeta Mellark

“You love me, real or not real?”

“real.”

Peeta, Peeta yang baik, Peeta yang tulus, Peeta yang tergila-gila dengan roti dan lukisan, Peeta yang peka, Peeta yang menjadikan kekerasan jalan terakhir, aku menulis ini untukmu.

Lanjutkan membaca Surat Untuk Peeta Mellark

Yang Terhormat Presiden Snow, Presiden Panem.

You know, you could live a thousand lifetimes and not deserve him.” 

Bagaimana rasanya menjadi presiden Panem? Menyenangkan? Dan kukira Capitol sangat senang memunyai presiden seperti anda. Tapi bagaimana dengan ke-13 distrik, ups maksud saya ke-12 distrik lainnya? Apa mereka merasakan hal yang sama?

Lanjutkan membaca Yang Terhormat Presiden Snow, Presiden Panem.