Some of Us Are Human

Scott tidak ada di sana ketika ibu Stiles menghembuskan nafas terakhir. Scott tidak menyaksikan sepuluh tahun Stiles yang menangis sendirian di kamar rumah sakit sang ibu. Scott tidak menyaksikan ketika Stiles mendekap tangan ibunya sambil terus meminta maaf. Tidak ada yang menyaksikan sepuluh tahun Stiles di kamar itu, tidak juga ayah Stiles. Ayah memberantas kejahatan di kotanya.

Lanjutkan membaca Some of Us Are Human

Sebuah Percakapan dengan Sukab Sebelum Menuju Senja

Saya sedang duduk di kursi besi stasiun Tugu ketika menemukan Sukab. Mudah saja menemukan Sukab. Di balik kantong bajunya saya melihat binar emas yang sungguh benderang, kemilau jingga itu mencoba untuk melepaskan diri dari kantong Sukab. Hanya saya yang melihat kemilau jingga dengan desir pasir dan deru ombak itu, karena lainnya sibuk memandangi horizon tempat rel kereta yang akan mereka tumpangi datang.

Lanjutkan membaca Sebuah Percakapan dengan Sukab Sebelum Menuju Senja

#7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

“Hai, Dru.” Dia melambaikan tangan canggung, dengan suara gemetar karena menggigil kedinginan; basah kuyup karena hujan. Dia tersenyum meski tubuhnya tidak bisa menutupi rasa dingin yang menderanya, “malam, Dru. Atau aku harus bilang pagi karena ini sudah lewat tengah malam?” Dia tertawa sendiri sebelum melanjutkan kalimatnya, “mhm, boleh aku pinjam handuk?”

“Y-ya, tentu.”

“Dan kamar mandi kalau bisa.”

#7

Lanjutkan membaca #7 Braja dan Drupadi: The Way We Were

Braja dan Drupadi #1: Man From the Past

Ahem. Setelah lama sekali saya tidak memposting di blog kali ini saya berkolaborasi dengan Ilmi untuk membuat cerita bersambung. Simple sih alasannya, biar saya sering ngeblog aja. Dan dari dulu saya emang ingin kolaborasi bareng teman sesama blogger.

Jadi, setelah dipaksa dan agak setengah hati dengan memunculkan sticker beruang garuk-garuk tembok favoritnya akhirnya ilmi meminang kolaborasi saya. Maaf ya Ilmi agak maksa :p

Saya juga tidak tahu cerita ini mau dibawa kemana. Yang pasti Ilmi akan menjadi POV lelaki dan saya yang akan menjadi POV perempuan.

Setiap minggu bergantian saya dan Ilmi akan melanjutkan cerita ini. Judul sementaranya “Braja dan Drupadi” ngek. Judulnya klise banget. Tapi seiring dengan berjalannya waktu nanti juga nemu judulnya.

Dan saya yang mengawali ceritanya: Dari sudut pandang Drupadi.

Selamat menikmati. Dan sampai jumpa minggu berikutnya dengan sudut pandang Braja.

***

Lanjutkan membaca Braja dan Drupadi #1: Man From the Past

New Absurd Series: Permanently Perfect

permanently perfect copy2

Hai, hai, jumpa lagi dengan pemilik blog yang jarang pulang ke blognya sendiri. Kali ini saya ingin meluncurkan cerita bersambung yang telah saya rencanakan sejak dahulu namun I’tikad baik untuk menulisnya belum ada sampai sekarang.

Lanjutkan membaca New Absurd Series: Permanently Perfect

Day 1 Song Literature: Apologize (One Republic)

Maaf. M-a-a-f. M A A F. Biar kukatakan padamu, sshh, diam dan biar kukatakan padamu, ada empat tipe orang mengucapkan maaf:

Pertama, orang yang terlalu sopan hingga melihat lawan bicara saja dia akan meminta maaf. Kedua, orang yang menyukai mengucapkan maaf hingga lupa dengan maknanya—pada dasarnya mereka orang menyebalkan—menyela pembicaraan orang, maaf. Menyerobot antrian, maaf. Mengambil makanan orang tanpa ijin, maaf. Ketiga, orang yang sangat-sangat sulit meminta maaf dan seringnya mengucapkan, aku nggak bermaksud kok, itu salahmu. Dan keempat, kamu, ya, kamu.

Lanjutkan membaca Day 1 Song Literature: Apologize (One Republic)