Sebuah Percakapan dengan Sukab Sebelum Menuju Senja

Saya sedang duduk di kursi besi stasiun Tugu ketika menemukan Sukab. Mudah saja menemukan Sukab. Di balik kantong bajunya saya melihat binar emas yang sungguh benderang, kemilau jingga itu mencoba untuk melepaskan diri dari kantong Sukab. Hanya saya yang melihat kemilau jingga dengan desir pasir dan deru ombak itu, karena lainnya sibuk memandangi horizon tempat rel kereta yang akan mereka tumpangi datang.

Lanjutkan membaca Sebuah Percakapan dengan Sukab Sebelum Menuju Senja

#9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas

ezgif.com-add-text

Perahu kertas terlarung di genangan wastafelku. Kertas ungu yang dibuat tanganku sembari tersenyum itu berjalan perlahan ke ujung lain, untuk kemudian kularungkan kembali menuju ujung lainnya.

Kita begitu lugu, aku dan dirimu, selugu perahu kertas yang menuruti aliran air. Tiba-tiba aku iri pada keluguanku yang lama kukunci. Setiap kali tanganku melarungkan kembali perahu kertas tersebut setiap kali itu pula Dru mencoba membuka dirinya dalam Dru yang masih lugu.

Lanjutkan membaca #9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas

Apa Kabar, Cinta Pertama?

Credit to owner

Apa kabar? Apakah kamu sudah menemukan cinta lain yang kamu beri nama cinta pertama? Karena untukku, itu kamu.

Meja panjang yang sengaja ditata oleh pelayan restoran masih sepi, hanya ada aku, Jess, , dan kamu. Kita duduk bersebelahan, saling bercanda mengenang masa lalu. Ketika Jess pamit ke kamar mandi barulah aku menyadari betapa kita sungguh-sungguh dalam membuat jarak lebar diantara dua kursi yang hampir menempel satu sama lain ini.

Lanjutkan membaca Apa Kabar, Cinta Pertama?

Bab-Bab tak Penting: Menghitung Keberuntungan 

Sudah lama saya tidak menulis bab ini, mari kita mulai dengan Joshie, anak dengan rambut putih dan wajah berubah memerah ketika terkena matahari. Hampir tiga minggu lalu Joshie menunjukkan scan X-Ray kedua kakinya, di tengah pelajaran bahasa Inggris dan ketika teman-temannya yang lain sibuk mengurusi portfolionya.

Lanjutkan membaca Bab-Bab tak Penting: Menghitung Keberuntungan 

#7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

“Hai, Dru.” Dia melambaikan tangan canggung, dengan suara gemetar karena menggigil kedinginan; basah kuyup karena hujan. Dia tersenyum meski tubuhnya tidak bisa menutupi rasa dingin yang menderanya, “malam, Dru. Atau aku harus bilang pagi karena ini sudah lewat tengah malam?” Dia tertawa sendiri sebelum melanjutkan kalimatnya, “mhm, boleh aku pinjam handuk?”

“Y-ya, tentu.”

“Dan kamar mandi kalau bisa.”

#7

Lanjutkan membaca #7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in Distress

Suara melankoli hujan yang turun di luar bertabrakan dengan suara adukan sendokku di cangkir kopi pemberian June beberapa tahun lalu, cangkir yang lebih mirip elipse daripada bulat sempurna. June membuatnya sendiri, June suka menghadiahkan hal-hal yang dibuatnya sendiri, sangat artistik dan klasik.

damsel in distress fix

Lanjutkan membaca #5 Braja dan Drupadi: Damsel in Distress